UNDIP, Semarang (3/9) – Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Mahasiswa dituntut mampu memilih sumber yang kredibel, memahami informasi secara kritis, serta mengolah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Semangat tersebut mewarnai Grand Final Duta Literasi Mahasiswa Universitas Diponegoro Tahun 2026 bertema ‘Cerdas Berliterasi, Mengabdi dengan Bakti’ yang digelar oleh Direktorat Perpustakaan, Undip Press, dan Kearsipan (DPUPK) pada Kamis, 3 September 2026, di Lobi Lantai I Direktorat Perpustakaan, Undip Press, dan Kearsipan, Kampus UNDIP Tembalang.
Program Duta Literasi menjadi upaya UNDIP untuk menghadirkan mahasiswa sebagai penggerak budaya membaca, menulis, berpikir kritis, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Para duta juga diharapkan mampu mendekatkan mahasiswa dengan berbagai sumber pengetahuan yang dimiliki universitas, mulai dari koleksi cetak, e-resources, hingga basis data jurnal internasional. Selain kecakapan literasi digital, mereka juga dibekali kemampuan komunikasi, kepemimpinan, jejaring, serta kreativitas dalam menghasilkan konten edukatif.
Wakil Rektor Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi, Hukum, dan Organisasi UNDIP, Prof. Dr. Adian Fatchur Rochim, S.T., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa kemampuan menyaring informasi menjadi semakin penting di tengah maraknya penggunaan media sosial. “Literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga kemampuan untuk memahami, mengolah, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijak. Di era media sosial sekarang, informasi yang tersedia luar biasa banyak dan tidak semuanya bermanfaat,” ujarnya. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna pasif yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial, tetapi juga mampu memilih informasi yang bernilai dan menggunakannya secara produktif.
Prof. Adian mengatakan bahwa Duta Literasi diharapkan menjadi teladan sekaligus penggerak budaya literasi, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat. Para finalis didorong untuk membawa gagasan kreatif, kepedulian, serta komitmen dalam pengembangan literasi. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kompetisi sebagai ruang belajar, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring, bukan semata-mata mengejar gelar juara. “Selamat berkompetisi, junjung tinggi sportivitas, dan berikan kontribusi terbaik bagi Universitas Diponegoro,” pesannya.
Direktur Perpustakaan, Undip Press, dan Kearsipan, Suwondo, S.Hum., M.Kom., menjelaskan bahwa perpustakaan perguruan tinggi kini berkembang dari sekadar tempat penyimpanan koleksi menjadi bagian penting dari ekosistem pengetahuan. Tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar memperoleh informasi, melainkan bagaimana menyaring, memvalidasi, dan mengolahnya secara kritis. Karena itu, keberadaan Duta Literasi diharapkan mampu menjadi jembatan antara sumber daya perpustakaan dan mahasiswa, sekaligus menghadirkan figur yang memberikan pengaruh positif di lingkungan akademik.
Antusiasme mahasiswa terlihat sejak proses seleksi yang diikuti oleh 30 peserta dari berbagai disiplin ilmu. Dari proses tersebut, 12 mahasiswa terpilih sebagai finalis dan mempresentasikan program serta gagasan literasi mereka pada babak grand final. Setiap peserta mendapat waktu lima menit untuk menyampaikan gagasan dan lima menit untuk menjawab pertanyaan dewan juri yang terdiri atas Dewi Widayani Suharnomo, S.H., M.Pd.; Ade Al Muhyi, S.T., M.T.; dan Yanuar Yoga Prasetyawan, S.Hum., M.Hum.
Setelah melalui presentasi, tanya jawab, dan sidang pleno dewan juri, penghargaan Duta Literasi Mahasiswa UNDIP Tahun 2026 diberikan dalam tiga kategori. Gold Medalist diraih oleh Afri Yudatama Siregar, S.T.; Ardiyanti Rahma Sekarsari; dan Iqbal Farel Arya Saputra. Silver Medalist diberikan kepada Ira Rahmawati, Muhamad Ryllo Pambudi, Najwa Basandid, dan Rachel Tiurma Sitompul. Sementara itu, Bronze Medalist diraih oleh Azizatuluthfia Ahida Fatahunnai’m, Cindy Claudia Sihotang, Fathina Mutawakkila, Naela Parisya Syafnel Putri, dan Najwa Lathfa Ashila.
Menutup rangkaian kegiatan, Bunda Literasi UNDIP, Dewi Suharnomo menekankan penobatan Duta Literasi merupakan awal tanggung jawab nyata untuk memajukan Direktorat Perpustakaan, Undip Press, dan Kearsipan (DPUPK). Terpilihnya wakil dari Kampus Jepara sebagai salah satu duta literasi yang meraih Gold Medalist membuktikan bahwa ruang tumbuh dan kontribusi terbuka serta inklusif bagi seluruh mahasiswa di berbagai kampus UNDIP. Ia berharap perpustakaan dapat terus hidup sebagai kawah candradimuka tempat bertemunya gagasan, penciptaan karya, serta pusat ilmu pengetahuan kampus yang berkelanjutan. Melalui para Duta Literasi, UNDIP berharap perpustakaan semakin menjadi ruang bertemunya gagasan, menghasilkan karya, dan berkembangnya pengetahuan, sekaligus mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam menyaring informasi serta membagikan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)










