Aksi Kolaboratif TEP UNDIP: Intervensi Gizi dan PHBS untuk Putus Rantai Masalah Kesehatan di Senggi

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (24/9) – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim 4 terus mewujudkan komitmen nyata dalam percepatan penurunan stunting di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Melalui kolaborasi lintas sektor, TEP UNDIP sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop Patriot Educare di Aula UPTD Puskesmas Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, pada Jumat (11/9). Mengusung tema “Upaya Penurunan Stunting dari Aspek Gizi dan Kesehatan”, kegiatan ini mengupas tuntas langkah strategis pencegahan stunting, mulai dari pemenuhan gizi seimbang, penanganan masalah gizi anak, kesehatan ibu dan remaja putri, hingga penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Kegiatan ini melibatkan 55 peserta lintas sektor, yang meliputi unsur pemerintah dan keamanan (Kepala Distrik, Kepala Kampung, Kapolsek, Danramil, perwakilan Pos Kotis), tokoh adat (Ondoafi dan Kepala Keret), institusi pendidikan (pimpinan sekolah), jajaran pelayanan kesehatan (Kepala Puskesmas, tenaga kesehatan, serta kader Posyandu, Posbindu, dan Malaria), hingga masyarakat umum.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi penting karena merujuk pada temuan UPTD Puskesmas Senggi per Agustus 2026 yang mencatat sejumlah tantangan gizi. Temuan tersebut meliputi tiga kasus kurang gizi, tiga kasus gizi lebih, dan delapan kasus berisiko gizi lebih. Selain itu, tercatat enam ibu hamil mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan tiga lainnya berisiko KEK, diperberat dengan temuan 16 siswi terindikasi anemia dari hasil skrining terhadap 52 remaja putri.

Berada di bawah koordinasi Prof. Dr. Diana Nur Afifah, S.T.P., M.Si., selaku Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, program ini tidak hanya berpusat pada pemberian materi, tetapi juga penyerahan fasilitas pendukung berupa tiga modul kesehatan dan empat booklet. Media edukasi ini diserahkan kepada para kader, guru, dan remaja putri agar manfaat program terus berlanjut. Ekspedisi ini turut didukung oleh tim ahli, antara lain Dwi Intan Yuniar Sari, S.Gz., M.Gz.; Fenny Anggreany Nasution, S.Gz., M.Gz.; Tika Andriani, S.Gz., M.Gz.; Guntur Samudra, S.K.M.; dan Handika Mukti, S.Pd.

Sesi pertama kegiatan difokuskan pada penyelarasan Program Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP yang menitikberatkan akselerasi penurunan stunting melalui integrasi layanan pendidikan dan intervensi gizi berbasis komunitas di Kawasan Transmigrasi Senggi. Prof. Diana menegaskan bahwa penanganan stunting di wilayah ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan disesuaikan dengan kondisi nyata masyarakat setempat.

“Stunting bukan hanya persoalan kekurangan asupan gizi, tetapi berkaitan erat dengan kesehatan ibu dan anak, penyakit infeksi, sanitasi, pola pengasuhan, pendidikan, hingga akses terhadap layanan kesehatan. Karena itu, melalui Ekspedisi Patriot ini kami ingin membangun kolaborasi antara pemerintah distrik, Puskesmas, sekolah, tokoh adat, kader, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar intervensi yang dilakukan benar-benar berdasarkan kebutuhan lokal. Harapannya, program ini tidak berhenti pada kegiatan edukasi hari ini, tetapi dapat menjadi langkah awal bagi terbentuknya upaya penanganan stunting yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi Senggi,” tegasnya.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan situasi kesehatan di lapangan yang disampaikan oleh Kepala UPTD Puskesmas Senggi, Antonius Hamong, Amd.Kep. Berdasarkan laporan Januari – Juli 2026, 5 penyakit tertinggi di Distrik Senggi meliputi hiperpireksia (2.426 kasus), malaria (1.305 kasus), bronkitis akut usia >15 tahun (618 kasus), gastritis (591 kasus), dan influenza (587 kasus). “Hiperpireksia dan malaria mendominasi lebih dari 51% dari total kasus penyakit yang tercatat. Kasus malaria menunjukkan angka yang konsisten tinggi sepanjang periode tersebut, dengan puncak pada Mei sebanyak 230 kasus dan Juli sebanyak 233 kasus. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Jangan menunggu sakit baru datang ke Puskesmas. Akan jauh lebih baik jika penyakit dapat kita cegah sejak awal,” papar Antonius.

