TEP UNDIP Perkuat Kapasitas Petani Woslay lewat penyuluhan lapangan bersama pakar agronomi.

TEP UNDIP Perkuat Kapasitas Petani Woslay Hadapi Kekeringan

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (12/10) – Menghadapi keterbatasan irigasi dan kondisi tanah yang menjadi tantangan pertanian, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) bersama para akademisi dan pemangku kepentingan memperkuat kapasitas petani di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Rabu (16/9) di kediaman Sybur, Jalur 3 Satuan Permukiman (SP) 2 Kampung Woslay.

Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah daerah dan aparat keamanan, akademisi dan pakar riset, tokoh adat (Ondoafi dan kepala keret), perwakilan tokoh perempuan, serta puluhan perwakilan petani dari enam kelompok tani di SP 1 dan SP 2 Woslay untuk membahas persoalan budidaya, ketersediaan air, dan pengelolaan lahan.

TEP UNDIP Perkuat Kapasitas Petani Woslay Melalui Pendekatan Sains dan Adat

Ketiadaan jaringan irigasi teknis yang menjangkau areal persawahan warga di Jalur 3 SP 2 membuat lahan-lahan pertanian sering kali terlantar saat musim kemarau tiba. Sementara pada musim hujan, limpasan air yang tidak terkelola justru berisiko merusak perakaran tanaman. Berangkat dari kondisi tersebut, TEP UNDIP menghadirkan pendekatan berbasis sains yang tidak hanya berfokus pada sarana air, tetapi juga pada edukasi budidaya dan penguatan kelembagaan lokal.

Salah satu materi utama disampaikan Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc., pakar agronomi senior dari Universitas Hasanuddin yang dihadirkan dalam kerangka kolaborasi pakar. Dalam pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Prof. Musa membahas langkah-langkah praktis budidaya padi dan jagung yang disesuaikan dengan kondisi lahan setempat.

Prof. Musa menjelaskan bahwa keasaman tanah dengan pH 5 menjadi penghambat utama tanaman dalam menyerap unsur hara secara optimal. Untuk mengatasi kendala tersebut, petani diajarkan teknik pembenahan tanah melalui penaburan kapur dolomit dan pemanfaatan bahan organik lokal, seperti sekam padi bakar dan kompos. Aplikasi bahan-bahan ini terbukti efektif menetralisasi pH tanah sekaligus memperbaiki struktur tanah berpasir/berbatu agar mampu menyimpan air dan nutrisi lebih lama.

Pemaparan tersebut semakin diperkaya oleh pandangan pakar Dr. Adi Prasetyo, M.Si., yang menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat adat dan kelembagaan lokal dalam setiap tahapan pembangunan. Dr. Adi Prasetyo, yang biasa di sapa Tejo, menekankan bahwa keberlanjutan infrastruktur fisik seperti embung sangat bergantung pada tata kelola partisipatif berbasis lokal (polycentric governance) yang mengintegrasikan kesepakatan adat Ondoafi, aturan kelompok tani, serta peran kelembagaan masyarakat.

Penerapan materi kemudian dilakukan di lahan demplot percontohan seluas 50 x 45 meter milik Sybur di Jalur 3 SP 2. TEP UNDIP mempraktikkan secara langsung tata cara penanaman bibit jagung sekaligus mendemonstrasikan teknik budidaya yang telah dipaparkan. Untuk tanaman padi varietas Mentik Susu Wangi dan Inpari 32, petani diarahkan menerapkan metode pindah tanam (transplanting) dari tray persemaian menggunakan pola tanam tegel teratur berjarak 25 x 25 cm. Sedangkan untuk tanaman jagung hibrida, diterapkan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan jarak tanam 70 x 20 cm serta prosedur penyulaman benih pada satu minggu setelah tanam (MST) untuk memastikan kerapatan populasi tanaman yang ideal.

TEP UNDIP Perkuat Kapasitas Petani Woslay melalui praktik penanaman langsung di lahan demplot percontohan.
Tim Ekspedisi Patriot UNDIP mendampingi petani Kampung Woslay mempraktikkan teknik penanaman bibit di lahan demplot.

Materi pelatihan yang disajikan secara komunikatif dan aplikatif mendapat apresiasi dari para peserta. Natun, selaku Ketua Kelompok Tani Sejahtera, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran para akademisi. “Materi yang dibawakan Prof. Musa sangat relevan dengan apa yang kami butuhkan. Budidaya padi dan jagung yang baik di setiap wilayah memang berbeda, tidak bisa disamakan. Namun beliau bisa memahami kebutuhan kami,” tutur Natun di sela-sela praktik lapangan.

