UNDIP, Nusakambangan (6/7) – Pulau Nusakambangan selama puluhan tahun dikenal sebagai “Alcatraz-nya Indonesia”. Nama pulau di selatan Cilacap itu lebih sering dikaitkan dengan lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi daripada kisah inovasi. Namun di balik citra tersebut, Nusakambangan menyimpan persoalan yang jauh lebih mendasar: air.
Di pulau yang sebagian besar wilayahnya tersusun atas batuan kapur itu, memperoleh air berkualitas baik bukan perkara mudah. Air tawar tersedia, tetapi kandungan kapurnya relatif tinggi sehingga tidak ideal sebagai sumber air minum. Kebutuhan air konsumsi bagi warga binaan dan petugas selama ini harus dipenuhi dari luar pulau.
“Selama ini ketersediaan air bersih dan air minum di Nusakambangan masih menjadi tantangan karena kondisi geografis pulau yang memiliki keterbatasan sumber air tawar yang baik. Air tawar di Nusakambangan memiliki kandungan kapur yang sangat tinggi,” kata Koordinator Wilayah UPT Pemasyarakatan Nusakambangan dan Cilacap sekaligus Kepala Lapas Kelas I Batu Nusakambangan, Dr. Irfan, A.Md.IP., S.H., M.H.
Ketergantungan terhadap pasokan air dari luar pulau tidak hanya mahal, tetapi juga rentan terhadap gangguan cuaca dan transportasi penyeberangan. Sebelum hadirnya teknologi desalinasi, kebutuhan air minum harus didatangkan secara berkala dari luar Nusakambangan.
Menuju Nusakambangan yang Produktif
Di tengah keterbatasan tersebut, Nusakambangan kini tengah bertransformasi menjadi kawasan ketahanan pangan. Sekitar 135 hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif diubah menjadi area pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai kegiatan produktif lain yang dikelola oleh warga binaan. Melalui program ini, ratusan warga binaan tidak hanya terlibat dalam mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memperoleh keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.
Dalam ekosistem baru itulah teknologi desalinasi karya Universitas Diponegoro (UNDIP) hadir. Instalasi pengolahan air laut menjadi air minum tersebut tidak hanya menopang kebutuhan dasar kawasan, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi Nusakambangan menuju kawasan yang lebih mandiri dan produktif.

Teknologi Desalinasi UNDIP sebagai Solusi Penyediaan Air Minum
Ide menghadirkan mesin desalinasi di Nusakambangan bermula dari pertemuan antara kebutuhan nyata di lapangan dan pengalaman panjang Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam pengembangan teknologi pengolahan air laut.
Prof. Dr. I Nyoman Widiasa, S.T., M.T., penggagas teknologi tersebut, mengatakan ketertarikan pemerintah terhadap teknologi desalinasi UNDIP bermula saat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meresmikan Campus Immigration Point di UNDIP pada 1 Desember 2025. Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., memaparkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan kampus, termasuk teknologi desalinasi yang mampu mengubah air laut menjadi air tawar bahkan air siap minum. Paparan tersebut kemudian menarik perhatian Menteri Agus yang melihat potensi penerapannya untuk menjawab kebutuhan air minum di Nusakambangan.
“Pada saat itu Pak Menteri hadir dan UNDIP menyampaikan selama ini sudah banyak melakukan kegiatan tentang desalinasi, mengubah air asin menjadi air tawar dan bahkan air yang siap minum. Itu yang membuat Pak Menteri tertarik, khususnya untuk diterapkan di Lapas Nusakambangan yang posisinya berada di pinggir laut,” ujar Prof. Nyoman.
Ketertarikan tersebut kemudian diwujudkan melalui kerja sama antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah dengan UNDIP untuk menghadirkan teknologi desalinasi di Lapas Kelas I Batu Nusakambangan. Kerja sama tersebut ditandatangani pada April 2026, dirancang untuk menjawab persoalan klasik Nusakambangan: keterbatasan pasokan air minum di pulau yang dikelilingi laut. Di saat yang sama, kedua pihak juga membuka peluang pemanfaatan konsentrat hasil desalinasi sebagai bahan baku produksi garam di masa depan.
Saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan pada 20 Juni 2026, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, meninjau langsung instalasi desalinasi yang berdiri di kawasan Lapas Kelas I Batu Nusakambangan. Instalasi tersebut berada di tepi pantai dan bersebelahan dengan kolam budidaya sidat yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan ketahanan pangan Nusakambangan.
Peresmian operasional instalasi ditandai dengan prosesi pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya pemanfaatan teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum warga binaan dan petugas di Nusakambangan.
Instalasi yang kini beroperasi tersebut memanfaatkan air laut sebagai bahan baku utama. Melalui teknologi reverse osmosis (RO), air laut diolah menjadi air layak konsumsi yang dapat langsung diminum.
Kapasitas produksinya mencapai dua puluh ribu liter per hari, jauh melampaui kebutuhan konsumsi harian warga binaan dan petugas yang saat ini berkisar 29.700 liter per minggu. Yang menarik, sistem tersebut tidak bergantung sepenuhnya pada listrik konvensional. Instalasi desalinasi memanfaatkan panel surya (solar panel) sebagai sumber energi utama sehingga operasionalnya lebih efisien dan berkelanjutan.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengatakan pemanfaatan energi surya menjadi salah satu keunggulan teknologi yang dikembangkan UNDIP. Menurutnya, integrasi teknologi desalinasi dengan energi terbarukan memungkinkan penyediaan air minum berlangsung lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Saat meninjau instalasi desalinasi bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto serta Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, Suharnomo menyampaikan bahwa pemanfaatan panel surya menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan teknologi yang tidak hanya menjawab kebutuhan air minum, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan.

“Kami sangat senang karena kebutuhan air di Nusakambangan ini dapat dipenuhi dari air laut menggunakan mesin desalinasi karya UNDIP yang dikembangkan Prof. Nyoman dengan memanfaatkan solar panel,” ujar Prof. Suharnomo.
Apresiasi terhadap inovasi tersebut juga disampaikan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto. Menurutnya, teknologi desalinasi UNDIP menjadi solusi nyata bagi daerah yang menghadapi keterbatasan air bersih.
“UNDIP ikut bantu di sini, di Nusakambangan. Air yang susah, ini bisa air laut yang sebenarnya kita tinggal ngambil saja. Diolah bisa jadi air bersih yang siap untuk diminum. Ini inovasi yang luar biasa dan mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi di daerah-daerah lain,” ujarnya.
Lingkungan: Menjaga Ekosistem Laut Saat Mengambil Airnya
Pertanyaan yang sering muncul setiap kali teknologi desalinasi diperkenalkan adalah dampaknya terhadap lingkungan. Prof. Nyoman memastikan sistem yang dikembangkan UNDIP dirancang agar tetap menjaga ekosistem laut.
Pengambilan air dilakukan menggunakan aliran gravitasi dan pompa berkapasitas kecil sehingga tidak menimbulkan pusaran yang dapat menyedot ikan maupun biota laut lainnya.
“Kalau kita menggunakan pompa skala besar, ikan dan organisme lain bisa ikut tersedot. Sistem yang kami gunakan berbeda. Alirannya sangat pelan,” ujarnya.
Bahkan, air konsentrat atau air reject hasil proses desalinasi tidak dipandang sebagai limbah semata. Ke depan, UNDIP melihat peluang pemanfaatannya sebagai bahan baku produksi garam sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia.
Menurut Prof. Nyoman, manfaat lingkungan lainnya adalah berkurangnya ketergantungan terhadap eksploitasi air tanah. Dengan memanfaatkan air laut sebagai sumber utama, tekanan terhadap cadangan air tanah dapat ditekan.
Ekonomi: Mengurangi Ketergantungan dari Luar Pulau
Sebelum instalasi desalinasi hadir, pemenuhan kebutuhan air minum di Nusakambangan memerlukan biaya logistik yang tidak kecil. Air harus dibeli dari luar pulau dan dikirim secara berkala menggunakan transportasi penyeberangan. Ketika cuaca memburuk, distribusi air pun kerap menghadapi kendala.
