UNDIP, Semarang (26/1) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir melalui berbagai inovasi. Kali ini peneliti UNDIP, Prof. Dr. Ir. Munasik, M.Sc. menciptakan BHUMI (Bangunan Hunian Rumah Ikan), sebuah rumah ikan buatan berbahan beton modular ramah lingkungan yang dirancang sebagai solusi alternatif membantu pemulihan habitat laut.
Inovasi ini menjadi bentuk kontribusi UNDIP dalam mengatasi problematika lingkungan laut yang semakin terdegradasi dengan memanfaatkan limbah industri.
Sebagaimana diketahui, banyak perairan di Indonesia, termasuk Laut Jawa, telah mengalami kondisi semakin rusak. Degradasi terumbu karang dan habitat pendukungnya membuat ikan kehilangan ruang penting untuk berlindung, bertelur, dan mencari makan. Dalam kondisi tersebut, rekayasa habitat melalui rumah ikan buatan menjadi salah satu pendekatan yang dapat dilakukan sambil menunggu proses restorasi alami.
BHUMI merupakan hasil kolaborasi UNDIP dengan PT Bhumi Jati Power (BJP) dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Selain mendukung pemulihan ekosistem laut, inovasi ini juga memanfaatkan limbah industri berbasis FABA secara bertanggung jawab, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Proses pemasangan BHUMI
Uji coba BHUMI dilakukan di dua lokasi perairan Jepara, yaitu di Teluk Awur (dekat pantai) dan Karang Bokor (sekitar 5 km dari pantai). Pemantauan dilakukan dua kali, pada Agustus dan Oktober 2025, dan menunjukkan bahwa rumah ikan buatan mulai berfungsi sebagai habitat hidup hanya dalam waktu dua bulan.
Di Karang Bokor, delapan unit struktur BHUMI telah dihuni oleh ratusan ikan dengan tingkat keanekaragaman yang terus meningkat. Komunitas ikan juga mengalami pergeseran dari dominasi ikan kecil yang cepat berkolonisasi menuju kelompok ikan demersal seperti kakap dan kerapu, menandakan habitat buatan mulai stabil dan kompleks.
Sementara itu, di Teluk Awur, jumlah dan keanekaragaman ikan lebih rendah. Namun lokasi ini justru didominasi ikan-ikan juvenil, yang menunjukkan fungsi BHUMI sebagai nursery ground atau area asuhan bagi ikan muda. Perbedaan ini menegaskan bahwa karakter lokasi sangat memengaruhi respons ekologis rumah ikan buatan. Beberapa jenis ikan yang terpantau ada di terumbu karang buatan ini diantaranya Ikan Pomacentriid dan Siganid, ikan beseng dan ikan beronang, Ikan Lutjanid, ikan kakap, Ikan Chaetodontidae, kepe-kepe monyong, dll

Ikan Chaetodontidae, kepe-kepe monyong tinggal di BHUMI
Tidak hanya ikan, BHUMI juga mulai dihuni biota lain seperti bulu babi, teripang, kepiting, hingga nudibranch di Karang Bokor. Kehadiran organisme sensitif tersebut menjadi indikator bahwa kualitas mikrohabitat di sekitar struktur relatif stabil.
Prof. Dr. Ir. Munasik, M.Sc., menjelaskan bahwa inovasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan terumbu karang alami. “BHUMI kami rancang sebagai jembatan ekologis. Ia menyediakan ruang hidup sementara bagi ikan dan biota laut sambil menunggu proses pemulihan alami berlangsung,” ujarnya.
Perbedaan hasil antara Karang Bokor dan Teluk Awur memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pemilihan lokasi berbasis data oseanografi sebelum pemasangan rumah ikan buatan. “Kualitas perairan, kejernihan air, dan tekanan aktivitas manusia sangat menentukan kecepatan dan stabilitas kolonisasi biota. Itu sebabnya pendekatan berbasis sains menjadi kunci,” katanya
Ia juga menekankan bahwa pemanfaatan beton FABA dalam BHUMI menunjukkan bahwa limbah industri dapat menjadi solusi ekologis jika dirancang dengan benar. “Ini contoh bagaimana inovasi material, riset ilmiah, dan tanggung jawab industri bisa berjalan bersama,” tambahnya.
Ke depan, Prof. Munasik menegaskan perlunya pemantauan jangka menengah hingga panjang selama 1–2 tahun untuk memastikan stabilitas ekosistem yang terbentuk. Selain itu, pengelolaan dominasi bulu babi serta penerapan zonasi terbatas di sekitar BHUMI diperlukan agar habitat dapat berkembang tanpa tekanan penangkapan berlebih.
Melalui inovasi BHUMI, UNDIP kembali menunjukkan perannya dalam menghadirkan solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan lingkungan pesisir. Sinergi antara sains, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menuju laut Indonesia yang lebih sehat dan berkelanjutan. (Komunikasi Publik/ UNDIP/ Kontributor. Munasik/ ed. Nurul)






