UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (16/10) – Keterbatasan infrastruktur dan ketiadaan akses listrik tak menyurutkan semangat warga Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, untuk menggapai kemandirian pangan. Mendukung semangat tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) menginisiasi Pelatihan Pertanian Berkelanjutan bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) setempat pada Kamis (17/9), Balai Kampung Usku, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Selama ini, warga Usku yang mayoritas merupakan petani subsisten memiliki kebiasaan bertani secara berpindah-pindah (shifting cultivation). Mereka kerap membuka lahan baru setiap kali kesuburan tanah yang lama menurun. Pola ini dinilai sangat menyita energi dan menghambat akumulasi kesejahteraan ekonomi keluarga, di mana hasil panen hanya sebatas cukup untuk kebutuhan harian.
Transformasi Pola Tani Lewat Program Pertanian Berkelanjutan di Kampung Usku
Kepala Desa Kampung Usku, Albert, menegaskan bahwa perubahan pola pikir bertani adalah kunci utama kemajuan wilayahnya. “Masyarakat saat ini sudah memiliki keinginan yang tinggi untuk bertani dan berkebun. Namun kami seringkali berpindah-pindah lahan yang digunakan. Saya berharap, melalui pelatihan ini, wawasan kami bisa terbuka tentang bagaimana mengoptimalkan lahan agar tidak berpindah pindah saat bercocok tanam,” ujar Albert.
Menjawab kebutuhan masyarakat, TEP UNDIP menghadirkan pakar agronomi, Prof. Yunus Musa, sebagai pemateri utama. Selama tiga jam pelatihan, sebanyak 30 peserta OAP dibekali pengetahuan teknis mengenai pemeliharaan kesuburan tanah permanen, teknik penanaman presisi, pengolahan tanah masam, hingga penggunaan varietas unggul tanaman pangan dan hortikultura.
Pelatihan ini juga menjadi angin segar bagi pemberdayaan perempuan di Kampung Usku. Muncul sosok Mama Orpa, seorang petani wanita lokal yang berhasil mendobrak stigma bahwa pertanian komersial hanya ranah kaum laki-laki. Ketekunan Mama Orpa turut menginspirasi kelompok mama-mama lain untuk ikut mengoptimalkan pekarangan dan kebun sebagai penopang ekonomi keluarga.
“Saya sudah mencoba beberapa kali menanam buah semangka, timun, dan sayur mayur. Awalnya saya hanya tahu menghambur pupuk, namun ternyata itu salah. Ada teknik-teknik tertentu agar pupuk tersebut bisa benar-benar berfungsi, bukan malah merusak tanaman,” tutur Mama Orpa saat menceritakan pengalaman bertaninya.
Praktik Lapangan dan Harapan Ketahanan Pangan Jangka Panjang
Antusiasme warga Usku yang luar biasa dalam menyerap ilmu baru mendapat apresiasi tinggi dari Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Distrik Senggi, Yan Piter Ulop. Pelatihan yang turut didampingi oleh jajaran Polsek Senggi dan personel Yonif TP 815 Senggi ini berlangsung sangat interaktif, di mana warga mempraktikkan penanaman benih jagung dan sayuran usai sesi materi.
“Antusiasme masyarakat Kampung Usku bisa terlihat ketika mereka aktif mencatat dan memperhatikan dengan seksama ketika Prof. Yunus menyampaikan materi. Mereka tahu, kedatangan Tim Ekspedisi Patriot berniat baik, sehingga mereka juga menyambut dengan baik,” kata Yan Piter Ulop.
Secara jangka panjang, penguasaan Good Agricultural Practices (GAP) melalui program Pertanian Berkelanjutan di Kampung Usku ini ditargetkan mampu mengubah hasil panen warga dari sekadar konsumsi pribadi menjadi surplus yang bernilai ekonomi di pusat Distrik Senggi.
Menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian masyarakat perbatasan tersebut, Ketua LPPM UNDIP Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menyampaikan:
“Ekspedisi Patriot UNDIP merupakan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi yang hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa hasil pengetahuan, inovasi, dan riset UNDIP dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.” kata Prof. Suherman, S.T., M.T.
Kehadiran TEP UNDIP di pedalaman Papua ini sekaligus mengakselerasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan ketahanan pangan lokal, SDG 5 (Kesetaraan Gender) dengan melibatkan peran aktif petani perempuan, serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui pemerataan akses pengetahuan dan teknologi.











