Mahasiswa Sekolah Vokasi UNDIP Kembangkan Biocoolant dari Limbah Gliserol Berbasis AI

UNDIP, Semarang (27/3) – Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menunjukkan inovasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan. Kali ini, mahasiswa Sekolah Vokasi UNDIP berhasil mengembangkan produk pendingin industri ramah lingkungan (biocoolant) berbasis limbah gliserol dengan dukungan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Siti Hibatirrohmah, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Sekolah Vokasi UNDIP. Ia mengolah gliserol—limbah sampingan dari produksi biodiesel—melalui metode pemurnian menggunakan teknologi ultrafiltrasi membran.

Melalui riset ini, gliserol yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi berupa biocoolant yang lebih ramah lingkungan. Produk ini diproyeksikan dapat menjadi alternatif pengganti bahan pendingin industri berbasis kimia sintetis yang selama ini masih bergantung pada sumber daya fosil. Siti mengatakan, melalui pendekatan ilmiah yang terstruktur, ia mempelajari bagaimana kontaminan seperti metanol dan asam lemak dapat dipisahkan dari gliserol menggunakan sistem membran ultrafiltrasi.

Keunggulan riset ini terletak pada integrasi teknologi kecerdasan buatan dalam proses pemurnian. AI dimanfaatkan untuk menganalisis parameter proses secara real-time, mengoptimalkan kinerja membran, serta memprediksi tingkat kemurnian gliserol secara lebih akurat.

Dengan pendekatan tersebut, proses pemurnian tidak lagi bergantung pada percobaan manual semata, melainkan didukung oleh analisis data yang presisi dan adaptif. Riset ini menargetkan tingkat kemurnian gliserol mencapai hingga 93,7 persen.

Pemanfaatan limbah gliserol sebagai bahan dasar biocoolant membuka peluang besar dalam pengembangan teknologi industri yang lebih berkelanjutan. Selain memberikan nilai tambah secara ekonomi, inovasi ini juga berkontribusi dalam mengurangi dampak lingkungan akibat penggunaan bahan berbasis fosil.

Sistem pendingin yang dihasilkan diproyeksikan lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan dibandingkan dengan sistem pendingin konvensional.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Sekolah Vokasi UNDIP mampu memainkan peran strategis dalam mendorong transformasi industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan dan berbasis teknologi.

Temuan ini merefleksikan komitmen Universitas Diponegoro dalam membumikan UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat, melalui riset inovatif yang menjembatani keunggulan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri.(Komunikasi Publik/ Sekolah Vokasi/ Ed. Nurul)

Share this :