Empat Guru Besar UNDIP Dikukuhkan, Perkuat Inovasi Berkelanjutan di Bidang Kesehatan, Lingkungan, Infrastruktur, dan Tata Kelola Korporasi

UNDIP, Semarang (26/1) – Universitas Diponegoro hari ini mulai menggelar rangkaian acara pengukuhan 18 Guru Besar UNDIP yang berlangsung di akhir bulan Januari 2026. Acara bertempat di Gedung Prof. Sudarto, S.H. Kampus UNDIP Tembalang. Hari pertama, UNDIP mengukuhkan Empat Guru Besar yang memaparkan temuan-temuan penelitiannya yang berkontribusi serta menjawab tantangan global di sektor kesehatan, lingkungan, infrastruktur, dan tata kelola korporasi.

Keempatnya di antaranya Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K), Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Prof. Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Prof. Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes.  serta Guru Besar dari Fakultas Teknik (FT)  yakni Prof. Dr. Ir. Purwanto, M.T., M.Eng.

Pada pengantarnya,  Ketua Senat Akademik UNDIP, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., mengatakan dengan dikukuhkannya Guru Besar baru ini, maka semakin banyak guru besar yang dimiliki oleh UNDIP. Hal ini merupakan salah satu indikator semakin meningkatnya kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Saat ini, Guru Besar aktif di UNDIP berjumlah 248 orang, terdiri dari 244 Guru Besar Tetap dan 4 Guru Besar Tidak Tetap,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa pengangkatan atau penunjukkan seseorang menjadi Guru Besar bukan hanya sebuah pengakuan akan kemampuan seseorang dalam bidang ilmunya, tetapi juga mengandung tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu yang dikuasainya untuk kemaslahatan masyarakat dan kejayaan negara.

“Seorang Guru Besar hendaknya menjadi pengayom dan pembimbing bagi dosen muda dan para mahasiswa dalam memperdalam dan mengembangkan ilmu dan kemampuan mereka. Seorang Guru Besar juga harus dapat menjadi suri teladan dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampus maupun di luar kampus,” ungkap Prof. Tri Winarni.

Pada kesempatan ini, Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek)  Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., IPU., hadir sekaligus memberikan sambutan. Dalam sambutannya menegaskan bahwa gelar tertinggi akademik tersebut membawa beban tanggung jawab yang besar bagi kemajuan negara. “Pengukuhan guru besar bukan hanya suatu seremonial puncak pencapaian akademik, tetapi merupakan peneguhan tanggung jawab intelektual dan moral kepada bangsa dan negara”, tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Togar menjelaskan bahwa arah kebijakan Kemdiktisaintek saat ini menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat solusi bagi tantangan nasional. “Pembangunan nasional ke depan menuntut kebijakan berbasis ilmu pengetahuan (evidence-based policy), inovasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi harus menjadi episentrum pembangunan sumber daya manusia unggul,” jelasnya.

Dalam kesempatannya, masing-masing Guru Besar memaparkan berbagai inovasi dan temuan penelitian yang telah mereka lakukan. Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K) yang memiliki kepakaran Bedah Onkologi mempresentasikan penelitiannya berjudul “Kanker Payudara Usia Muda Pada Populasi Indonesia: Strategi Penurunan Insidensi  dan Tatalaksana Komprehensif Berbasis Genetic Profiling Spesifik”. memaparkan strategi penanganan kanker payudara usia muda (<40 tahun) di Indonesia melalui pendekatan genetic profiling spesifik. Inovasi ini menyoroti peran mutasi PIK3CA dalam efektivitas terapi guna mengatasi tantangan sistemik seperti keterlambatan deteksi dini dan akses layanan. Melalui pendekatan multidisiplin, penelitian ini bertujuan menurunkan insidensi stadium lanjut serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

Sementara itu, Prof. Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA yang memiliki kepakaran General Audit memaparkan penelitian berjudul “Tantangan Audit  dalam Meningkatkan Kualitas Laporan Perusahaan pada Era Keberlanjutan”. Ia menekankan pentingnya peran auditor independen dalam memverifikasi laporan ESG guna memitigasi risiko greenwashing. Melalui adaptasi standar ISSA 5000 serta IFRS S1 dan S2. Pendekatan ini bertujuan menjamin transparansi dan kualitas laporan perusahaan yang kredibel sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis di era keberlanjutan.

