UNDIP, Semarang (28/1) – Universitas Diponegoro (UNDIP) hari ini kembali mengukuhkan 3 (tiga) Guru Besar dalam rangkaian acara Upacara Pengukuhan 18 Guru Besar UNDIP yang berlangsung mulai tanggal 26 Januari s.d. 30 Januari 2026 di gedung Prof. Sudarto, S.H., Kampus UNDIP Tembalang. Pada hari ketiga ini Guru Besar yang dikukuhkan, antara lain yaitu Prof. Dr. Istna Mangisah, S.Pt., M.P. (FPP); Prof. Dr.Eng. Achmad Widodo, S.T., M.T. (FT); dan Prof. Dr. Diana Puspita Sari, S.T., M.T. (FT).
Pada upacara pengukuhan ini, masing-masing Guru Besar menyampaikan pidato ilmiahnya. Prof. Dr. Istna Mangisah, S.Pt., M.P. yang memiliki kepakaran di bidang Evaluasi Nutrisi dan Pakan Unggas Pedaging, membawakan orasi ilmiah yang berjudul “Enkapsulasi Imbuhan Pakan Alami sebagai Solusi Produksi Daging Unggas yang Aman, Sehat, dan Berkelanjutan”. Beliau menjelaskan bahwa Peningkatan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pangan yang aman mendorong sistem produksi unggas yang tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.
Unggas merupakan sumber protein hewani strategis, namun penggunaan jangka panjang Antibiotic Growth Promoters (AGP) menimbulkan risiko residu dan resistensi antimikroba sehingga mendorong peralihan ke imbuhan pakan alami seperti probiotik, prebiotik, sinbiotik, fitobiotik, dan acidifier. Imbuhan ini bekerja melalui peningkatan kesehatan usus, keseimbangan mikroba, efisiensi nutrien, dan sistem imun, sehingga mampu mempertahankan performa produksi tanpa residu berbahaya. Metode enkapsulasi dengan spray drying dan freeze drying menyebabkan imbuhan pakan alami memiliki stabilitas, viabilitas, dan bioavailabilitas yang lebih baik, sehingga optimal dalam meningkatkan kesehatan dan performa unggas.
Prof. Istna menambahkan bahwa pemanfaatan sumber daya hayati lokal Indonesia sebagai bahan baku imbuhan pakan alami semakin memperkuat arah pembangunan perunggasan berkelanjutan. “Integrasi kesehatan usus, inovasi imbuhan pakan alami, dan teknologi enkapsulasi adalah arah baru produksi unggas modern yang berkontribusi pada kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan,” ungkapnya
Sementara itu, Prof. Dr.Eng. Achmad Widodo, S.T., M.T. yang memiliki kepakaran di bidang Vibration & Machine Diagnostic, menyampaikan pidato ilmiah yang berjudul “Diagnosis dan Prognosis Berbasis Pembelajaran Mesin untuk Perawatan Sistem Rekayasa di Masa Depan”. Perkembangan industri modern ditandai oleh meningkatnya kompleksitas sistem rekayasa serta tuntutan keandalan dan kontinuitas operasi yang semakin tinggi, khususnya di sektor energi dan manufaktur. Gangguan kecil pada mesin dan peralatan industri dapat berdampak signifikan terhadap biaya, keselamatan, dan keberlanjutan produksi, sehingga pendekatan perawatan konvensional yang bersifat reaktif dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan tersebut.
Menjawab tantangan tersebut, pengembangan teknologi diagnosis dan prognosis berbasis pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan diangkat sebagai solusi strategis untuk perawatan sistem rekayasa di masa depan. Pendekatan ini memanfaatkan data besar yang dihasilkan oleh sistem industri modern, baik data sensor maupun data historis non-sensor, untuk mendeteksi gangguan secara dini, mendiagnosis penyebab kerusakan, dan memprediksi sisa umur pakai aset secara akurat melalui metode pembelajaran mesin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem diagnosis dan prognosis yang dikembangkan mampu mengidentifikasi degradasi kinerja mesin sejak tahap awal dengan tingkat keandalan yang baik. “Teknologi ini membuka jalan menuju transformasi dari perawatan reaktif menjadi prediktif dan selanjutnya perawatan preskriptif dan akhirnya perawatan kognitif, dimana mesin tidak hanya memprediksi kerusakan tetapi merekomendasikan tindakan terbaik berdasarkan risiko, biaya, dan keselamatan,” ungkap Prof. Achmad Widodo.
Selanjutnya, Prof. Dr. Diana Puspita Sari, S.T., M.T. dengan kepakaran di bidang Sustainable Supply Chain, memaparkan pidato berjudul “Manajemen Rantai Pasok Berkelanjutan sebagai Pilar Pencapaian Keunggulan Kompetitif Industri”. Rantai pasok di Indonesia menghadapi tantangan besar akibat ketidakpastian global, krisis iklim, tuntutan standar keberlanjutan internasional, inefisiensi logistik, tingginya konsumsi energi, dan lemahnya pengelolaan limbah dari hulu ke hilir. Dalam konteks ini, Manajemen Rantai Pasok Berkelanjutan (MRPB) menjadi pendekatan strategis untuk menjawab tantangan ekonomi, lingkungan, dan sosial secara simultan melalui integrasi prinsip keberlanjutan pada seluruh tahapan rantai pasok.
Penerapannya mencakup desain produk berkelanjutan, pemilihan bahan baku, proses produksi dan distribusi rendah emisi, hingga pengelolaan akhir masa pakai melalui ekonomi sirkular dan reverse logistics, yang didukung teknologi seperti IoT, AI, big data, dan blockchain. Namun, implementasi di Indonesia masih terkendala fragmentasi data, keterbatasan teknologi UMKM, rendahnya literasi keberlanjutan, dan minimnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan, sehingga pengembangan ke depan perlu mengedepankan pendekatan terintegrasi, lintas disiplin, dan kemitraan multipihak untuk memperkuat daya saing industri nasional.
“Timbulnya berbagai tantangan dalam implementasi MRPB sehingga dibutuhkan pendekatan transdisipliner dan dukungan kebijakan yang kuat untuk memastikan transformasi industri Indonesia berlangsung secara efisien, Tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Prof. Diana Puspita Sari.








