Tetap Sehat Pasca Lebaran: Waspadai Lemak, Gula, dan Risiko Penyakit

UNDIP, Semarang (3/4) – Momen lebaran menjadi hari istimewa usai menjalankan puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Menu makanan lebaran yang enak dan lezat menjadi santapan yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari lontong opor, sambal goreng telur, rendang daging hingga camilan yang gurih dan manis. Menu yang bersantan dan gurih serta camilan yang manis tentu saja lezat dikonsumsi. Sering kali membuat lupa sudah berapa banyak lemak dan gula yang sudah dimakan. Ada baiknya untuk mengontrol makanan yang dikonsunsi agar tetap sehat pasca lebaran.

Pakar Penyakit Dalam RSND UNDIP, dr. Anugrah Riansari, M.Kes., Sp.PD, FINASIM menjelaskan beberapa penyakit yang kemudian timbul saat diri tidak dapat mengkontrol makanan yang dikonsumsi saat lebaran. Adapun penyakit yang sering timbul antara lain gangguan pencernaan, seperti perut kembung, mual, diare; hipertensi atau tekanan darah tinggi; kolesterol tinggi; nyeri pada persendian karena asam urat; gula darah meningkat; dehidrasi atau kurang cairan.

Hal tersebut dikarenakan makanan lebaran sering kali kaya akan lemak dan rempah, yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Kemudian mengkonsumsi daging merah, jeroan, dan makanan laut yang berlebihan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh, memicu serangan nyeri pada persendian.

Sementara makanan yang tinggi garam, seperti opor ayam dan rendang, dapat meningkatkan tekanan darah, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Hidangan yang kaya lemak jenuh, seperti santan, nastar, dan daging berlemak, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.

Ditambah kue-kue manis, es sirup, minuman bersoda yang sering disajikan saat lebaran dapat menyebabkan lonjakan gula darah, terutama bagi penderita diabetes. Kurangnya konsumsi air putih karena lebih banyak minum minuman manis dapat menyebabkan dehidrasi.

dr. Rian, begitu dia akrab disapa, menambahkan gejala yang timbul dari penyakit yang rentan atau muncul saat diri tidak bisa mengontrol konsumsi makanan saat lebaran, sebagai berikut:

  • Gangguan Pencernaan: perut kembung, rasa penuh atau sesak di perut, mual muntah, diare.
  • Peningkatan asam urat: nyeri, pembengkakan, dan kemerahan pada persendian.
  • Hipertensi: sakit kepala dan tengkuk belakang, pusing, vertigo.
  • Peningkatan gula darah: mudah haus, sering buang air kecil.
  • Dehidrasi: mulut kering dan buang air kecil berwarna pekat.

Takaran normal kandungan gizi selama lebaran sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan harian yang direkomendasikan. Rata-rata kebutuhan kalori harian untuk orang dewasa adalah sekitar 2.000-2.500 kalori, tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik. Karbohidrat sebaiknya menyumbang sekitar 45-65% dari total kalori harian. Protein sebaiknya menyumbang sekitar 10-35% dari total kalori harian. Lemak jenuh sebaiknya dibatasi hingga kurang dari 10% dari total kalori hari. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyarankan batas konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) per orang per hari, yakni 50 gram atau 4 sendok makan gula, 5 gram atau 1 sendok teh garam, dan lemak hanya 67 gram atau 5 sendok makan minyak.

Agar tetap sehat pasca lebaran, dr. Rian membagikan tips untuk mengurangi risiko, yakni disarankan untuk mengonsumsi makanan dalam porsi yang wajar, memperbanyak sayur dan buah, serta tetap aktif secara fisik selama dan setelah perayaan lebaran. Tetap minum obat rutin bagi pasien dengan penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi sesuai anjuran dokter.

Usahakan untuk check up kesehatan sebelum dan sesudah lebaran, melakukan pemeriksaan misalnya tekanan darah, kadar gula darah, dan konsultasi dengan dokter anda, untuk mendapatkan penanganan yang tepat sehingga kondisi kesehatan Anda tetap terjaga dengan baik. (Ut-media relations)

Share this :

Category

Arsip

Related News