UNDIP, Semarang (21/7) – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menggelar presentasi makalah ilmiah empat calon Guru Besar UNDIP yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor Universitas Diponegoro pada Selasa, 21 Juli 2026 pukul 13.00 WIB di Ruang Sidang Senat Akademik lantai 3 Gedung SA-MWA kampus UNDIP Tembalang. Forum akademik ini menghadirkan empat akademisi lintas disiplin ilmu, yaitu Dr. Ery Agus Priyono, S.H., M.Si., dari Fakultas Hukum; Dr. Eng. Ali Khumaeni, S.Si., M.E. dari Departemen Fisika Fakultas Sains dan Matematika; Dr. Retno Ariadi Lusiana, S.Si., M.Si. dari Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika serta Rukuh Setiadi. S.T., MEM, Ph.D. dari Fakultas Teknik.
Kajikan pertama dibuka oleh pakar Hukum Perjanjian dari Fakultas Hukum, Dr. Ery Agus Priyono, S.H., M.Si., yang membawakan judul presentasi “Potret Perjanjian Baku Waralaba di Indonesia: Ketika Ruh Ditinggalkan Jasadnya” (serta “Penguatan Kebijakan dan Kepastian Hukum dalam Mendorong Pembangunan Berkelanjutan”). Dr. Ery menyoroti maraknya penggunaan perjanjian baku (adhesion contract) dalam bisnis waralaba di Indonesia yang mencabut “ruh keadilan” karena menimpakan beban risiko ekstrem kepada penerima waralaba (franchisee).
Hal ini mengakibatkan retaknya tiga pilar utama hukum perdata: kebebasan berkontrak, konsensualitas, dan itikad baik. Sebagai solusi, ia menawarkan Peta Jalan Rekonseptualisasi Hukum Kontrak (2010–2030) berbasis Keadilan Pancasila melalui standarisasi Model Contract, pengawasan ketat regulasi pemerintah (PP No. 35 Tahun 2024), serta kehadiran hakim progresif yang berani membatalkan klausula eksploitatif.
Berpindah ke bidang sains dan teknologi dasar, Dr. Eng. Ali Khumaeni, S.Si., M.E. dari Fakultas Sains dan Matematika mempresentasikan materi berjudul “Karakterisasi Material Vulkanis Menggunakan Spektroskopi Plasma Laser untuk Ketahanan Lingkungan dan Mitigasi Bencana Alam”.
Ia memaparkan keunggulan teknologi Laser-Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS) untuk pemetaan potensi dan risiko material vulkanis di Indonesia. Sebagai negara di jalur Pacific Ring of Fire, tanah vulkanis Indonesia menyimpan potensi Unsur Tanah Jarang (Rare Earth Elements), namun juga membawa ancaman pencemaran logam berat seperti arsenik dan timbal. Melalui inovasi Calibration-Free LIBS (CF-LIBS) yang efisien, cepat, dan non-destruktif, Dr. Ali menargetkan terwujudnya ekosistem Smart LIBS berbasis AI untuk pemantauan lingkungan serta mitigasi bencana secara real-time.
Masih dari Fakultas Sains dan Matematika, Dr. Retno Ariadi Lusiana, S.Si., M.Si. menyampaikan materi berjudul “Potensi Membran Berbasis Kitosan untuk Slow Release Fertilizer dan Desalinasi sebagai Solusi Penyediaan Pupuk dan Air”. Dr. Retno membawa inovasi pemanfaatan limbah cangkang perikanan menjadi biopolimer kitosan bernilai tinggi untuk mengatasi krisis pupuk dan air bersih.
Ia mengembangkan membran kitosan model sandwich untuk Slow Release Fertilizer (SRF) guna mengontrol laju pelepasan hara urea agar tidak cepat hilang terkikis air. Selain itu, ia merekayasa membran kitosan-gelatin untuk desalinasi air laut (Reverse Osmosis) yang memiliki tingkat penolakan garam (salt rejection) tinggi serta tahan terhadap penumpukan mikroorganisme (biofouling).
Sesi pemaparan ditutup oleh akademisi Fakultas Teknik, Rukuh Setiadi, ST, MEM, Ph.D., dengan judul presentasi “Pengarusutamaan ‘Climate Urbanism’ dalam Perencanaan Kota: Sebuah Jalur Transformasi untuk Masa Depan Kota-Kota Pesisir di Indonesia”. Rukuh menyoroti tantangan kota pesisir Indonesia, khususnya Pantura Jawa yang terancam kenaikan paras laut dan penurunan tanah (land subsidence).
Ia bersikap kritis terhadap ketergantungan pada mega-proyek struktur keras seperti Giant Sea Wall yang mahal namun berisiko merusak ekosistem dan mengisolasi masyarakat dari laut. Rukuh mendorong pergeseran menuju adaptasi transformasional yang mengarusutamakan analisis risiko iklim ke dalam tata ruang, infrastruktur, dan pembiayaan kota jangka panjang, termasuk eksplorasi hunian apung (floating structures/SeaCities).
Rangkaian pemaparan empat calon Guru Besar UNDIP menegaskan sinergi multidisiplin ilmu yang menghadirkan solusi konkret atas tantangan zaman: rekonseptualisasi hukum kontrak waralaba untuk keadilan UMKM, penerapan spektroskopi laser dan biopolimer membran untuk krisis air, pangan, serta mitigasi bencana, serta pendekatan Climate Urbanism bagi ketahanan kota pesisir. Inovasi terapan ini mempertegas peran UNDIP dalam mendorong kebijakan berbasis riset (evidence-based policy) demi terwujudnya Indonesia yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan. (Komunikasi Publik/ UNDIP/ Riri)








