Bantu Petani Telang Olah Hasil Panen, TEP UNDIP Dorong Ekonomi Warga Naik Kelas

UNDIP, Telang Kabupaten Banyuasin (23/9) – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim 24 melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Awal untuk memetakan potensi, permasalahan, dan peluang pengembangan komoditas serta usaha masyarakat di Kawasan Transmigrasi Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kecamatan Tanjung Lago, Selasa (8/9), tersebut mengangkat tema “Industrialisasi dan Hilirisasi: Mengembangkan Potensi Komoditas Unggulan Daerah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.” FGD menjadi salah satu langkah awal TEP UNDIP dalam menggali kondisi dan kebutuhan masyarakat serta membangun sinergi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, kelembagaan ekonomi, dan pemangku kepentingan terkait.

Ketua Tim 24, Prof. Dr. Rer Oec. Arfan Bakhtiar, S.T., M.T., mengatakan bahwa fokus industrialisasi dan hilirisasi yang dibahas dalam FGD merupakan tindak lanjut dari temuan Tim Ekspedisi Patriot pada tahun sebelumnya. “Tema industrialisasi dan hilirisasi ini kami dapatkan dari laporan tiga tim TEP tahun lalu. Jadi, kami menjalankan apa yang menjadi temuan dari tim sebelumnya,” ujar Prof. Arfan.

Ia menjelaskan bahwa TEP 2026 memiliki sejumlah program yang akan dilaksanakan di kawasan tersebut. Kawasan Transmigrasi Telang dinilai memiliki perkembangan yang cukup baik dan menjadi salah satu kawasan yang dapat menjadi percontohan. “Berdasarkan hasil diskusi kami, Telang termasuk kawasan yang berhasil dan menjadi percontohan. Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan,” katanya.

Prof. Arfan menambahkan, TEP UNDIP Tim 24 telah merancang lima kegiatan yang akan dijalankan di kawasan, dengan FGD sebagai salah satu tahapan awal untuk memastikan program yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak dapat memperkuat efektivitas program dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pemangku kepentingan turut memberikan gambaran mengenai kondisi kawasan. Perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyuasin, Agung, menyampaikan bahwa kehadiran TEP UNDIP merupakan bagian dari upaya menjembatani informasi dari masyarakat di kawasan dengan pemerintah pusat.

Menurutnya, kawasan Telang memiliki sejumlah komoditas potensial, di antaranya padi, jagung, dan kelapa. Komoditas tersebut tidak hanya berpotensi untuk dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan melalui proses hilirisasi. “Dari padi, misalnya, bisa dikembangkan menjadi jerami, sekam, briket padi, maupun tepung padi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti peluang pengolahan limbah pertanian, khususnya sekam padi, agar dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi salah satu peluang pengembangan yang dapat dikaji lebih lanjut dalam rangkaian program TEP di Kawasan Transmigrasi Telang.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Siska Anggraini dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Banyuasin. Ia menilai penguatan UMKM perlu diarahkan pada upaya peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan usahanya. Menurut Siska, pengembangan UMKM di kawasan transmigrasi tidak hanya berkaitan dengan pengembangan usaha, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah akses pemasaran, termasuk melalui platform digital, sehingga produk-produk UMKM di kawasan memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Besarnya potensi ini juga didukung oleh data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banyuasin. Tren produksi pertanian di wilayah ini terus meningkat, dengan capaian produksi padi pada tahun 2025 sebagai yang terbesar di tingkat nasional. Dari data tersebut turut memperkuat peluang pengembangan hilirisasi komoditas pertanian di Kawasan Transmigrasi Telang, khususnya melalui peningkatan nilai tambah hasil produksi.

Tokoh Masyarakat setempat, Landung Widodo, turut mengapresiasi kehadiran TEP UNDIP dan berbagai pihak yang terus mendampingi warga. Ia menceritakan bahwa setelah melewati berbagai tantangan pengelolaan lahan sejak awal transmigrasi 46 tahun silam, kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Telang hari ini sudah jauh membaik dan mengalami perubahan yang sangat signifikan. “Alhamdulillah, hari ini kondisi ekonomi dan sosial sudah membaik dibanding 46 tahun lalu. Tidak ada kata yang lebih indah dibanding kata ucapan terima kasih,” ungkap Landung.

Setelah sesi pemaparan, peserta FGD dibagi ke dalam dua kelompok diskusi, yaitu Kelompok Hilirisasi dan Kelompok Industrialisasi. Pada Kelompok Hilirisasi, diskusi menunjukkan bahwa Kawasan Transmigrasi Telang memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan hilirisasi komoditas, khususnya padi, jagung, serta komoditas unggulan lainnya. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, antara lain keterbatasan sarana dan teknologi pengolahan, kapasitas sumber daya manusia, permodalan, kontinuitas bahan baku, akses pasar, serta penguatan kelembagaan dan koordinasi antar-pihak.

Hasil diskusi merekomendasikan agar potensi tersebut dikembangkan melalui model pengolahan yang sesuai dengan kondisi kawasan dan kebutuhan pasar. Dukungan lintas stakeholder juga dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, membuka peluang usaha baru, serta memperkuat perekonomian masyarakat.

Sementara itu, Kelompok Industrialisasi menemukan bahwa pelaku usaha di kawasan pada dasarnya telah memiliki kesiapan yang cukup baik pada tahapan hulu produksi. Berdasarkan hasil diskusi, tingkat kesiapan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 60 persen sebelum memasuki tahapan pemasaran. Kendala terbesar justru ditemukan pada aspek pemasaran. Oleh karena itu, diperlukan bentuk kerja sama dan intervensi dari pihak terkait, terutama dalam memberikan pendampingan agar produk UMKM mampu berkembang dan memiliki akses pasar yang lebih luas.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pengembangan UMKM di Telang bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut memenuhi persyaratan, memiliki legalitas yang memadai, memiliki daya saing, serta mampu menjangkau konsumen di luar kawasan.

FGD ini menjadi titik awal yang krusial bagi rangkaian program Ekspedisi Patriot 2026 di Kawasan Telang. Berbagai masukan lintas sektor akan diformulasikan untuk menyempurnakan program ke depan. Terlebih, pengembangan kawasan tidak bisa lagi sekadar mengandalkan potensi produksi hulu, melainkan harus diiringi dengan pengolahan, penguatan kapasitas SDM, legalitas, kolaborasi antarpihak, hingga pengembangan pemasaran.

Menutup rangkaian diskusi, Prof. Arfan kembali menegaskan bahwa keberhasilan program TEP UNDIP sangat membutuhkan dukungan berbagai pihak agar program yang dijalankan dapat memberikan efektivitas dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Kawasan Transmigrasi Telang.

Langkah konkret TEP UNDIP dalam mendorong hilirisasi pertanian, penguatan UMKM, dan pemberdayaan masyarakat di Kawasan Transmigrasi Telang ini merupakan wujud nyata implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada pilar pengentasan kemiskinan (SDG 1), ketahanan pangan (SDG 2), pembangunan industri, inovasi, dan infrastruktur (SDG 9), serta penguatan kemitraan global (SDG 17). (Komunikasi Publik/UNDIP)

Share this :
SDG-1
SDG-17
SDG-2
SDG-9