UNDIP, Semarang (17/6) – Pendidikan dokter spesialis tidak hanya membentuk kompetensi klinis, tetapi juga karakter, integritas, dan kepemimpinan. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier dr. Ratna Sari Ritonga, MM, Sp.A, FISQua, alumni Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) yang kini dipercaya memimpin RSU Handayani Lampung Utara sebagai direktur.
Bagi dr. Ratna, memilih FK UNDIP sebagai tempat menempuh pendidikan spesialis anak bukan semata untuk memperdalam ilmu kedokteran, melainkan mencari lingkungan akademik yang mampu membentuk cara berpikir, karakter, serta orientasi pengabdian sebagai dokter.
“Sejak awal saya melihat FK UNDIP memiliki kekuatan dalam memadukan tradisi akademik, kedisiplinan klinis, dan nilai kemanusiaan. Menjadi dokter anak adalah pilihan yang sangat bermakna karena anak adalah simbol masa depan. Ketika kita merawat anak, kita turut menjaga harapan sebuah keluarga dan masa depan generasi,” ungkapnya.
Perjalanan pendidikan yang dijalani di FK UNDIP menjadi salah satu fase paling penting dalam kehidupannya. Berbagai pengalaman akademik dan klinis membentuk kemampuannya dalam mengambil keputusan medis sekaligus memahami pasien secara utuh.
Ia menuturkan bahwa pendidikan spesialis merupakan proses transformasi yang mengajarkan dokter untuk berkembang dari sekadar memahami teori menjadi mampu mengambil keputusan klinis yang tepat, bekerja dalam tim, serta mengedepankan empati dalam pelayanan kesehatan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat menangani pasien anak dengan kondisi berat yang kemudian berhasil pulih. Momen melihat seorang anak kembali tersenyum dan orang tuanya memperoleh harapan baru menjadi pengingat bahwa ilmu kedokteran selalu berjalan beriringan dengan empati, komunikasi, dan tanggung jawab moral.
Menurut dr. Ratna, sistem pembinaan residen di Program Spesialis Anak FK UNDIP memiliki peran besar dalam membentuk kemandirian klinis, kedisiplinan, dan tanggung jawab profesional. Melalui proses supervisi yang bertahap dan terukur, para residen dibimbing untuk memahami bahwa kemandirian klinis harus dibangun berdasarkan pengetahuan, pengalaman, ketelitian, serta kesadaran terhadap batas kewenangan.
“FK UNDIP mengajarkan bahwa dokter yang baik bukan hanya yang cepat mengambil keputusan, tetapi yang mampu mengambil keputusan secara tepat, etis, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Bekal tersebut terbukti sangat relevan ketika ia mengemban amanah sebagai Direktur RSU Handayani Lampung Utara. Menurutnya, kemampuan berpikir sistematis dan mengambil keputusan berbasis data yang diperoleh selama pendidikan di FK UNDIP menjadi pondasi penting dalam memimpin organisasi pelayanan kesehatan.
“Memimpin rumah sakit pada prinsipnya membutuhkan kemampuan menganalisis masalah, menentukan prioritas, membangun sistem, mengelola sumber daya, dan mengambil keputusan yang berdampak luas. Cara berpikir yang saya pelajari selama pendidikan spesialis sangat membantu dalam menjalankan peran tersebut,” katanya.
Selain kompetensi akademik dan klinis, dr. Ratna mengaku banyak belajar dari para dosen, supervisor, dan dokter konsulen yang menjadi teladan selama masa pendidikan. Ia menilai keteladanan para pendidik FK UNDIP turut membentuk gaya kepemimpinannya hingga saat ini.
“Para guru saya mengajarkan bagaimana bersikap tegas tanpa merendahkan, disiplin tanpa kehilangan empati, serta kritis secara akademik tanpa menutup ruang dialog. Kepemimpinan bukan sekadar memberi perintah, tetapi menghadirkan arah, menjaga standar, dan menumbuhkan orang lain,” jelasnya.
Sebagai alumni sekaligus pimpinan rumah sakit, dr. Ratna melihat pendidikan FK UNDIP tetap relevan dalam menjawab berbagai tantangan pelayanan kesehatan nasional maupun global. Perkembangan teknologi medis, perubahan pola penyakit, tuntutan mutu layanan, hingga kebutuhan kolaborasi lintas profesi menuntut tenaga kesehatan yang adaptif dan memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat.
Menurutnya, FK UNDIP tidak hanya mencetak dokter yang unggul secara klinis, tetapi juga membangun fondasi berpikir ilmiah, evidence-based medicine, disiplin, dan kepekaan sosial yang sangat dibutuhkan dalam sistem kesehatan modern.
Menutup wawancara, dr. Ratna menyampaikan pesan kepada para mahasiswa dan residen FK UNDIP yang tengah menempuh pendidikan agar menjalani setiap proses dengan kesungguhan dan semangat pengabdian.
“Jangan hanya mengejar kelulusan atau gelar. Kejarlah kedalaman ilmu, kematangan berpikir, keteguhan karakter, dan kepekaan terhadap penderitaan manusia. Masyarakat tidak hanya membutuhkan dokter yang cerdas, tetapi juga dokter yang dapat dipercaya, berintegritas, dan memiliki hati untuk melayani,” pesannya.
Kisah perjalanan dr. Ratna Sari Ritonga menjadi bukti bahwa pendidikan di FK UNDIP tidak hanya menghasilkan dokter spesialis yang kompeten, tetapi juga pemimpin pelayanan kesehatan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui perpaduan antara keunggulan akademik, pembinaan karakter, dan nilai kemanusiaan, FK UNDIP terus berkontribusi mencetak sumber daya kesehatan yang siap menjawab tantangan masa depan Indonesia. (Komunikasi Publik/FK UNDIP/ Saradita)
Dilansir dari official website FK UNDIP