Merespons data tersebut, tenaga kesehatan bidang gizi UPTD Puskesmas Senggi, Tirta Ferdiansyah, AMG, menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan UPTD Puskesmas Senggi dalam menangani permasalahan gizi masyarakat melalui pelayanan di dalam maupun di luar Puskesmas. “Pelayanan di dalam gedung meliputi konseling dan penyuluhan gizi serta kolaborasi antarklaster dan poli. Sementara pelayanan di luar gedung mencakup kunjungan kasus gizi dan balita bermasalah gizi, rapat lintas sektor, sosialisasi dan distribusi tablet tambah darah kepada remaja putri, pemberian vitamin A dan obat cacing melalui Posyandu, PAUD/TK dan SD, pemantauan pertumbuhan balita, serta distribusi makanan tambahan bagi balita berisiko malnutrisi dan ibu hamil berisiko KEK,” jelas Tirta.

Dari aspek lingkungan keluarga, dr. Victorio William Narendra dari Pos Kotis Senggi memberikan edukasi mengenai pencegahan penyakit melalui penerapan PHBS di tingkat rumah tangga. Menurutnya, penerapan PHBS memiliki peran penting dalam mencegah berbagai penyakit infeksi maupun noninfeksi sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga. “PHBS perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari karena rumah tangga yang sehat dapat meningkatkan produktivitas seluruh anggota keluarga. Jika produktivitas meningkat, kualitas hidup juga menjadi lebih baik. PHBS di rumah tangga merupakan investasi bagi keluarga yang lebih sehat dan sejahtera,” ucapnya.

Memasuki sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop Patriot Educare. Anggota TEP UNDIP, Dwi Intan Yuniar Sari, menanamkan pentingnya empat pilar gizi seimbang, antara lain pola hidup aktif berolahraga, konsumsi makanan beraneka ragam, menjaga berat badan ideal, dan penerapan PHBS. “Stunting tidak dapat dipahami hanya dari satu sisi. Kondisi anak dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya. Karena itu, pemetaan masalah perlu melihat kondisi nyata di tingkat keluarga, kampung, sekolah, layanan kesehatan, hingga lingkungan distrik. Workshop ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari secara berkelanjutan untuk meningkatkan status gizi masyarakat,” terang Intan.

Sebagai upaya memastikan implementasi dari materi yang diberikan, ke-55 peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk mempraktikkan pemecahan masalah melalui metode project-based learning. Para peserta menyusun diagram fishbone untuk mengidentifikasi akar permasalahan, mendiskusikan faktor penyebab stunting spesifik di lingkungan mereka, dan merumuskan prioritas intervensi penanganan yang paling relevan untuk Distrik Senggi. Melalui pendekatan partisipatif ini, diharapkan munculnya rekomendasi dan komitmen bersama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Distrik Senggi.

Pelaksanaan Ekspedisi Patriot UNDIP di Distrik Senggi ini turut mewujudkan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui pendekatan komprehensif, program ini mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) lewat perbaikan gizi, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan penerapan PHBS, dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat transfer edukasi berbasis modul. Sinergi ini diharapkan mampu memutus rantai masalah kesehatan sekaligus membangun fondasi sumber daya manusia yang unggul dan tangguh di perbatasan Indonesia. (Komunikasi Publik/UNDIP)

Share this :
SDG-2
SDG-3
SDG-4-150x150-1