UNDIP, Semarang (25/9) – Dharma Wanita Persatuan Universitas Diponegoro (DWP UNDIP) terus mendorong kegiatan yang memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus lingkungan. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanadipa Penggaron, Kabupaten Semarang, yang merupakan bagian dari agenda Rapat Kerja DWP UNDIP serta peluncuran buku resep minuman herbal berjudul “Meracik Sehat di Bumi Merdeka”.
Buku tersebut merupakan kumpulan resep minuman berbahan empon-empon yang dihimpun dari DWP di seluruh unit kerja UNDIP, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Resep-resep ini berasal dari kreativitas Lomba Menghias Empon-Empon yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia oleh DWP UNDIP pada bulan Agustus lalu (20/8).
Pemanfaatan tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga) bukan sekadar tradisi. Bahan-bahannya mudah dijumpai di lingkungan sekitar sehingga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola hidup sehat sekaligus meningkatkan nilai guna tanaman herbal.
Melalui buku ini, DWP UNDIP tidak hanya mendokumentasikan kreativitas anggotanya dalam mengolah bahan herbal, tetapi juga memperkenalkan cara sederhana untuk memanfaatkan empon-empon menjadi minuman yang dapat dibuat secara mandiri di rumah.
Ketua DWP UNDIP, Dewi Widayani Suharnomo, S.H., M.Pd., menyerahkan buku “Meracik Sehat di Bumi Merdeka” kepada Kepala Kantor KHDTK UNDIP, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono KS., M.P., serta anggota DWP UNDIP. “Bersama 37 pengurus DWP UNDIP dari total 45 pengurus, hari ini kami melaksanakan Rapat Kerja yang diagendakan setiap bulan. Kali ini kami mengunjungi KHDTK UNDIP, sudah ketiga kali saya ke sini dan Alhamdulillah kebermanfaatan UNDIP luar biasa untuk masyarakat sekitar. Kita juga penyumbang prestasi UIGreenMetric peringkat ke-20 dunia sebagai Universitas Paling Berkelanjutan,” terang Dewi Widayani.
Ia melanjutkan, “Ini kekayaan alam kita, milik masyarakat Ungaran, Semarang, dan Jawa Tengah. Di sinilah jantung kota, pohon masih ada banyak. Dan sungai Babon ini adalah hulu sungai yg mengaliri sungai di Semarang, hingga area Meteseh dan Pucanggading. Ada kolam ikan, ada kambing juga, jadi mari bersama kita jaga lingkungan hutan ini bersama-sama”.
Kepala Kantor KHDTK UNDIP, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono KS., M.P., menyambut kehadiran pengurus DWP UNDIP di Joglo Bale Wanadipa UNDIP. Sebelumnya, Prof. Sri Puryono juga mengajak rombongan untuk mengunjungi sawah, dilanjutkan dengan kegiatan off-road di sungai Babon.
“KHDTK UNDIP dengan luas 100 hektar menjadi zona budidaya, konservasi, LSD (Lahan Sawah Dilindungi), dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon. Seluruh kawasan hutan bisa ditanami. Sawah kita mengelola varietas padi sendiri, yaitu padi Inpari (Inbrida Padi Irigasi) dan Inpago. Kita kembangkan ini semua untuk mensejahterakan masyarakat, karena jika masyarakat sudah berkecukupan maka tidak akan merusak hutan,” kata Prof. Sri Puryono.
Ia juga menjelaskan bahwa sawah di KHDTK UNDIP menggunakan panel surya enam panel surya dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Menurutnya, kawasan hutan ini tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai ruang pembelajaran dan wisata edukasi yang memperkenalkan pentingnya konservasi hutan dan lingkungan kepada masyarakat. Ke depannya, pemanfaatan aspek edukasi, lingkungan, rekreasi, dan pengenalan ekosistem hutan akan diperkuat sehingga KHDTK UNDIP menjadi ikon eduwisata baru di Jawa Tengah. (Komunikasi Publik/UNDIP/Tts)