Apresiasi serupa disampaikan oleh petugas Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Distrik Senggi, Ngatawi. Ia mengaku mendapatkan wawasan teknis baru yang sangat berharga untuk mendampingi petani transmigran maupun Orang Asli Papua (OAP). “Pengetahuan tentang jenis-jenis penyebab ukuran dan kualitas jagung yang berbeda baru saya dapatkan dari acara ini. Saya berharap, ke depan akan diadakan acara yang bisa memberi pengetahuan dan ruang diskusi bagi kami petani dan masyarakat transmigran tentunya,” ungkap Ngatawi.

Selain praktik di lahan demplot, peserta FGD melakukan kunjungan ke Embung Patradipa di Jalur 3 SP 2 Kampung Woslay. Kunjungan tersebut diikuti petani Kelompok Tani “Satu Hati”, Ondoafi Patras, petugas BPP Distrik Senggi, serta akademisi UNDIP untuk meninjau kondisi embung dan membahas kesiapan distribusi air ke lahan pertanian. Nama Patradipa merupakan akronim dari Patriot Transmigrasi Diponegoro Muda, sebuah identitas yang mencerminkan semangat pengabdian dan sinergi generasi muda akademisi UNDIP bersama masyarakat di kawasan transmigrasi perbatasan.

Di lokasi galian seluas 35 x 15 meter dengan kedalaman 3 meter tersebut, para peserta meninjau struktur fisik kolam penampung air sekaligus mendiskusikan teknis pengaliran air menggunakan pompa pendorong menuju petakan sawah dan lahan demplot hortikultura di sekitarnya. Kehadiran fisik Embung Patradipa ini disambut antusias oleh masyarakat setempat sebagai bukti nyata hadirnya solusi irigasi permanen untuk mengakhiri ancaman kekeringan musiman di kawasan perbatasan Senggi.

Pembahasan kemudian diarahkan pada keberlanjutan pengelolaan sarana air. Para petani, tokoh adat, penyuluh BPP, dan akademisi UNDIP menyepakati pembentukan kelembagaan pengelola air di tingkat kelompok tani serta penyusunan Aturan/SOP internal kelompok untuk mengatur jadwal penyiraman dan pemeliharaan fisik embung pascaprogram.

Kesepakatan tersebut menjadi landasan agar aset infrastruktur penampung air yang telah dibangun tidak hanya berfungsi dalam jangka pendek, tetapi dapat dirawat secara berswadaya oleh masyarakat Kampung Woslay dari musim ke musim. Dengan demikian, dukungan terhadap pertanian tidak berhenti pada pembangunan sarana dan transfer pengetahuan, tetapi dilanjutkan melalui penguatan kapasitas dan tata kelola di tingkat masyarakat. Melalui rangkaian FGD, pelatihan, praktik lapangan, dan perumusan tata kelola tersebut, TEP UNDIP, Kepala Keret, BPP, dan Kelompok Tani di SP 1 dan SP 2 memperkuat komitmen untuk terus berdampingan mengawal transformasi pertanian di Distrik Senggi.

Inisiatif yang dihadirkan TEP UNDIP di Kampung Woslay menunjukkan bahwa penguatan pertanian di kawasan perbatasan membutuhkan keterpaduan antara sains, teknologi irigasi, pendekatan adat, dan gotong royong masyarakat. Penguatan kapasitas petani serta pengelolaan sumber daya air dan lahan secara mandiri menjadi bagian penting dalam mendorong ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Menanggapi komitmen kuat dalam pendampingan masyarakat perbatasan ini, Ketua LPPM UNDIP Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menegaskan:

“Ekspedisi Patriot UNDIP merupakan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi yang hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa hasil pengetahuan, inovasi, dan riset UNDIP dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.” kata Prof. Suherman.

Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan dan praktik pertanian berkelanjutan, SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengelolaan sumber daya air untuk pertanian, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan Good Agricultural Practices dan pemanfaatan bahan organik lokal, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan adaptasi pertanian terhadap kondisi air dan lahan, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat adat, penyuluh, dan kelompok tani. (Komunikasi Publik/UNDIP)

TEP UNDIP Perkuat Kapasitas Petani Woslay bersama warga dan pemangku kepentingan di perbatasan.
Foto bersama peserta FGD dan pelatihan pertanian yang diinisiasi oleh TEP UNDIP di Kampung Woslay, Kabupaten Keerom.
Share this :
SDG-12
SDG-13
SDG-17
SDG-2
SDG-6