UNDIP, Semarang (26/6) – Persekutuan Umat Kristiani Universitas Diponegoro menyelenggarakan Sarasehan Lintas Agama bertema “Kebersamaan Membangun Interaksi Harmonis dan Kolaborasi Produktif”. Kegiatan ini menjadi ruang dialog dan perjumpaan antartokoh agama, akademisi, serta perwakilan masyarakat untuk memperkuat semangat kebersamaan di tengah keberagaman.
Sarasehan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa perbedaan agama, budaya, maupun latar belakang sosial bukanlah penghalang untuk bekerja sama. Keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan kehidupan yang damai, inklusif, dan produktif.
Para peserta menekankan pentingnya transformasi pribadi, sosial, dan ekologis. Transformasi pribadi diwujudkan melalui pembentukan karakter yang terbuka, kritis, dan siap berinteraksi dengan siapa pun. Sementara itu, transformasi sosial diwujudkan melalui ruang perjumpaan yang mampu melahirkan pengenalan, empati, kepercayaan, dan kolaborasi.
Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. dalam sambutan pengarahannya menggaris bawahi pentingnya transformasi pribadi, transformasi sosial dan bermuara pada transformasi ekologis menjadi lebih baik, yang mendasari tema Sarasehan Lintas Agama ini. Beliau juga menegaskan komitmen Undip sebagai universitas terkemuka dan sumber pakar berbagai bidang ilmu yang unggul dan peduli pada transformasi lingkungan, untuk tampil sebagai pelopor perbaikan tersebut.
Sarasehan juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Transformasi ekologis dipahami sebagai bentuk tanggung jawab manusia kepada Tuhan Sang Pencipta. Kolaborasi lintas agama dan lintas sektor dinilai penting untuk menjaga kelestarian lingkungan serta mendorong kesejahteraan masyarakat.
Sejumlah tokoh lintas agama hadir sebagai pembicara, di antaranya Bahruddin atau Gus Din dari KBQT Salatiga, Dewa Artayasa dari PHDI Semarang, Budiyanto, M.Pd. sebagai perwakilan umat Buddha Semarang, Ws. Andi Gunawan, S.T., M.Pd. sebagai perwakilan umat Konghucu Semarang, Pdt. Christiono Riyadi, S.I.P, S.Th., M.M. dari Sinode GKJ, serta Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF dari Paroki Semarang Indah.
Adapun dua pembicara lainnya dari UNDIP, yakni Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., Dekan FISIP UNDIP, serta Prof. Sriyana selaku fungsionaris PUK UNDIP. Pantia pelaksana Sarasehan ini diketuai oleh Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB, MBA, Ph.D dengan Sekretaris Nani Kitti Sihaloho, M.S. Sejumlah anggota senior PUK yakni Prof. Ari Pradanawati, Prof. Sriyana, Prof. Didik Wisnu Wijayanto, Dr. Agung Janika Sitasiwi duduk sebagai Tim Penasihat sekaligus Tim Perumus Hasil Sarasehan yang diketuai oleh Prof. Widiyanto.
Ketua PUK Undip Prof. Didik Wisnu Wijayanto mengatakan harmoni tidak cukup hanya diwujudkan melalui slogan toleransi, tetapi perlu kebersamaan yang harmonis dan diterjemahkan dalam tindakan nyata. Perjumpaan, dialog, dan kerja bersama menjadi fondasi penting untuk membangun persaudaraan yang lebih kuat. Ketua PUK Undip juga berharap hasil sarasehan ini dapat terus dikembangkan dalam kehidupan kampus maupun masyarakat. Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, seluruh peserta diajak untuk menjadikan keberagaman sebagai modal sosial dan kekuatan dalam membangun bangsa yang adil, sejahtera, damai, dan bermartabat.
Melalui sarasehan ini, PUK UNDIP menegaskan bahwa harmoni tidak cukup hanya diwujudkan melalui slogan toleransi, tetapi perlu kebersamaan yang harmonis dan diterjemahkan dalam tindakan nyata. Perjumpaan, dialog, dan kerja bersama menjadi fondasi penting untuk membangun persaudaraan yang lebih kuat.
PUK UNDIP berharap hasil sarasehan ini dapat terus dikembangkan dalam kehidupan kampus maupun masyarakat. Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, seluruh peserta diajak untuk menjadikan keberagaman sebagai modal sosial dalam membangun bangsa yang adil, damai, dan bermartabat. (Komunikasi Publik/ FISIP/ Robert)









