UNDIP, Semarang (4/09) – Kota dan Kabupaten Pekalongan tengah berpacu dengan waktu menghadapi dampak perubahan iklim. Kombinasi antara penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut menjadikan banjir rob bukan lagi sekadar fenomena musiman, melainkan ancaman harian yang kian intens. Dalam kondisi ini, rumah-rumah pompa berperan sebagai benteng utama pengendalian banjir. Namun, di balik fungsinya tersebut, masih terdapat ketergantungan pada energi fosil yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon.
Menjawab tantangan tersebut, Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro (UNDIP) mengambil langkah strategis melalui kolaborasi internasional bersama Blue Deal (BD) Netherlands dan Nederlandse Waterschapsbank Fund (NWB). Kerja sama ini berfokus pada transformasi sistem kelistrikan rumah pompa di sepanjang Sungai Bremi Meduri dari energi berbasis fosil menuju pemanfaatan energi surya yang lebih berkelanjutan.

Assoc. Prof. Mochammad Facta, selaku Ketua Magister Teknik Elektro UNDIP, menegaskan bahwa peningkatan frekuensi operasi rumah pompa berdampak langsung pada biaya operasional dan emisi karbon.
“Meningkatnya frekuensi pengoperasian rumah pompa akan berbanding lurus dengan kenaikan biaya operasional dan emisi CO₂. Oleh karena itu, pemanfaatan energi surya menjadi solusi strategis yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan dampak perubahan iklim,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan empat tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu pendidikan berkualitas, energi bersih dan terjangkau, komunitas berkelanjutan, serta aksi terhadap perubahan iklim.
Melalui kajian ini, tim ahli yang dipimpin oleh Assoc. Prof. Dr. Ir. Mochammad Facta merancang berbagai alternatif desain sistem panel surya yang layak secara teknis dan ekonomis untuk diterapkan oleh pemerintah daerah. Solusi ini diharapkan mampu mendukung operasional rumah pompa yang lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
Laboratorium untuk Mahasiswa
Keunggulan utama dari proyek ini terletak pada keterlibatan aktif mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis praktik. Proyek ini menjadi laboratorium hidup, di mana mahasiswa Program Sarjana (S1) dan Magister (S2) Teknik Elektro UNDIP terlibat langsung dalam kegiatan pengukuran, pengumpulan data, serta analisis di enam lokasi rumah pompa yang tersebar di wilayah Pekalongan.
Beberapa mahasiswa program magister bahkan menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari penelitian tesis mereka, sehingga hasil kajian tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Kolaborasi internasional ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan para ahli dari Belanda, seperti Ing. Marcel Roet dan Luuk van Elk, yang memberikan perspektif dan standar global dalam pengelolaan sumber daya air dan teknologi pompa.
Keterlibatan ini mencerminkan komitmen Departemen Teknik Elektro UNDIP dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, di mana mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi tenaga ahli yang mampu menjawab tantangan lingkungan secara nyata.
Rekomendasi untuk Pekalonangan
Hasil studi kolaboratif ini menghasilkan berbagai rekomendasi desain sistem kelistrikan berbasis energi surya yang layak secara teknis dan ekonomis. Rekomendasi tersebut menjadi rujukan bagi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota dan Kabupaten Pekalongan dalam merumuskan kebijakan energi di masa depan.
Dengan pemanfaatan energi surya, rumah-rumah pompa di Pekalongan diharapkan dapat beroperasi secara lebih efisien, ramah lingkungan, serta mandiri secara energi dalam menghadapi tantangan krisis iklim global.
Melalui kolaborasi ini, Universitas Diponegoro kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. (Komunikasi Publik/ FT/ ed. Nurul)
Sumber: Website FT






