UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (5/9) – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung program strategis Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia untuk memperkuat kedaulatan pangan di wilayah batas negara, Tim 17 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) merumuskan langkah strategis melalui program bertajuk “Penyediaan dan Optimalisasi Air Irigasi Berbasis Masyarakat untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi Senggi”.
Inisiasi infrastruktur ini diawali melalui serangkaian pengujian teknis tanah di lokasi galian. Dengan memanfaatkan alat ukur yang tersedia, tim menganalisis laju infiltrasi air pada lapisan tanah gambut untuk memastikan tingkat penyerapan dan ketahanan struktur tanah terhadap risiko kebocoran fisis saat air ditampung. Hasil pengujian membuktikan bahwa karakteristik tanah yang telah dipadatkan memiliki daya serap air yang amat rendah, sehingga sangat ideal untuk dijadikan dasar bangunan embung.
Melalui integrasi data laju infiltrasi dan estimasi penguapan (evaporasi) musiman di kawasan Senggi, tim berhasil menetapkan kapasitas tampung embung secara presisi. Dari kalkulasi hidrologi tersebut, dirancanglah embung berdimensi panjang 60 meter, lebar 25 meter, dan kedalaman 3 meter. Perhitungan teknis yang cermat ini menjadi kunci utama dalam menjamin pasokan air irigasi yang stabil dan berkelanjutan, sekaligus mengantisipasi potensi kekeringan ekstrem pada masa kemarau di permukiman transmigrasi.
Selaras dengan kesiapan teknis, pendekatan partisipatif berbasis sosial juga turut dilakukan oleh Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP melalui dialog intensif dengan warga Woslay, khususnya pengurus kelompok masyarakat dan gabungan kelompok tani. Langkah ini ditempuh untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) warga terhadap proyek pembangunan, mengingat keterikatan emosional masyarakat merupakan faktor krusial dalam keberlanjutan program pemberdayaan. Diskusi bergilir diselenggarakan agar para petani dapat mengutarakan aspirasi, kendala, maupun harapan mereka secara transparan.
Peralihan dari tahapan pemetaan menuju pengerjaan fisik ini disambut hangat oleh warga, sebagaimana dijelaskan oleh Gundi selaku Ketua Kelompok Masyarakat setempat mengenai arti penting kehadiran tim ekspedisi. “Menurut saya, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025 melakukan babat lahan, kemudian TEP 2026 membuat pondasi. Agar masyarakat paham dan percaya, maka harus ada realisasi nyata,” tutur Gundi.
Bagi warga transmigran, pengerjaan embung ini menjadi bukti konkrit bahwa kepedulian pemerintah dan akademisi terwujud nyata di lapangan, tidak sekadar berakhir di lembar laporan. Kehadiran pasokan air menjadi jawaban atas persoalan fisis yang selama ini menghambat pemerataan pembukaan lahan di sekitar jalur Satuan Permukiman (SP) 2 Senggi. “Jembatan ke sana belum ditanami. Mungkin yang sudah ditanami itu lahan milik Pak Sibur dan Pak Alber. Harapannya setelah adanya embung dan bisa mengaliri, bisa membuat masyarakat lain tergerak untuk lebih semangat bertani,” ungkap Gundi.
Rasa khawatir akan potensi kegagalan panen akibat minimnya pasokan air sebelumnya membuat para petani ragu untuk mengolah lahan-lahan produktif di seberang jembatan. Kehadiran embung kolaboratif ini diproyeksikan mampu membangkitkan kembali semangat bercocok tanam warga. Jaminan ketersediaan air sepanjang tahun diharapkan dapat mengoptimalkan lahan marginal di SP 2 Woslay serta mendorong beralihnya pola tanam dari monokultur padi sawah tradisional menuju diversifikasi komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
Melengkapi kajian teknis dan dukungan sosial warga, Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP melakukan koordinasi kelembagaan dengan Pemerintah Kabupaten Keerom pada 24 Agustus 2026. Pertemuan ini bertujuan menyelaraskan rencana aksi dengan arah kebijakan daerah sebelum tahap penggalian fisik embung menggunakan excavator yang akan dilaksanakan pada akhir Agustus. Dalam kesempatan tersebut, tim memaparkan desain teknis embung Jalur 3 SP 2 Senggi beserta pemetaan kondisi sosial masyarakatnya. Audiensi digelar bersama di tiga instansi teknis terkait, yakni Dinas PUPR, Dinas Pertanian, dan Dinas Transmigrasi Kabupaten Keerom.
Plt. Kepala Bidang Transmigrasi, Maneta Bero, menyampaikan apresiasi mendalam atas prakarsa pembangunan sarana air tersebut. “Kami menyambut dengan baik rencana kegiatan yang telah dirancang oleh Tim Ekspedisi Patriot UNDIP 2026. Begitupun kami merasa terbantu karena dengan adanya Tim, kami bisa hadir untuk meningkatkan produktivitas masyarakat transmigran di Senggi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Sumber Daya Air, Sisko, menilai bahwa analisis kajian tanah dan perancangan hidrologi yang disusun Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP sudah sangat matang untuk diimplementasikan. Meski demikian, Sisko mengingatkan aspek sosiologis dan tata kelola tanah ulayat, serta pentingnya komunikasi persuasif bersama tokoh adat setempat untuk menjamin kepastian status lahan penempatan embung. “Perihal penggunaan tanah yang akan dijadikan embung, bisa diperjelas dengan melakukan pendekatan kepada Ondoafi atau pihak setempat pemilik hak ulayat,” ujarnya.
Sisko menekankan bahwa harmoni antara masyarakat transmigran dan warga adat yang terikat dalam semangat gotong-royong menjadi pilar utama agar pemanfaatan air embung berlangsung damai dan berkelanjutan. Apabila pembangunan embung di jalur 3 SP 2 ini terbukti mampu menggerakkan perekonomian petani, pihak pemerintah merekomendasikan replikasi infrastruktur serupa di wilayah strategis lainnya, seperti kawasan Cetak Sawah Rakyat (CSR). “Saran saya, jika pembangunan embung ini berhasil, maka ke depan bisa dibangun di beberapa titik yang berdekatan dengan lokasi CSR,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Keerom, Hevi, memaparkan gambaran faktual mengenai kondisi irigasi persawahan di Senggi. Meskipun jaringan tersier berbatu telah tersedia, pendangkalan di parit penampungan utama mengakibatkan distribusi air ke sawah warga menjadi tidak optimal. Beliau menyebutkan bahwa normalisasi parit merupakan aspirasi mendesak yang telah lama dinantikan para petani agar pasokan air dapat mengalir lancar.
Perpaduan antara inovasi rekayasa embung Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP, program normalisasi saluran irigasi Dinas Pertanian, dan restu adat dari Ondoafi, kini menjadi pilar utama penegakan kedaulatan pangan di Distrik Senggi. Kolaborasi sinergis antara riset perguruan tinggi, partisipasi aktif warga, dan dukungan birokrasi daerah menegaskan bahwa pembangunan wilayah perbatasan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Dari tanah Senggi, aliran air embung ini mengisyaratkan pesan kuat bahwa kedaulatan bangsa berawal dari ketahanan pangan yang kokoh di garis depan perbatasan.
Program strategis Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP ini merupakan perwujudan komitmen UNDIP dalam mendukung SDGs, khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan perbatasan, SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengelolaan irigasi berkelanjutan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat inovasi rekayasa embung berbasis riset, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas sektoral antara akademisi, pemerintah daerah, masyarakat transmigran, dan pemangku adat lokal. (Komunikasi Publik / UNDIP)














