UNDIP, Semarang (10/3) – Universitas Diponegoro (UNDIP) menyelenggarakan Workshop Komunikasi Krisis untuk Pimpinan Fakultas/Sekolah pada Selasa, 10 Maret 2026 di Ruang Sidang Rektor, Gedung Widya Puraya Lantai 2, Kampus UNDIP Tembalang. Kegiatan ini diikuti oleh para Dekan fakultas/sekolah serta para pimpinan lembaga di lingkungan UNDIP sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola komunikasi institusi di tengah dinamika informasi publik yang semakin kompleks.
Sebagai perguruan tinggi yang terus bergerak menuju World Class University, UNDIP menghadapi tantangan komunikasi publik yang semakin dinamis di era keterbukaan informasi dan perkembangan media digital. Dalam situasi tersebut, berbagai isu di lingkungan kampus dapat dengan cepat berkembang menjadi perhatian publik apabila tidak dikelola secara tepat.
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembelajaran dari pengalaman dan praktik terbaik di bidang komunikasi publik menjadi penting bagi pimpinan fakultas dalam menghadapi berbagai situasi krisis yang mungkin terjadi di lingkungan perguruan tinggi.
“Melalui workshop ini kita berharap dapat memperoleh banyak pengalaman dan insight mengenai bagaimana menghadapi situasi krisis komunikasi. Setiap peristiwa tentu memiliki karakteristik yang berbeda, namun pengalaman dan perspektif praktisi akan sangat membantu kita dalam memahami bagaimana meresponsnya secara tepat,” ujar Rektor saat membuka kegiatan workshop.
Sementara itu, Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa di era media sosial hampir setiap peristiwa dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis apabila tidak diantisipasi secara tepat. Karena itu, pimpinan perguruan tinggi perlu memiliki kesiapan dalam mengelola komunikasi publik secara bijak dan terkoordinasi.
“Di era media sosial dan internet seperti sekarang, hampir semua peristiwa dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis apabila tidak diantisipasi dengan baik. Karena itu, kesiapan komunikasi pimpinan menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas dan reputasi institusi,” jelasnya.
Kegiatan ini menghadirkan Asmono Wikan, S.Sos., M.I.Kom., CEO PR Indonesia Group sekaligus praktisi di bidang kehumasan sebagai narasumber utama. Ia memaparkan banyak studi kasus tentang penanganan krisis komunikasi yang dialami perusahaan-perusahaan besar dan juga perguruan tinggi yang mengalami krisis.
Dalam paparannya, Ia menyoroti pentingnya kesiapsiagaan institusi dalam menghadapi dinamika komunikasi publik di era digital. Ia menjelaskan bahwa komunikasi krisis tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi kepada publik, tetapi juga menyangkut bagaimana institusi mampu menjaga kepercayaan melalui respons yang tepat.
“Dalam situasi krisis, institusi membutuhkan satu suara dalam pengelolaan komunikasi. Perbedaan pesan atau pendapat yang muncul ke publik berpotensi menimbulkan kebingungan dan berisiko pada kesalahan pengambilan keputusan,” ungkapnya.
Workshop ini juga menjadi ruang diskusi bagi pimpinan fakultas dalam memahami dinamika komunikasi krisis komunikasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu, serta pentingnya koordinasi antarunit dalam merespons isu yang berkembang di masyarakat.
Melalui workshop ini, para pimpinan fakultas diharapkan memiliki pemahaman yang seragam mengenai mekanisme respons komunikasi krisis, termasuk koordinasi antarunit serta kesatuan pesan institusi.
“Saat ini Direktorat Jejarimg Media Komunitas dan Komunikasi Publik (Jejak), telah memiliki pedoman penanganan komunikasi krisis yang masih terus dimatangkan oleh tim ahli dari profesional. Ke depan diharapkan pedoman ini bisa memudahkan UNDIP dalam berkoordinasi setiap saat menghadapi krisis,” kata Nurul Hasfi, Direktur Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik.
Melalui kegiatan ini, Universitas Diponegoro menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola komunikasi institusi yang profesional, transparan, dan responsif. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga reputasi universitas serta memperkuat kepercayaan publik terhadap UNDIP sebagai perguruan tinggi yang Bermartabat dan Bermanfaat. (UNDIP/Komunikasi Publik/Hng)








