UNDIP, Semarang (5/7) – Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro menorehkan tonggak penting dalam pengembangan layanan kesehatan modern. Pada Sabtu, 27 Juni 2026, RSND untuk pertama kalinya melakukan tindakan kateterisasi pembuluh darah otak berupa Digital Subtraction Angiography (DSA) dan coiling pada pasien stroke akibat aneurisma.
Prosedur tersebut dipimpin oleh dr. Nur Azizah, M.H., Sp.N., Dokter Spesialis Neurologi RSND, bersama tim multidisiplin yang melibatkan dokter bedah saraf, radiologi, anestesi, perawat, serta tenaga medis pendukung lainnya. Capaian ini menjadi langkah awal RSND dalam memperkuat layanan neurointervensi, khususnya untuk kasus gangguan pembuluh darah otak yang membutuhkan penanganan cepat, tepat dan presisi.
dr. Nur Azizah menjelaskan, latar belakang dilakukannya prosedur ini berawal dari tingginya kasus penyakit vaskular, termasuk stroke, yang banyak dijumpai di masyarakat. Pada beberapa kondisi, pasien datang hanya dengan keluhan nyeri kepala hebat. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, keluhan tersebut dapat mengarah pada perdarahan subaraknoid atau subarachnoid hemorrhage akibat aneurisma yang pecah.
“Nyeri kepala pada kasus seperti ini sering disebut thunderclap headache atau worst headache ever, karena rasa sakitnya muncul sangat hebat. Penyebabnya bisa berasal dari aneurisma yang ruptur, yaitu pembuluh darah dengan dinding yang tidak normal. Jika tidak segera ditangani, risiko perdarahan ulang sangat besar dan dapat berdampak fatal,” terang dr. Nur Azizah dalam wawancara eksklusif pada Kamis, 2 Juli 2026.
Aneurisma merupakan kelainan pada dinding pembuluh darah yang membuat bagian tertentu melebar seperti balon. Ketika aneurisma pecah, pasien dapat mengalami perdarahan otak dan berisiko mengalami penurunan kondisi secara cepat. Melalui prosedur coiling, bagian aneurisma ditutup dari dalam pembuluh darah untuk mencegah perdarahan ulang.
Menurut dr. Nur Azizah, proses penanganan pasien diawali dengan pemeriksaan klinis dan pencitraan. Jika pada CT scan ditemukan perdarahan subaraknoid, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan CT angiography untuk melihat gambaran pembuluh darah otak secara lebih detail. Pada kondisi tertentu, DSA dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih presisi sebelum keputusan terapi ditetapkan.
“DSA membantu kami melihat aliran darah dan kondisi pembuluh darah secara lebih jelas. Dari hasil tersebut, tim dapat menilai apakah aneurisma dapat ditangani dengan coiling, clipping, atau pendekatan lain yang paling aman bagi pasien,” terangnya.
Tantangan utama dalam prosedur ini bukan hanya pada aspek teknis medis, tetapi juga pada koordinasi lintas bidang. Penanganan kasus pembuluh darah otak membutuhkan kerja sama yang solid antara neurologi, bedah saraf, radiologi, anestesi, perawat, serta kesiapan fasilitas rumah sakit. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga menjadi bagian penting, terutama karena keputusan tindakan harus dipahami dengan baik.
“Dalam kasus seperti ini, waktu, fasilitas, kesiapan tim, dan komunikasi dengan pasien menjadi sangat penting. Tujuan kami tetap sama, memberikan penanganan terbaik dengan mengutamakan patient safety,” ujar dr. Nur Azizah.
Dari sisi manfaat, prosedur ini dapat membantu menurunkan risiko perdarahan ulang sekaligus mempercepat pemulihan pasien. Pada kasus tertentu, keluhan nyeri kepala berat dapat berkurang secara signifikan setelah tindakan dilakukan. Penanganan lanjutan, termasuk rehabilitasi medik, dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Dokter Spesialis Bedah Saraf RSND, dr. Muhammad Kamil, Ph.D., Sp.BS., menambahkan, tindakan pertama ini dilakukan karena pasien memiliki indikasi medis yang jelas dan RSND telah memiliki kesiapan sarana, prasarana, serta sumber daya manusia yang memadai.
“Pasien perempuan berusia 74 tahun ini mengalami stroke akibat aneurisma. Berdasarkan kondisi klinis, hasil pemeriksaan, dan pertimbangan tim, pasien memenuhi indikasi untuk dilakukan DSA dan coiling. Keputusan diambil melalui konsensus medis yang melibatkan dokter saraf, bedah saraf, radiologi, dan anestesi,” jelas dr. Kamil.
Ia menerangkan, DSA dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di pangkal paha, kemudian diarahkan menuju pembuluh darah otak. Melalui pencitraan, tim dapat menemukan lokasi aneurisma secara akurat. Setelah itu, coiling dilakukan dengan memasukkan coil atau kawat khusus ke dalam aneurisma untuk menutup sumber risiko perdarahan.
“Secara sederhana, ini seperti operasi kepala yang dilakukan dari pembuluh darah di kaki. Pendekatannya minimal invasif, tanpa membuka kepala secara besar. Pada pasien ini, tindakan berjalan lancar, berlangsung kurang dari satu setengah jam, dan dipasang dua coil,” ungkapnya.
Keunggulan prosedur minimal invasif terletak pada pemulihan yang lebih cepat. Pada hari ketiga setelah tindakan, pasien menunjukkan kondisi membaik, stabil, dan dapat melanjutkan perawatan melalui rawat jalan. Selain menurunkan risiko stroke berulang akibat pecahnya aneurisma, tindakan ini juga memberikan kenyamanan lebih bagi pasien karena luka tindakan relatif kecil.
“Kami berharap layanan ini dapat terus berkembang secara berkelanjutan. Jika kandidat pasien lain ditemukan dan memenuhi indikasi medis, RSND dapat memberikan pilihan terapi yang lebih modern, aman, dan sesuai kebutuhan pasien. Kuncinya ada pada kerja sama tim, dukungan manajemen, kesiapan fasilitas, serta sistem layanan yang semakin matang,” pungkas dr. Kamil. Keberhasilan ini menjadi awal penting bagi pengembangan layanan kateterisasi pembuluh darah otak di RSND UNDIP.
Ke depan, RSND berkomitmen memperkuat layanan secara berkelanjutan melalui peningkatan kesiapan tim, fasilitas, sistem layanan, serta kolaborasi lintas unit agar masyarakat memperoleh akses terhadap penanganan stroke yang modern, aman, dan tepat sesuai kebutuhan pasien. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)








