Melangitkan Ramadan dengan Menata Hati, Menata Diri Bersama Bunda Darosy

UNDIP, Semarang (18/3) – Dra. Darosy Endah Hyoscyamina, M.Pd., atau yang akrab dipanggil Bunda Darosy, adalah dosen di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dengan kepakaran  Pendidikan Keluarga dan Pembentukan Karakter Islami.

Selain menjadi seorang akademisi, Bunda Darosy juga aktif berdakwah bersama dengan keluarganya. Sehingga nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga diwujudkan dalam praktik kehidupan nyata melalui suri teladan dari keluarganya.

Hal tersebut kemudian mengantarkannya meraih berbagai penghargaan nasional, di antaranya sebagai “Keluarga Berprestasi Nasional” (2005) dan “Keluarga Pendakwah Nasional” (2007). Selain itu, dedikasinya dalam program “Dari Keluarga dengan Cinta untuk Indonesia” juga mendapat apresiasi dari Dompet Dhuafa dan Republika sebagai “Tokoh Kampung Inspiratif” pada tahun 2011, serta penghargaan dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih.

Lebih jauh lagi, kiprahnya menjangkau ruang publik melalui berbagai media, seperti program “Klinik Sakinah” dan “Rumahku Surgaku”, yang secara konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keluarga harmonis. Bahkan, berkat dedikasinya, beliau beberapa kali diundang tampil dalam forum kenegaraan di hadapan Presiden SBY dan Wakil Presiden JK, termasuk pada peringatan nasional di Istana Negara, sehingga perannya tidak hanya berdampak di tingkat lokal, tetapi juga nasional.

Dalam sesi podcast bersama UNDIP TV, dengan tema “Melangitkan Ramadan dengan Menata Hati Menata Diri”, Bunda Darosy menjelaskan bahwa bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan keistimewaan. “Ramadan itu bulan yang sangat istimewa. Di dalamnya ada malam Lailatul Qadar yang pahalanya itu lebih dari 1000 bulan. Kalau dihitung, 83 tahun lebih. Bulan ini pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka, serta kita akan mendapatkan rahmat, berkah dan ampunan dari Allah.” jelasnya

Pada bulan ini diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa melalui Q.S. Al-Baqarah ayat 183. Walaupun sudah melaksanakan ibadah puasa, masih menggunjing orang, berkata kotor, dan marah-marah, dan lain sebagainya. Hal tersebut dikarenakan hatinya belum tertata dengan benar, sehingga puasa hanya menahan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, menata hati dan menata diri adalah suatu keharusan agar hati menjadi sehat, sehingga dapat menumbuhkan semangat dalam beribadah baik wajib maupun sunnah, serta memiliki ketajaman dalam berpikir, serta mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. “Makanya di sini kuncinya adalah kita harus bisa menjaga hati, menata diri,” ungkapnya.

Bunda Darosy juga memberikan tips agar dapat mengobati hati yang sakit. Melalui lagu “Obat Hati”, beliau menjelaskan bahwa mengobati hati yang sakit itu ada lima perkara, yaitu membaca Al-Qur’an dan maknanya, mendirikan salat malam, berkumpul dengan orang saleh, memperbanyak berpuasa, serta memperpanjang zikir malam. “Nah, semua itu insyaallah bisa kita lakukan kalau kita senang  belajar ilmu agama,” pungkasnya. (Komunikasi Publik/UNDIP/AKS)

Share this :