Bedono Jadi Living Lab Pesisir: Kisah Mak Jah hingga Peran FSM UNDIP dalam Ketahanan Sosial–Ekologis

UNDIP, Demak (14/1), Desa Bedono di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, merupakan salah satu wilayah pesisir yang paling terdampak banjir rob dan abrasi di pesisir utara Jawa. Dalam dua dekade terakhir, rob telah merendam rumah, fasilitas umum, dan ruang hidup warga, hingga memaksa sebagian besar penduduk direlokasi. Total sebanyak 268 KK telah dipindahkan sejak 1999–2007, menyisakan hanya sebagian kecil keluarga yang masih memilih bertahan. Garis pantai Bedono terus mengalami kemunduran dari tahun ke tahun, menjadikan desa ini sebagai potret nyata perubahan lingkungan yang begitu cepat di kawasan pesisir Pantura.

Di tengah kondisi tersebut, masih ada satu keluarga yang tetap bertahan di Dusun Tambaksari, yakni keluarga Pasijah atau yang dikenal sebagai Mak Jah. Bersama suami dan anaknya, Mak Jah tinggal di rumah terakhir yang masih dihuni di dusun tersebut. Air pasang yang datang hampir setiap hari menghantam langsung area sekitar rumahnya, sehingga ia menanam mangrove sebagai pelindung alami. Mangrove tidak hanya menahan ombak dan memperlambat abrasi, tetapi juga menjadi habitat burung, ikan, dan kepiting rajungan yang membantu menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Ketangguhan Mak Jah dalam merawat mangrove dan bertahan di tengah perubahan alam menjadikan kisahnya simbol ketahanan masyarakat pesisir.

Bedono kemudian berkembang menjadi laboratorium hidup (living lab) yang membawa manfaat bagi dunia pendidikan dan sains. Sejak 2022, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro melalui Cluster for Paleolimnology (CPalim) menjadikan Bedono sebagai living lab untuk mengembangkan solusi berbasis ekosistem atau Nature-Based Solutions (NbS). Inisiatif ini dipimpin oleh Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc., Guru Besar FSM UNDIP sekaligus Founder CPalim. Melalui pendekatan living lab, Bedono menjadi ruang belajar bersama antara akademisi, masyarakat, pemerintah, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat ketahanan sosial–ekologis pesisir.

Menurut Prof. Tri Retnaningsih, spirit dan ketangguhan Mak Jah dalam merawat mangrove menjadi inspirasi penting bahwa upaya konservasi dan mitigasi perubahan lingkungan harus dilakukan bersama masyarakat, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan kolaboratif tersebut membuka ruang dialog antara akademisi, komunitas lokal, dan pihak pemerintah untuk merumuskan langkah adaptasi pesisir secara berkelanjutan.

Kisah Bedono menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut ruang hidup, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan sosial–ekologis masyarakat pesisir. FSM UNDIP berharap living lab Bedono dapat menginspirasi upaya serupa di wilayah pesisir lainnya serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendorong ketahanan dan perbaikan berkelanjutan bagi masa depan Pantura. (Komunikasi Publik/ FSM/ ed. Nurul)

Dilangsir dari Laman resmi FSM

Share this :