UNDIP Kembangkan Teknologi Pengolahan Air Hujan, SV Zero Discharge, Menjadi Air Bernilai Guna

Semarang, UNDIP, (23/06) – Siapa sangka air hujan yang biasanya mengalir begitu saja ke saluran drainase kini dapat diubah menjadi air berkualitas yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan? Inovasi ini dikembangkan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Program SV Zero Discharge, sebuah sistem pengelolaan sumber daya terpadu yang memanfaatkan setiap tetes air hujan menjadi produk bernilai bagi pendidikan, penelitian, dan keberlanjutan lingkungan.

SV Zero Discharge dirancang sebagai sistem pengelolaan air hujan yang terintegrasi, mulai dari penangkapan, penyimpanan, pemanfaatan, hingga pengembalian air ke lingkungan. Air hujan yang jatuh di atap bangunan dan area tangkapan dialirkan menuju reservoir setelah melewati penyaringan awal untuk memisahkan daun, pasir, dan berbagai kotoran lainnya.

Air yang telah ditampung kemudian dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Sebagian digunakan untuk keperluan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman, sementara sebagian lainnya diproses melalui tahapan filtrasi, reverse osmosis (RO), dan ion exchange (IX) hingga menghasilkan VOCA LAB (Laboratory Grade Water) yang memenuhi standar kebutuhan laboratorium. Sistem ini memiliki kapasitas sekitar 15 liter per menit dan mampu menghasilkan lebih dari 1.100 liter air dalam satu siklus operasi.

Teknologi yang sama juga dimanfaatkan untuk memproduksi VOCA BATTERY sebagai air untuk kebutuhan baterai serta VOCA COOLANT sebagai air pendingin radiator yang digunakan dalam berbagai kegiatan praktikum dan pembelajaran.

Keunggulan lain dari sistem ini adalah penerapan prinsip konservasi air. Ketika kapasitas reservoir telah penuh, kelebihan air tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, melainkan dimasukkan ke sumur resapan (rainwater recharge well) agar kembali meresap ke dalam tanah dan membantu menjaga cadangan air tanah. Dengan demikian, air hujan tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen konservasi lingkungan.

Sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang, setiap gedung di Sekolah Vokasi UNDIP direncanakan memiliki bak penampungan air hujan berkapasitas sekitar 20 m³ sehingga pada musim hujan kebutuhan air gedung dapat dipenuhi terutama dari air hujan, sedangkan air tanah hanya digunakan sebagai cadangan. Khusus untuk produksi laboratory grade water, tersedia bak penampungan sekitar 3 m³ yang didukung pasokan dari sistem pemanenan air hujan. Selain itu, pembangunan embung tambahan juga diusulkan untuk memperkuat ketersediaan air baku pada musim kemarau.

Dekan Sekolah Vokasi UNDIP, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., menjelaskan bahwa SV Zero Discharge merupakan implementasi nyata pembelajaran berbasis solusi (solution-based learning). Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pengelolaan air di ruang kelas, tetapi juga dapat mengamati secara langsung bagaimana air hujan diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna tinggi bagi kegiatan akademik.

“Kami membangun sistem yang mampu memanfaatkan air hujan secara optimal, mengurangi ketergantungan terhadap air tanah, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. SV Zero Discharge bukan hanya proyek teknologi, tetapi bagian dari transformasi budaya keberlanjutan di lingkungan kampus,” jelasnya.

Melalui pendekatan ini, SV Zero Discharge tidak hanya menghasilkan air berkualitas tinggi bagi kebutuhan pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan living laboratory yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari sistem keberlanjutan yang beroperasi setiap hari. Program ini menjadi bukti bahwa konsep kampus berkelanjutan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diterapkan secara nyata dalam operasional kampus melalui semangat “Nothing Wasted. Everything Managed.”

Melalui SV Zero Discharge, Sekolah Vokasi UNDIP juga menghadirkan living laboratory yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari praktik pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Inovasi ini mencerminkan komitmen UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat melalui riset yang berdampak nyata sekaligus mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). (Komunikasi Publik/ SV/ Diyan ed. Nurul)

Share this :
SDG-13
SDG-6
SDG-9