UNDIP Gelar ICOSEG 2026, Perkuat Kolaborasi Global untuk Pembangunan Berkelanjutan

UNDIP, Semarang (4/6) – Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sukses menyelenggarakan International Conference on Sustainability, Equity, and Growth (ICOSEG) 2026. Konferensi internasional bertema “Bridging Knowledge, Technology, and Society for Sustainable Development” ini berlangsung pada 3–4 Juni 2026 di Kapuas Grand Ballroom, Hotel Aruss Semarang. Forum global terebut mempertemukan para peneliti, akademisi, praktisi, perwakilan industri, mahasiswa, serta pembuat kebijakan dari dalam dan luar negeri.

Acara secara resmi dibuka oleh Kepala LPPM UNDIP, Prof. Dr. Ing. Ir. Suherman, S.T., M.T. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa ICOSEG 2026 menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi global serta mendorong peran riset dan inovasi bagi pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga mencakup dimensi sosial, tata kelola yang berkeadilan, kemajuan teknologi, dan ketahanan ekonomi.

“Pembangunan berkelanjutan harus dipahami sebagai agenda bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, lintas institusi, dan lintas negara agar mampu menghasilkan solusi yang adaptif, inklusif, serta berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Suherman.

Prof. Suherman menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting bukan hanya sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi juga sebagai katalisator lahirnya solusi transformatif yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Melalui riset, kolaborasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, institusi pendidikan tinggi diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan. “Universitas tidak boleh berhenti pada produksi ilmu pengetahuan, tetapi harus mampu menerjemahkan riset menjadi inovasi dan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan masyarakat,” imbuhnya.

“Diharapkan, ICOSEG 2026 dapat mendorong pertukaran akademik yang produktif, menginspirasi kolaborasi masa depan, serta menghasilkan riset berdampak bagi pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan tangguh di berbagai wilayah dan komunitas,” tambah Prof. Suherman.

Senada dengan hal tersebut, Ketua ICOSEG 2026 Dr. Anang Wahyu Sejati menyampaikan bahwa ICOSEG 2026 menjadi wadah strategis untuk memperkuat dialog lintas disiplin, pertukaran akademik, serta kolaborasi inovatif dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan global.

“Kami harap ICOSEG 2026 dapat menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan tujuan bersama dalam menghasilkan kontribusi nyata bagi masa depan yang lebih berkelanjutan, berkeadilan, dan tangguh. Di tengah semakin terhubungnya isu keberlanjutan, kesetaraan sosial, transformasi teknologi, dan ketahanan lingkungan, kolaborasi antara akademisi, praktisi, industri, dan pembuat kebijakan menjadi semakin penting,” ujar Dr. Anang.

Pelaksanaan ICOLEG 2026 turut menggandeng dua mitra perguruan tinggi internasional ternama, yaitu Chiba University Jepang dan The University of New South Wales (UNSW) Australia, serta didukung penuh oleh Program Enhancing Quality Education for International University Impact and Recognition (EQUITY) melalui pendanaan Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) dari LPDP.

Dipandu oleh moderator Chely Novia Bramiana, Ph.D., ICOSEG 2026 menghadirkan 3 (tiga) pakar internasional, yaitu Prof. Minako Sakai, Ph.D. dari UNSW Canberra, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. dari Chiba University, dan Prof. Bulan Prabawani, S.Sos., M.M., Ph.D. dari SDGs Center UNDIP.

Prof. Minako Sakai, Ph.D. dari UNSW Canberra membuka paparan ilmiahnya dengan menyoroti pentingnya infrastruktur sosial dan partisipasi komunitas dalam mewujudkan pembangunan inklusif, khususnya di tengah disrupsi sosial dan perubahan demografi.

Berkaca dari pergeseran kebijakan di Jepang, beliau menekankan bahwa fokus pembangunan daerah di era modern kini mulai beralih dari sekadar mengejar pertumbuhan populasi absolut menuju perluasan ekosistem partisipasi, di mana masyarakat urban dan institusi pendidikan dapat terus terhubung dan berkontribusi bagi keberlanjutan wilayah pedesaan tanpa harus menetap secara permanen. Transformasi ini menunjukkan bagaimana modal sosial dan keterlibatan kolektif dapat diadaptasi untuk merespons ketimpangan regional serta memperkuat ketahanan komunitas pascabencana.

Sementara itu, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. dari Chiba University memaparkan peran krusial inovasi teknologi mutakhir dalam memitigasi krisis lingkungan dan kebencanaan global. Melalui pengembangan teknologi Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) yang disematkan pada berbagai wahana seperti pesawat nirawak (UAV) hingga mikrosatelit, pemantauan kondisi bumi dapat dilakukan dalam segala cuaca baik siang maupun malam.

Integrasi data penginderaan jauh berbasis kecerdasan buatan (AI-based disaster mitigation) dan pemodelan Digital Twin ini menjadi pilar utama dalam menghadirkan sistem prediksi bencana yang presisi, respons darurat medis yang cepat, serta perancangan tata kota yang tangguh terhadap guncangan eksternal.

Adapun Prof. Bulan Prabawani, S.Sos., M.M., Ph.D. dari SDGs Center UNDIP menggarisbawahi urgensi pembenahan tata kelola mengingat mayoritas target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) global saat ini belum berada di jalur yang tepat menuju tahun 2030 akibat tantangan struktural dan polikrisis.

Beliau memperkenalkan pendekatan Sustainability Governance Continuum (SGC) sebagai kerangka kerja strategis yang menempatkan keberlanjutan bukan sebagai target akhir yang kaku, melainkan proses tata kelola yang berkesinambungan lintas periode politik dan administrasi. Melalui penguatan pilar keselarasan kelembagaan, kapasitas tata kelola, arsitektur akuntabilitas, serta pembelajaran jangka panjang, SGC diharapkan mampu mengatasi fragmentasi prioritas sektor dan menjaga kontinuitas reformasi pembangunan demi masa depan.

Melalui keynote speech, presentasi paralel, dan diskusi akademik, ICOSEG 2026 mendorong peserta untuk mengeksplorasi isu-isu strategis terkait keberlanjutan, pemerataan, transformasi teknologi, ketahanan lingkungan, dan pembangunan sosial ekonomi. Forum ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan membangun kolaborasi riset yang berdampak bagi masyarakat.

Pada sesi penutup ICOSEG 2026, diumumkan penerima penghargaan untuk kategori Best Paper dan Best Presenter. Penghargaan Best Paper diberikan kepada Rini Suryantini, Kristanti Dewi Paramita, Arnis Rochma Harani, dan Ariefina Marta Rahmavani dengan judul makalah Systematic Literature Review of Ecological Patch for a Well-Connected and Biodiverse Urban Green Space, sementara itu penghargaan Best Presenter diraih oleh Satria Aji Imawan.

Dengan terselenggaranya ICOSEG 2026, UNDIP menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Konferensi ini diharapkan dapat melahirkan gagasan-gagasan baru, memperluas jejaring kolaborasi internasional, dan mendorong lahirnya riset yang relevan bagi pembangunan berkelanjutan, inklusif, dan tangguh di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. (Komunikasi Publik/UNDIP/Dhany)

Share this :
SDG-11
SDG-13
SDG-16
SDG-17
SDG-4-150x150-1
SDG-9