Hari Bipolar Sedunia: UNDIP Perkuat Ruang Aman dan Dukungan Kesehatan Mental Mahasiswa

UNDIP, Semarang (1/4) – Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Unit Pelaksana Teknis Layanan Konsultasi, Disabilitas, Penegakan Disiplin dan Etika Mahasiswa (UPT LKDPDEM) menyelenggarakan kegiatan strategis bertajuk “Bipolar Awareness: Dari Stigma ke Dukungan”. Agenda yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Bipolar Sedunia ini dilaksanakan pada Rabu, 1 April 2026, bertempat di Hall ICT Lantai 5, Tembalang, acara dimulai pukul 13.00 WIB. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman civitas academica dalam mengoptimalisasi layanan serta dukungan bagi mahasiswa dengan gangguan bipolar di lingkungan universitas.

Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNDIP, Edy Surahmad, S.Pd., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa keberhasilan akademik mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesejahteraan mentalnya. Direktur Kemahasiswaan dan Alumni menyampaikan laporan mengenai pentingnya peran aktif seluruh elemen kampus dalam menciptakan ruang aman.

“Diperlukan peran serta seluruh civitas akademika dan tenaga kependidikan dalam memberikan layanan kepada mahasiswa bipolar di lingkungan Universitas Diponegoro agar tantangan emosional tidak menjadi penghalang prestasi.” ungkapnya.

Sesi pemaparan materi pertama menghadirkan dr. Fanti Saktini, M.Si.Med., Sp.K.J., AHK, dosen FK UNDIP sekaligus konselor Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND), yang mengulas topik “Let’s Fight The Label: Unlocking and Walking Together Through The Stigma“. dr. Fanti menjelaskan secara komprehensif bahwa gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai dengan perubahan suasana hati ekstrem, mulai dari episode mania hingga depresi. dr. Fanti menegaskan bahwa diagnosis yang tepat melalui wawancara klinis dan dukungan terapi seperti psikoterapi serta perubahan gaya hidup adalah kunci pemulihan.

“Stigma adalah sikap negatif yang membuat orang menyembunyikan perjuangannya; kita harus menormalisasi terapi dan bicara terbuka untuk menghentikan rasa takut dihakimi.” tegasnya.

Materi kedua disampaikan oleh Anis Luthfiyah Rumengan, S.Psi., M.Psi., konselor dan bekerja di DP3AP2KB Kota Yogyakarta, dengan topik “You Are Seen: Living and Learning with Bipolar“. Anis Luthfiyah memberikan perspektif praktis mengenai munculnya gejala klinis yang sering kali memengaruhi fungsi personal dan akademik mahasiswa. Anis menekankan pentingnya empati dan sistem pendukung yang peka terhadap tantangan spesifik penyintas bipolar, seperti manajemen energi dan konsistensi belajar.

“Mendengarkan tanpa menghakimi dan menanggapi perasaan dengan serius adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa diberikan oleh lingkungan sekitar agar mereka merasa tetap berdaya,” jelasnya.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, dihadiri oleh jajaran Wakil Dekan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dari berbagai fakultas dan sekolah di lingkungan UNDIP. Dalam sesi diskusi interaktif, para peserta mendalami strategi implementasi dukungan konkret untuk mereduksi stigma di kalangan rekan sebaya. Agenda ini menjadi wadah edukasi supaya mahasiswa bipolar tidak merasa terisolasi saat menghadapi fase-fase sulit dalam masa studinya.

Melalui penyelenggaraan Bipolar Awareness ini, Universitas Diponegoro berharap dapat menjadi pelopor dalam mewujudkan kampus yang ramah kesehatan mental di Indonesia. Sinergi antara tenaga kependidikan, dosen, dan mahasiswa menjadi faktor krusial agar layanan konsultasi dan penegakan disiplin tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta keadilan. Upaya berkelanjutan ini merupakan langkah nyata dalam membangun integritas institusi yang inklusif, selaras dengan semangat UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat. (Komunikasi Publik/UNDIP/Riri)

Share this :