UNDIP, Kemenko IPK dan Pemerintah Belanda, Diskusikan Penanganan Banjir Pantura

UNDIP, Semarang (11/4) – Pada Selasa, 7 April 2026, telah berlangsung kegiatan Seminar Ketahanan Air Metropolitan Semarang, kerja sama Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) dan Kedutaan Besar Belanda. Seminar ini merupakan bagian dari Diseminasi Penelitian Water as Leverage (WaL) Fase 2, kerja sama bilateral Pemerintah Belanda dan Indonesia dalam menghadapi tantangan pengelolaan air di wilayah hulu maupun hilir, khususnya banjir.

WaL merupakan pendekatan yang menempatkan air sebagai faktor kunci dalam perancangan pembangunan perkotaan yang terintegrasi dan tangguh terhadap perubahan iklim. Kota Semarang yang terletak di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah menjadi salah satu lokasi penerapan pendekatan ini melalui penelitian kolaboratif yang dijalankan oleh konsorsium yang terdiri dari Center for Urban and Regional Resilience Research (CURE) Fakultas Teknik – UNDIP, ONE Architecture, Witteveen+Bos dan Haskoning melalui dukungan pendanaan dari Pemerintah Belanda melalui Netherlands Enterprise Agency (RVO).

Kini WaL telah memasuki Fase 2 untuk merumuskan opsi-opsi rekomendasi serta lokasi inisiatif prioritas permasalahan air, khususnya di wilayah tengah dan hulu DAS Babon dan Dolok yang dapat mendorong penyelesaian permasalahan banjir.

Dalam kegiatan ini, sejumlah pembicara menyampaikan pembelajaran dari WaL Fase 2 untuk permasalahan banjir di Pantura. Matthijs Bouw dari ONE Architecture membuka pemaparan dengan menceritakan studi kasus WaL dari berbagai negara di Asia. Kegiatan dilanjutkan oleh paparan dari Wakil Walikota Semarang Ir. H. Iswar Aminuddin, M.T. yang mengulas integrasi hasil WaL dalam solusi banjir di Pantura, khususnya di Kota Semarang.

“Pemerintah Kota Semarang serius terhadap WaL, karena WaL dapat menyelesaikan permasalahan banjir di hulu ke hilir, dan bukan hanya memberikan solusi teknis, tapi mulai dari manusia, sumber daya alam, dan lainnya. Jadi hasil dari WaL ini sudah kita masukkan dalam RPJMD Kota Semarang,” jelas Ir. H. Iswar Aminuddin.

Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik UNDIP juga turut menyampaikan hasil studi WaL di Semarang mengenai peran pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan air secara sistemik dari hulu ke hilir. Studi di Semarang menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat peran pemerintah sekaligus menyelaraskan kontribusi para pemangku kepentingan di wilayah hulu, tengah, hingga hilir dalam upaya penanganan banjir secara terpadu.

Sesi ini dilanjutkan dengan pemaparan program kerja sama WaL Fase 2 dan Nature for Water Semarang, serta diskusi dan tanya jawab mengenai mekanisme dan peran masing-masing stakeholder dalam mendorong solusi banjir yang terintegrasi. “Pada akhirnya, kita perlu mendorong intervensi yang menyeluruh dan berdampak nyata untuk menjawab tantangan pengelolaan air saat ini, sekaligus memperkuat upaya penanganan banjir yang sejalan dengan semangat WaL untuk kota-kota Indonesia,” ujar Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani dalam pemaparan Beliau.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dan inklusif bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung penyelesaian permasalahan banjir di Pantura. Inisiatif ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Keterlibatan aktif UNDIP dalam penelitian ini diharapkan dapat menegaskan perannya sebagai universitas yang berkontribusi nyata dalam pengembangan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat posisinya dalam jejaring kerja sama internasional. (Komunikasi Publik/UNDIP/FT)

Pemaparan Hasil Studi Water as Leverage di Semarang Metropolitan
Share this :