“Biaya pembelian air minum, biaya transportasi distribusi dari daratan, serta berbagai biaya operasional yang sebelumnya dikeluarkan dapat ditekan secara signifikan,” kata Dr. Irfan.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran teknologi desalinasi tidak hanya menghadirkan sumber air minum baru, tetapi juga meningkatkan efisiensi anggaran sekaligus memperkuat kemandirian Nusakambangan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Jika sebelumnya kebutuhan air harus dipenuhi melalui pasokan dari luar pulau dengan berbagai tantangan distribusi dan cuaca, kini sebagian kebutuhan tersebut dapat diproduksi sendiri. Kehadiran sumber air minum yang dekat, stabil, dan berkelanjutan menjadi fondasi penting bagi pengembangan kawasan ketahanan pangan yang terus tumbuh di Nusakambangan.
Kapasitas produksi instalasi yang mencapai sekitar 20.000 liter per hari dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum warga binaan dan petugas yang saat ini berkisar 29.700 liter per minggu.
Sosial: Transfer Pengetahuan, Menumbuhkan Harapan
Dampak paling menarik justru tidak berada di dalam mesin. Dampak itu terlihat pada warga binaan yang setiap hari belajar mengoperasikan instalasi tersebut.
UNDIP melatih tiga hingga empat warga binaan secara berkelanjutan untuk menjadi operator desalinasi. Mereka mempelajari seluruh proses, mulai dari pengambilan air laut, filtrasi, pengoperasian mesin RO, hingga perawatan sistem.
Karena operator yang ada saat ini suatu saat akan bebas, proses transfer pengetahuan dilakukan terus-menerus kepada kelompok berikutnya.
“UNDIP bertugas mendesain, menginstal, memberikan pelatihan sampai supervisi meskipun mesin ini sudah selesai dibangun,” kata Prof. Nyoman.
Salah satu peserta pelatihan adalah Bagus Setiawan, warga binaan Lapas Terbuka Nusakambangan. Awalnya ia belum pernah melihat mesin pengolahan air laut. Kini ia mampu menjelaskan tahapan kerja sistem tersebut dari awal hingga akhir. Yang lebih menarik, pelatihan itu memunculkan ide baru tentang masa depannya.
“Harapannya kalau sudah keluar bisa bikin usaha kayak gini,” ujarnya.
Bagi Bagus, manfaat teknologi ini tidak hanya soal keterampilan. Ia juga merasakan langsung perbedaan kualitas air yang dihasilkan.
“Sebelumnya susah sih, karena di Nusakambangan pegunungan kapur. Tapi dari penyulingan ini sudah tidak ada kapurnya. Kalau air campuran kapur rasanya hambar. Tapi kalau air penyulingan dari laut, ada rasa manisnya. Lebih segar,” ujarnya lebih lanjut.
Di Nusakambangan, transformasi tidak hanya terjadi pada lahan tidur yang berubah menjadi kawasan produktif. Transformasi juga terjadi pada air laut yang berubah menjadi air minum, dan pada warga binaan yang memperoleh keterampilan baru untuk menyongsong kehidupan setelah bebas.
Menopang Transformasi Nusakambangan
Dalam kunjungannya ke Nusakambangan, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, menyebut teknologi desalinasi UNDIP sebagai inovasi yang layak dikembangkan di daerah lain.
“Ini inovasi yang luar biasa. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi di daerah-daerah lain,” katanya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan transformasi yang kini sedang berlangsung di Nusakambangan. Pulau yang selama ini identik dengan penjara perlahan berubah menjadi kawasan produktif berbasis pertanian, peternakan, perikanan, dan budidaya pangan.
Dalam transformasi itu, teknologi desalinasi mungkin hanya sebuah instalasi di tepi laut. Namun tanpa air minum yang cukup, ketahanan pangan sulit tumbuh. Tanpa transfer pengetahuan, teknologi sulit bertahan. Dan tanpa keberlanjutan lingkungan, pembangunan tidak akan berlangsung lama. Karena itu, di Nusakambangan, mesin desalinasi bukan sekadar alat pengubah air laut menjadi air minum. Ia menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan, ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, efisiensi ekonomi, dan harapan bagi mereka yang sedang mempersiapkan jalan pulang. (Komunikasi Publik/UNDIP/Ninok Hariyani)













