UNDIP, Brebes (28/8) — Tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) memperkenalkan sistem pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup kepada pelaku usaha di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Teknologi ini memanfaatkan sumber panas hibrida surya–biomassa untuk mempercepat proses pengeringan sekaligus meningkatkan kualitas rumput laut kering yang dihasilkan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Penerapan teknologi tersebut dilaksanakan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI, khususnya skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi. Program Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini berfokus pada penguatan kolaborasi yang berdampak antara perguruan tinggi dan mitra industri.
Dalam pelaksanaannya, UNDIP dan Unwahas bekerja sama dengan PT Mutiara Global Industry melalui mekanisme co-funding, co-contribution, dan co-creation. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi pelaku usaha sekaligus mendorong hilirisasi produk rumput laut kering bermutu dan bernilai jual lebih tinggi.
Desa Randusanga Kulon dipilih karena memiliki potensi budi daya rumput laut yang dapat dikembangkan melalui transfer teknologi terpadu. Sebelumnya, sebagian warga mengeringkan hasil panen rumput laut di pinggir jalan tambak maupun jalan desa. Cara pengeringan terbuka tersebut membuat proses produksi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan berisiko menyebabkan rumput laut terpapar debu, kotoran, serta berbagai sumber kontaminasi dari lingkungan sekitar.
Pengeringan Lebih Bersih dan Terkendali
Melalui Program SINERGI, proses pengeringan dipindahkan ke dalam bangunan tertutup yang dirancang untuk menciptakan kondisi pengeringan yang lebih bersih dan terkendali. Bangunan tersebut memanfaatkan energi surya sebagai sumber panas utama dan biomassa sebagai sumber panas pendukung. Penggabungan kedua sumber energi itu memungkinkan proses pengeringan tetap berlangsung ketika intensitas sinar matahari berkurang atau kondisi cuaca kurang mendukung.
Sirkulasi udara di dalam ruang pengering didukung oleh blower dan fan exhaust untuk membantu meratakan aliran udara panas pada bahan. Rumput laut ditempatkan pada rak-rak pengering sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah maupun permukaan lantai bangunan. Dengan rancangan tersebut, proses pengeringan diharapkan berlangsung lebih higienis, efisien, dan konsisten dibandingkan dengan penjemuran terbuka.
Ketua Tim SINERGI, Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., dari UNDIP, menjelaskan bahwa penerapan sistem pengeringan tertutup berbasis energi hibrida merupakan bagian dari kolaborasi hilirisasi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempercepat proses pengeringan yang semula 18 jam menjadi 8 jam, tetapi juga membantu pelaku usaha menjaga kebersihan serta meningkatkan konsistensi kualitas produk rumput laut kering.
Penggunaan ruang tertutup dapat melindungi rumput laut dari hujan, debu, hewan, dan sumber cemaran lainnya selama proses pengeringan. Dukungan panas dari biomassa juga mengurangi ketergantungan proses produksi pada sinar matahari. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki peluang untuk menjalankan proses pengeringan secara lebih berkelanjutan dan menghasilkan produk bermutu yang lebih seragam.
Kolaborasi Dosen, Mahasiswa, Industri, dan Masyarakat
Tim SINERGI diketuai oleh Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., dengan anggota Prof. Aji Prasetyaningrum, S.T., M.Si.; Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., dari Teknik Kimia; dan Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si., dari FPIK UNDIP. Tim dari Unwahas terdiri atas Dr. Laeli Kurniasari, S.T., M.T., dan Agung Nugroho, S.T., M.T., dengan keilmuan Teknik Kimia dan Teknik Mesin. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor Teknik Kimia.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran berbasis persoalan nyata di masyarakat. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mendampingi penerapan teknologi, mengamati proses pengeringan, dan berinteraksi langsung dengan pelaku usaha. Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh pendampingan untuk memahami cara mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan produksi.

Kolaborasi perguruan tinggi, mitra industri, dan masyarakat melalui Program SINERGI menunjukkan bahwa hasil riset dapat diterapkan untuk menjawab persoalan pada tingkat usaha. Teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai purwarupa di lingkungan kampus, tetapi diarahkan menjadi solusi yang dapat digunakan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Penerapan sistem pengeringan hibrida surya–biomassa di Desa Randusanga Kulon diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat pengolahan pascapanen rumput laut. Produk yang lebih bersih, kering secara merata, dan memiliki kualitas yang lebih konsisten akan membuka peluang peningkatan daya saing serta nilai jual rumput laut kering. Kini, rumput laut hasil budi daya warga tidak perlu lagi dijemur di pinggir jalan. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat, teknologi hadir lebih dekat dengan pelaku usaha serta memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. (Komunikasi Publik/UNDIP)










