UNDIP mendampingi pengembangan industri tepung Mocaf melalui pembangunan Rumah Pengering di Cilacap

UNDIP Dampingi Pengembangan Industri Mocaf di Cilacap, Dorong Hilirisasi Singkong dan Penguatan Ekonomi Petani

UNDIP, Cilacap (29/10) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan Program Kosabangsa 2026 yang berfokus pada pengembangan industri tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Program ini mendorong hilirisasi singkong melalui pemanfaatan teknologi pengeringan, pengembangan produk pangan lokal, serta penguatan kapasitas usaha kelompok tani.

Dalam program ini, UNDIP berperan sebagai perguruan tinggi pendamping bagi tim pengabdian Universitas Al-Irsyad Cilacap yang diketuai oleh Putri Maretyara Saptyani, bersama Lia Ernawati dan Ardhia Khanna Regita Cahyani. Tim pendamping UNDIP diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Widayat, dengan anggota Prof. Dr. Diana Nur Afifah dan Prof. Dr.-Ing. Ir. Suherman.

Salah satu bentuk dukungan nyata program ini adalah pembangunan dan peresmian Rumah Pengering pada Selasa (27/10/2026). Fasilitas tersebut memanfaatkan energi surya dan dilengkapi dengan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau suhu dan kelembapan selama proses pengeringan irisan singkong atau chip. Teknologi ini diharapkan dapat membuat proses produksi lebih terkontrol, lebih efisien, dan tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca.

Ketua tim pendamping UNDIP, Prof. Dr. Ir. Widayat, bersama tim berperan dalam mendukung penguatan aspek teknologi dan pengembangan proses produksi agar potensi singkong lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya untuk menghubungkan pengetahuan dan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Potensi pengembangan industri Mocaf di Desa Pesanggrahan cukup besar. Berdasarkan data dalam proposal program, sekitar 50 hektare lahan di desa tersebut, terutama di Dusun Sumbersari, ditanami singkong. Selama ini, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk umbi segar dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram.

Melalui pengembangan Rumah Pengering, singkong diolah menjadi chip kering yang kemudian diproses menjadi tepung Mocaf. Kelompok tani ditargetkan mampu memproduksi tepung Mocaf sebanyak 50–100 kilogram per bulan sebagai tahap awal pengembangan usaha. Produk tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai olahan pangan, seperti mi, kue, dan pai.

Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem usaha berbasis potensi lokal. Kelompok tani memperoleh pendampingan dalam penghitungan biaya produksi, pembukuan usaha, pengemasan, pelabelan, hingga pemasaran digital. Dengan demikian, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan untuk mengelola usaha secara lebih profesional serta memperluas jangkauan pasar.

Selain penguatan ekonomi, Program Kosabangsa 2026 juga mengintegrasikan pemanfaatan pangan lokal dengan upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat. Kegiatan ini melibatkan kader Posyandu melalui edukasi tentang pengolahan makanan, kebersihan dan sanitasi, pemahaman gizi, serta pemantauan pertumbuhan balita.

Berdasarkan data Mei 2026 dalam proposal program, terdapat 123 balita stunting dari 3.252 balita sasaran di wilayah kerja Puskesmas Kesugihan I. Enam di antaranya berada di Desa Pesanggrahan. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pentingnya edukasi gizi dan pengembangan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tepung Mocaf yang dihasilkan oleh kelompok tani direncanakan menjadi bahan baku pengembangan makanan tambahan berbasis pangan lokal, di antaranya kukis dan pai Mocaf. Pemanfaatannya akan disertai edukasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi balita, sehingga pengembangan produk pangan tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga mendukung peningkatan kesadaran masyarakat akan gizi keluarga.

Keterlibatan kelompok tani, kader Posyandu, pemerintah desa, Dinas Pertanian, dan mitra usaha menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan kegiatan sekaligus memperkuat hubungan antara sektor pertanian, pengolahan pangan, kesehatan masyarakat, dan kewirausahaan.

“Bagi UNDIP, pendampingan Kosabangsa merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kolaborasi dengan Universitas Al-Irsyad Cilacap, UNDIP turut mendorong pemanfaatan hasil riset dan inovasi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Widayat.

Program Kosabangsa 2026 didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Melalui pendampingan ini, pengembangan industri Mocaf di Desa Pesanggrahan diharapkan menjadi langkah awal menuju pengolahan singkong yang lebih produktif, peningkatan nilai tambah hasil pertanian, serta tumbuhnya usaha pangan lokal yang berkelanjutan dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Peran UNDIP dalam pendampingan program Kosabangsa 2026 meneguhkan komitmen “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” sekaligus mendukung ketahanan pangan yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs (Sustainable Development Goals) kedua, yakni zero hunger (tanpa kelaparan). (Komunikasi Publik/UNDIP/Ut)

Share this :
SDG-2