Menteri Keuangan RI Kuliah Umum di UNDIP, Diskusikan Peran APBN sebagai Instrumen Pembangunan Indonesia

UNDIP, Semarang (3/7) – Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Prof. (H.C.) Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, M.Sc., Ph.D., dalam Kuliah Umum Menteri Keuangan bertema “APBN untuk Indonesia Maju: Menjaga Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan dan Pembangunan.

Tema diangkat untuk mendiskusikan posisi APBN yang tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengelolaan keuangan negara, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan yang menentukan kapasitas negara dalam menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat daya tahan sosial-ekonomi masyarakat, serta mengakselerasi transformasi struktural menuju Indonesia Maju.

Meskipun acara ini di masa libur kuliah, namun mahasiswa yang hadir mencapai 1365 termasuk 101 peserta Komunita (Komunitas #UangKita), sebuah wadah kolaborasi yang dibentuk oleh Kementerian Keuangan RI berfokus pada edukasi APBN guna mendukung Indonesia Maju 2045. Acara berlangsung santai dengan dipandu oleh moderator Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S.E., M.S.E., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP dengan Kepakaran Keuangan Internasional kuliah berjalan lancar.

Acara diselenggarakan di gedung serbaguna Muladi Dome UNDIP, pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 14:00 WIB ini dihadiri oleh Pimpinan Tinggi Madya Kemenkeu, Staf Khusus Menkeu bidang UMKM, Pimpinan Tinggi Pratama Kemenkeu, Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. beserta jajaran.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Prof. (H.C.) Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, M.Sc., Ph.D. dalam presentasinya menyampaikan APBN menjadi instrumen untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Untuk mencapai Indonesia Maju 2045, ia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebanyak 8% yang diupayakan melalui pengembangan SDM dan pendidikan, penciptaan lapangan kerja, pengembangan wirausaha (entrepreneurship) dan start-up, serta pengembangan industrialisasi. Menurutnya hal tersebut penting mengurangi ketergantungan impor sehingga meningkatkan daya saing Indonesia di ranah global.

Menteri juga menegaskan pentingnya pembentukan Ekosistem Industri Berbasis Talenta, dengan menyelaraskan aspek STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan SHARE (Social, Humanities, Arts for People, Religious Studies, Economics). Pada kesampatan ini Universitas diponegoro mendapatkan apresiasi karena mendapatkan posisi pertama universitas di Jawa Tengah yang terlibat dalam pengembangan Ilmu dan keterlibatan civitas academica melalui beasiswa LPDP.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. menyambut hadirnya Menteri Keuangan RI ke kampus UNDIP. Lebih lanjut, Prof. Suharnomo menyebutkan bahwa di tengah ekonomi global yang kompleks, ia mengapresiasi beberapa kebijakan Menteri Keuangan RI dalam menghadapi tantangan makro ekonomi, antara lain tidak menaikkan pajak sehingga menjaga daya beli masyarakat, mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi fiskal hingga 8%, dan menjaga ruang fiskal. “Pelaut yang hebat tidak lahir dari laut yang tenang. Kami percaya bahwa Pak Menteri bisa menghadapi tantangan makroekonomi fiskal,” ucapnya.

Rektor UNDIP juga menyampaikan antusiasme mahasiswa yang membludak walaupun sedang masa libur semester. Animo ini menunjukkan civitas academica UNDIP berprinsip “low profile, high impact.” Artinya, sebagai institusi pendidikan tinggi, UNDIP terus menciptakan inovasi yang diwujudkan dalam hilirisasi produk dan teknologi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat, misalnya mesin desalinasi, pusat hemodialisa, padi salin, nila salin, bone scaffold (sekrup medis berbahan dasar kerang hijau sebagai substitusi tulang), dan lain sebagainya.

Prof. Suharnomo juga menyebut, kedepan UNDIP akan membentuk “UNDIP Manufacturing Center” sebagai hub untuk memproduksi hasil inovasi. Gerakan ini merupakan upaya UNDIP dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi dan mendukung program pemerintah RI dalam menumbuhkan ekonomi tinggi dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, dialog berlangsung interaktif dan mendapatkan antusiasme tinggi dari mahasiswa. Berbagai pertanyaan kritis diajukan, mencerminkan perhatian mahasiswa terhadap tantangan pengelolaan fiskal di tengah dinamika ekonomi global maupun implementasi program prioritas nasional. Salah satu mahasiswa menanyakan strategi mitigasi risiko pemerintah dalam menghadapi dampak konflik geopolitik Iran–Amerika Serikat–Israel yang berpotensi meningkatkan harga minyak dunia, menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan memberikan tekanan terhadap APBN.

Mahasiswa juga mempertanyakan isu tentang dukungan fiskal terhadap Program Pembangkit Listrik 100 Gigawatt sebagai salah satu program prioritas Presiden Prabowo, khususnya terkait bentuk insentif yang dapat diberikan Kementerian Keuangan untuk mendorong investasi dan percepatan implementasinya. Diskusi lain menyoroti strategi pemerintah dalam menjaga keberlanjutan fiskal di tengah kebutuhan anggaran yang besar untuk membiayai program-program prioritas pemerintah.

Menteri Keuangan sendiri menanggapi dengan gaya khasnya dan ia juga mengapresiasi beberapa mahasiswa yang memberikan berbagai masukan untuk ia pertimbangkan dengan meminta mahasiswa memberikan masukan secara tertulis padanya. (Komunikasi Publik/ Tim Media UNDIP)

Share this :
SDG-17
SDG-9