UNDIP, Semarang (9/7) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkaya keilmuan dengan mengukuhkan 5 (lima) guru besar dari Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Acara Upacara Pengukuhan Guru Besar Universitas Diponegoro berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026 pukul 09:00 WIB di gedung Prof. Sudarto SH, kampus UNDIP Tembalang—dengan pelantikan sebagai guru besar kepada: Prof. Dr. Ir. Budi Setiyana, M.T. (FT); Prof. Dr. Eng. Ir. Gunawan Dwi Haryadi, S.T., M.T., IPU. (FT); Prof. Dr. Ir. Retno Hartati, M.Sc. (FPIK); Prof. Dr. Ahyar Yuniawan, S.E., M.Si. (FEB); dan Prof. Ir. Ojo Kurdi, S.T., M.T., Ph.D. (FT).
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. melantik kelima guru besar dan memberikan apresiasi kepada seluruh guru besar atas dedikasinya menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Prof. Suharnomo berpesan bahwa guru besar adalah cendekiawan yang harus bisa menjadi role model di masyarakat, dengan mengamalkan wisdom, kebijakan, dan kebajikan dalam hidup.
“Di UNDIP, kita punya UNDIP Rumah Kita, Diponegoro Edu Park, Car Free Day (CFD) di Jembatan Sikatak UNDIP, dan lintasan lari terbaru di stadion UNDIP untuk mendukung sustainable lifestyle. UNDIP juga terus melaksanakan komitmen untuk bermanfaat di masyarakat, dengan pengembangan UNDIP Zero Waste, pengelolaan limbah plastik menjadi energi melalui teknologi pirolisis, water treatment machine dan solar panel yang telah terpasang di 13 titik di pulau Jawa, dan mesin desalinasi untuk suplai air bersih yang juga dikirim ke pulau Sumatera (daerah pasca-bencana banjir) dan pulau Nusakambangan. Ke depannya, kami juga akan membangun UNDIP Manufacturing Center untuk memproduksi mesin hasil inovasi. Kampus harus optimis, mari kita berbakti untuk pembangunan bangsa ini,” kata Rektor UNDIP.
Pada sesi pidato ilmiah, Prof. Dr. Ir. Budi Setiyana, M.T. (FT) memaparkan tentang “Peningkatan Performa dan Keandalan Bantalan Mesin Berbasis Pengembangan Rekayasa Permukaan Kontak.” Pada dasarnya, bantalan mempunyai masa pakai yang terbatas karena mengalami kerusakan berupa keausan pada permukaan poros rotor dan permukaan bantalan (bushing). Laju keausan yang tinggi menyebabkan pendeknya umur pakai bantalan sehingga menjadikan turunnya keandalan bantalan. Melalui rekayasa permukaan, maka dihasilkan tekstur permukaan (secara fisik) dan memberi pelapis permukaan (secara kimiawi).

Pemberian pelapis hidrofobik dapat meningkatkan performa tribologi bantalan secara signifikan melalui struktur sistem elasto-hydrodynamic (EHD) yang lebih realistis dibanding model struktur hydrodynamic (HD). Pemodelan bantalan sebagai sistem EHD dilakukan dengan menerapkan formulasi Fluid-Structure Interaction (FSI) secara iteratif untuk mendapat deformasi elastis yang terjadi pada struktur bantalan. “Rekayasa permukaan dengan pelapis hidrofobik terbukti mengurangi kebisingan sekitar 5.5%, menaikkan daya dukung beban sekitar 40%, dan menurunkan gaya gesek sekitar 8.6%,” terang Prof. Budi.
Selanjutnya, dengan materinya berjudul “Teknologi Berkelanjutan Friction Stir Welding untuk Manufaktur Hijau dan Transportasi Masa Depan,” Prof. Dr. Eng. Ir. Gunawan Dwi Haryadi, S.T., M.T., IPU. (FT) menjelaskan mengenai teknologi Friction Stir Welding (FSW)sebagai solusi manufaktur hijau, efisiensi energi, dan pembangunan transportasi aman serta berkelanjutan.

