UNDIP, Semarang (6/2) – Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Diponegoro (UNDIP) menyelenggarakan Lokakarya Program Penguatan Diri dan Karakter Mahasiswa pada Jumat (6/2/2026) di Aula Lantai 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNDIP, Tembalang. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00-16.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang terdiri atas pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris program studi, serta tim task force Pendidikan Karakter (Pendikar) UNDIP.
Lokakarya mengusung tagline “Wujudkan Kompetensi COMPLETE (Communicator, Professional, Leader, Entrepreneur, Thinker, dan Educator)” sebagai upaya penguatan karakter dan kesiapan mahasiswa UNDIP dalam menghadapi tantangan dunia akademik dan dunia kerja yang semakin dinamis, khususnya di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dr. Ir. Abdul Syakur, S.T., M.T., IPU, Wakil Direktur Layanan Kemahasiswaan dan Alumni UNDIP. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguatan komunikasi dan pendampingan akademik mahasiswa agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi yang berpotensi berkembang menjadi isu di tengah masyarakat.
“Apabila persoalan mahasiswa tidak cepat direspons dan diklarifikasi, informasi yang belum tentu benar dapat berkembang liar. Oleh karena itu, program studi, fakultas, dan unit terkait harus menjadi garda terdepan dalam mendampingi mahasiswa serta memastikan alur komunikasi berjalan dengan baik,” ungkap Abdul Syakur. Ia menambahkan bahwa UNDIP telah merancang kompetensi COMPLETE sebagai fondasi lulusan agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter profesional, kepemimpinan, serta jiwa kewirausahaan yang kuat.
Lokakarya ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Annastasia Ediati, S.Psi., M.Sc., Ph.D., Psikolog, Kepala UPT Layanan Konsultasi, Disabilitas, Penegakan Disiplin, dan Etika Mahasiswa UNDIP, serta Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM.
Dalam paparannya bertajuk “Gen Z dan Problematikanya di Era AI”, Annastasia Ediati, Ph.D., menyampaikan bahwa program pendidikan karakter yang telah berjalan lebih dari dua dekade perlu direformulasi menjadi program penguatan diri dan karakter mahasiswa yang lebih relevan dengan kondisi riil mahasiswa dan tuntutan dunia kerja. Evaluasi menunjukkan bahwa pendekatan lama cenderung bersifat top-down, tidak merata, dan kurang efektif, sementara tantangan mahasiswa saat ini semakin kompleks.
Ia menyoroti meningkatnya tekanan akademik, pengaruh media sosial dan fenomena fear of missing out (FOMO), serta isu kesehatan mental. Berdasarkan berbagai temuan, sekitar 42 persen mahasiswa melaporkan mengalami kecemasan atau depresi, ditambah tekanan finansial dan kelelahan digital akibat paparan daring yang berlebihan. “Dunia industri justru lebih menekankan soft skill seperti tanggung jawab, adaptivitas, integritas, dan sikap belajar mandiri. Hard skill dapat dipelajari dengan cepat, termasuk melalui teknologi dan AI, tetapi karakter dan ketangguhan mental membutuhkan proses yang terstruktur dan berkelanjutan,” jelas Annastasia, Ph.D.
Sementara itu, Daud Samsudewa, Ph.D., dalam materinya “Tren Soft Skills di Era Artificial Intelligence” menekankan bahwa soft skill merupakan modal utama yang perlu diperkuat melalui proses pendidikan tinggi. “Kuliah bukan hanya memberikan materi akademik, tetapi juga membentuk soft skill. Tantangannya adalah menghasilkan lulusan yang adaptif, kreatif, mampu memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, memiliki kepemimpinan, etika kerja, dan manajemen waktu,” ungkapnya.
Menurut Daud Samsudewa, Ph.D., transformasi pendidikan di era AI bukan sekadar perubahan kurikulum, melainkan integrasi antara hard skill dan soft skill untuk menghasilkan alumni pemimpin yang berintegritas. Nilai-nilai UNDIP yang berorientasi pada integritas perlu diinternalisasikan secara konsisten dalam seluruh proses pendidikan agar menghasilkan lulusan yang utuh dan berdaya saing.
Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi kelompok, evaluasi pelaksanaan Program Pendikar sebelumnya, serta presentasi hasil diskusi dari masing-masing kelompok. Hasil diskusi tersebut diharapkan menjadi bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program penguatan diri dan karakter mahasiswa UNDIP yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Melalui lokakarya ini, UNDIP menegaskan komitmennya untuk membangun lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai karakter, integritas, serta kepedulian terhadap kesejahteraan mahasiswa. (Komunikasi Publik/UNDIP/Hani & As3)







