UNDIP, Amsterdam (26–27/2) – Di ruang-ruang diskusi Universiteit van Amsterdam, para akademisi dari berbagai benua berkumpul, menyatukan perspektif untuk membaca satu gejala zaman yaitu infrastruktur operasi pengaruh yang kian membentuk lanskap digital dunia. Dengan dukungan Netherlands Organisation for Scientific Research, percakapan ini menjembatani riset tentang isu tersebut yang terjadi di Rusia, Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Taiwan, hingga Afrika Utara.
Pertemuan ini membahas tentang fakta yang saat ini semakin menguat, yaitu industri disinformasi tak lagi hadir sebagai peristiwa sesaat namun sistematis. Ia telah berakar, berjejaring, dan melintasi batas negara, digerakkan bukan hanya oleh algoritma, tetapi juuga oleh manusia, sumber daya, dan ideologi yang saling terhubung. Dampaknya bahkan bisa sampai pada pelaksanaan pemilu, proses demokrasi, tata kelola, bahkan ke kemampuan kolektif masyarakat dalam merespons krisis seperti perubahan iklim.
Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., yang mewakili Asia, memaknai forum ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, melainkan panggilan tanggung jawab untuk membangun jejaring riset global yang berkelanjutan terutama untuk berkontribusi pada edisi khusus yang tengah disiapkan untuk isu infrastruktur pengaruh ini. Selain itu, juga untuk merintis pemantauan jangka panjang tentang problematika disinformasi, sebagaimana hasil temuan penelitian yang dipelopori oleh University of Oxford tentang cyber troops dan propaganda komputasional.
Konferensi ini, pada akhirnya bukan hanya tentang makalah dan panel, namun juga merupakan momen bersama, ketika perbedaan aksen, sejarah, dan konteks politik menyatu dalam kesadaran yang sama: kita sedang menghadapi fenomena global yang serupa.
Di akhir konferensi, para peserta menyepakati beberapa langkah strategis bersama:
Pertama, disimpulkan bahwa industri disinformasi dan operasi pengaruh kini telah menjadi fenomena global yang semakin masif dan terstruktur. Infrastruktur disinformasi tidak hanya berbasis teknologi dan algoritma, tetapi juga ditopang oleh jaringan aktor, organisasi, sumber pendanaan, serta ideologi yang saling terhubung. Dampaknya nyata terhadap kualitas demokrasi, tata kelola pemerintahan, kohesi sosial, hingga kemampuan kolektif dalam menghadapi isu global seperti perubahan iklim.
Kedua, disepakati penyusunan satu special issue jurnal internasional yang menghimpun temuan dari berbagai kawasan. Draft awal direncanakan terkumpul pada musim gugur mendatang sebagai bentuk konkret kolaborasi akademik lintas negara.
Ketiga, dan yang paling strategis, para peserta berkomitmen membangun kolaborasi pemantauan jangka panjang terhadap perkembangan industri disinformasi global. Tujuannya adalah melakukan monitoring yang sistematis dan komparatif lintas negara, sehingga dinamika operasi pengaruh dapat dipetakan secara berkala dan berbasis data.
Inisiatif ini terinspirasi oleh praktik yang dilakukan University of Oxford melalui publikasi globalnya tentang The Rise of the Disinformation Industry, Cyber Troops, dan Computational Propaganda, yang secara periodik memetakan aktor, strategi, dan infrastruktur propaganda digital di berbagai negara. Pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya observasi berkelanjutan dan kerja sama lintas wilayah.
Jejaring yang terbentuk dalam konferensi ini berkomitmen untuk:
- mengembangkan pemetaan aktor dan infrastruktur operasi pengaruh secara berkala;
- membangun basis data komparatif lintas negara;
- menghasilkan publikasi serial dan tematik;
- serta mendiseminasikan temuan kepada pembuat kebijakan, masyarakat sipil, dan komunitas internasional.
Pertemuan ini juga menandai fase akhir kolaborasi riset 2022–2026 tentang Cyber Troops dan Operasi Pengaruh Media Sosial di Asia Tenggara bersama Ward Berenschot, Yatun Sastramidjaja, Kris Ruijgrok, Janjira Sombatpoonsiri, Fatima Gaw, dan para kolega lainnya. Apa yang dahulu tumbuh sebagai kolaborasi regional kini menjelma menjadi jejaring global.
Langkah ini menandai perubahan penting: studi tentang operasi pengaruh tidak lagi dilakukan secara terpisah dan jangka pendek, melainkan diarahkan pada pembentukan jejaring riset global yang berkelanjutan dan terstruktur. Kolaborasi regional telah menemukan cakrawala barunya, kemitraan global memperkuat komitmen UNDIP dalam mendoron World Class University. (Komunikasi Publik/UNDIP)