Secara konvensional, kendaraan listrik menggunakan material baja karbon. Kini, dinilai kurang ideal karena rentan korosi, memiliki bobot yang relatif tinggi, dan metode pengelasannya memiliki keterbatasan. Dari hasil penelitiannya, Prof. Gunawan menunjukkan bahwa kombinasi material aluminium dan teknologi Friction Stir Welding (FSW) mampu menjadi solusi, karena FSW bekerja pada fase padat tanpa mencairkan logam, sehingga menghasilkan sambungan yang lebih rapat, kuat, dan minim cacat. Penelitian pada sambungan paduan aluminium menunjukkan hasil optimal dengan kualitas sambungan terbaik diperoleh pada kecepatan putar tool sebesar 1400 rpm.
“Temuan tersebut kemudian diterapkan pada pengembangan struktur bus listrik berbahan aluminium, khususnya pada sambungan rangka yang berperan penting dalam menjaga keselamatan penumpang saat terjadi kecelakaan. Ke depan, inovasi ini akan dilengkapi dengan integrasi teknologi pengelasan dengan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), sensor cerdas, sistem robotik, dan konsep Welding 4.0, sebuah ekosistem pengelasan otomatis yang mampu memantau proses secara real-time sekaligus mendeteksi cacat secara mandiri,” jelas Prof. Gunawan.
Paparan ilmiah selanjutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Retno Hartati, M.Sc. (FPIK) dengan judul “Sea Ranching Teripang: Strategi Konservasi untuk Pengelolaan Berkelanjutan di Perairan Indonesia.” Faktanya, teripang adalah biota laut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi di Indonesia. Akan tetapi, eksploitasi berlebih karena tingginya permintaan pasar internasional dan degradasi habitat menyebabkan penurunan populasi teripang di banyak wilayah Indonesia. Prof. Retno tergerak untuk mengembangkan “Sea Ranching Teripang,” sebuah strategi konservasi sederhana dengan metode put-grow-take (tebar-tumbuh-panen).

Berdasarkan penelitian, sea ranching mampu meningkatkan kelimpahan teripang, memperbaiki kualitas sedimen, dan mendukung biodiversitas organisme bentik. Pengembangannya memberikan dampak sosial-ekonomi yang positif bagi masyarakat pesisir, di mana kawasan sea ranching dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium alam (teaching factory) yang melindungi habitat asli teripang. Prof. Retno menyebutkan, “Sea ranching berjalan dengan prinsip ekonomi biru dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya konservasi sumber daya laut dan menjaga ekosistem habitat teripang.”
Kemudian Prof. Dr. Ahyar Yuniawan, S.E., M.Si. (FEB) mempresentasikan tentang “Optimalisasi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Berbasis Teknologi: Menuju Kinerja SDM dan Keunggulan Layanan.” Prof. Ahyar mengkaji sebuah pendekatan strategis, technology-driven human resource development, untuk menjembatani investasi teknologi dengan peningkatan kinerja SDM dan keunggulan layanan. Pendekatan ini dibangun melalui tiga tahapan utama yang saling berkaitan, yakni (1) adopsi teknologi melalui pemanfaatan HRIS, e-learning, dan AI dalam berbagai fungsi pengelolaan SDM, (2) peningkatan kualitas SDM melalui penguatan kompetensi digital, literasi AI, kemampuan adaptasi, dan keterlibatan kerja karyawan, dan (3) transformasi untuk layanan yang lebih cepat, akurat, responsif, dan bernilai lebih bagi pelanggan.

Model ini mengintegrasikan perspektif Transaction Cost Economics (TCE) dan Service Encounter Triad (SET). “Efektivitas organisasi menjadi pusat yang menghubungkan mutu layanan, kepuasan pelanggan, retensi pelanggan, citra institusional, dan reputasi institusional. Transformasi digital inklusif dan berkelanjutan dapat dicapai melalui implementasi HR digital dan HR strategy,” pungkas Prof. Ahyar.
Pidato selanjutnya disampaikan oleh Prof. Ir. Ojo Kurdi, S.T., M.T., Ph.D. (FT). membahas “Kontribusi Analisis Kegagalan Struktur terhadap Peningkatkan Keandalan dan Efisiensi Komponen Mesin Menuju Kemandirian Otomotif dan Industri Nasional.” Dalam perkembangan teknologi otomotif dan mesin industri modern, berbagai komponen kritis seperti bearing, poros (shaft), gear, dan chassis kendaraan, bekerja di bawah beban statik dan dinamik yang kompleks. Komponen tersebut rentan mengalami deformasi, keausan, retak, kelelahan, dan kegagalan struktural. Atas dasar tersebut, Prof. Ojo Kurdi mengkaji peningkatan keandalan dan efisiensi energi komponen mesin dengan mengintegrasikan analisis numerik berbasis Finite Element Method (FEM), pengujian eksperimental, serta rekayasa permukaan (surface engineering).

Prof. Ojo Kurdi mengembangkan rekayasa permukaan melalui teknologi surface texturing dan coating-assisted laser micromachining pada material Ultra-High Molecular Weight Polyethylene (UHMWPE). “Hasil penelitian menunjukkan bahwa teksturisasi mikro pada permukaan komponen dapat membentuk reservoir pelumas yang menjaga kontinuitas film pelumas, meningkatkan distribusi beban, dan menurunkan gaya gesek secara signifikan,” katanya.
Melalui pengukuhan guru besar ini, Universitas Diponegoro menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi masyarakat. Capaian akademik ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi civitas academica untuk terus menghasilkan karya dan inovasi yang berkualitas dan mendukung lahirnya inovasi yang berkelanjutan. (Komunikasi Publik/UNDIP/Titis)








