Kenapa Bau Mulut Lebih Terasa Saat Puasa? Ini Penjelasan Dosen FK UNDIP

UNDIP, Semarang (6/3) – Banyak orang yang berpuasa sering mengeluhkan satu hal yang sama, yaitu bau mulut terasa lebih kuat dibandingkan hari biasa. Kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi saat menjalankan ibadah puasa. Namun, apa sebenarnya penyebabnya? Dosen Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, drg. Surya Nelis, Sp.P.M, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama bau mulut saat berpuasa adalah kondisi rongga mulut yang menjadi lebih kering.

“Ketika berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan air dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya, kondisi mulut menjadi lebih kering. Selain itu, tidak adanya aktivitas mengunyah makanan dalam waktu yang lama juga membuat rangsangan pada kelenjar air liur berkurang,” jelas drg. Surya.

Menurutnya, aktivitas mengunyah sebenarnya berperan penting untuk merangsang produksi air liur atau saliva. Jika rangsangan tersebut berkurang, maka produksi saliva juga ikut menurun. Padahal, saliva memiliki peran penting sebagai pembersih alami rongga mulut. Air liur membantu membilas sisa makanan dan bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut. “Ketika produksi saliva menurun, proses pembersihan alami rongga mulut juga berkurang. Akibatnya, sisa makanan dan bakteri tidak terbilas dengan baik,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, saliva juga mengandung berbagai enzim, seperti amilase saliva (ptialin), lipase lingual, dan lisozim, yang berfungsi untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Jika jumlah saliva berkurang, bakteri patogen di rongga mulut dapat berkembang lebih bebas. Bakteri tersebut kemudian memecah protein dari sisa makanan dan menghasilkan senyawa sulfur yang mudah menguap, yang menjadi sumber utama bau tidak sedap dari mulut. “Senyawa sulfur ini mudah menguap sehingga baunya bisa tercium oleh orang di sekitar,” tambahnya.

Meski demikian, bau mulut saat puasa sebenarnya bisa dicegah dengan beberapa kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi pada waktu tidak berpuasa. Ia menyarankan pola minum yang cukup, yaitu sekitar dua liter air per hari dengan pembagian tiga gelas saat berbuka puasa, dua gelas setelah salat tarawih, dan tiga gelas saat sahur.

Ia juga menekankan pentingnya membersihkan lidah, karena permukaan lidah merupakan tempat yang sangat nyaman bagi bakteri untuk berkembang. Selain itu, menjaga kebersihan rongga mulut juga menjadi kunci utama. “Jangan lupa untuk menyikat gigi sebelum tidur dan setelah sahur, karena saat kita tidur, produksi air liur menurun bahkan hampir nol, sehingga jika sisa makanan tidak dibersihkan, bakteri akan berkembang lebih cepat,” jelasnya.

Beberapa hal lainnya yang juga dapat membantu mengurangi bau mulut saat puasa antara lain menghindari makanan beraroma tajam, tidak merokok, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta memilih karbohidrat kompleks dibandingkan karbohidrat sederhana. Dengan menjaga hidrasi dan kebersihan mulut secara optimal, masyarakat tetap bisa menjalankan puasa dengan nyaman dan percaya diri. (Komunikasi Publik/UNDIP/Tim FK)

Dilansir dari Official Instagram FK UNDIP

Share this :