Prof. Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes. yang memiliki kepakaran Bahan Berbahaya Lingkungan dan Risiko Kesehatan serta Pengendaliannya membahas “Ancaman Paparan Pestisida terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia dan Inovasi Teknologi Pengendalian Berkelanjutan” menyoroti bahaya paparan pestisida yang memicu gangguan hormon seperti hipotiroidisme dan diabetes. Dampak seriusnya menyasar ibu hamil dan anak-anak, termasuk risiko stunting, autisme, hingga penurunan kualitas SDM yang memperburuk IPM nasional. Sebagai solusi menawarkan penggunaan teknologi ozone untuk pencucian sisa pestisida serta transisi menuju pertanian organik yang didukung oleh regulasi pemerintah.

Professor dari Fakultas Teknik yang dikukuhkan hari ini, Prof. Dr. Ir. Purwanto, M.T., M.Eng. memiliki kepakaran Green Concrete. Ia mengangkat judul “Aplikasi Beton Geopolimer Ramah Lingkungan Berupa Balok Haunch sebagai Perkuatan Struktur Beton Bertulang” mengembangkan beton geopolimer tanpa semen berbasis limbah Fly Ash dan Bottom Ash (HVFA). Inovasi utamanya mencakup Self Compacting Geopolymer Concrete (SCGC) dan penggunaan balok haunch untuk memperkuat struktur gedung serta jembatan. Guna menekan biaya, memanfaatkan material lokal seperti cangkang kerang dan abu sekam sebagai pengganti aktivator kimia impor, menciptakan solusi konstruksi yang ekonomis dan ramah lingkungan.

Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. dalam sambutannya mengapresiasi keempat Guru Besar baru atas semangatnya dalam mencapai gelar Guru Besar sehingga layak dan patut diteladani.

“Menjadi guru besar adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, memiliki level tertinggi dalam mencapai ilmu dan menjadi role model terbaik bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Semoga ilmu yang ada tidak hanya sampai pada level laboratorium tapi juga bermanfaat dan terus bermartabat di dalam keseharian,” sambutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suharnomo mengapresiasi perkembangan positif prestasi UNDIP yang kian kompetitif di kancah internasional. Saat ini, UNDIP berada di peringkat 624 dunia dan terus memperkuat reputasinya sebagai kampus berkelanjutan dengan meraih predikat terbaik kedua di Indonesia versi UI GreenMetric.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan komitmen Green Campus dan Zero Waste UNDIP melalui pengelolaan water treatment, panel surya, dan teknologi pirolisis untuk meniadakan residu sampah ke kota. Selain itu, ia mendorong hilirisasi teknologi, seperti perluasan mesin desalinasi di berbagai daerah guna mengatasi krisis air.

Prof. Suharnomo menambahkan bahwa UNDIP senantiasa hadir dalam situasi krisis nasional sebagai bentuk empati kebangsaan. “Sebagai bagian dari NKRI kita juga sangat tanggap untuk bencana di Sumatera. Kita sudah mengirim lebih dari 10 tim untuk ke sana,” ungkapnya. Di akhir sambutannya, Rektor UNDIP berharap para Guru Besar yang dikukuhkan hari ini bisa memberikan kontribusi bagi institusi dalam meraih reputasi tinggi di level global dan menjadi aktor terdepan dalam menjadikan UNDIP Bermartabat dan Bermanfaat. (Komunikasi Publik/UNDIP/Riri)

Share this :