UNDIP, Semarang — Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro memperkuat budaya riset internasional dengan mengundang Dr. Micah R. Fisher, peneliti School of Communication and Information, College of Social Sciences, University of Hawaiʻi at Mānoa, Amerika Serikat. Ia yang sebelumnya peneliti East West Center (EWC) USA ini, hadir di FISIP tanggal 2-3 Juni 2026 sebagai bagian dari Equity Program UNDIP 2025/ 2026 dalam skema joint supervision.
Melalui program ini, Dr. Micah juga memberikan pembimbingan akademik kepada mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP UNDIP yang tengah melakukan riset bertema Sustainable Development Goals atau SDGs. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FISIP UNDIP untuk memperluas jejaring akademik internasional, meningkatkan kualitas riset, serta memperkuat tradisi publikasi ilmiah bereputasi.
Selain melakukan pembimbingan riset, Dr. Micah juga menjadi pembicara dalam forum akademik untuk mahasiswa dan dosen bertajuk “Strengthening Academic Productivity through Research and Publication” yang dimoderatori oleh Dr. Phil. Nuriyatul Lailiyah, S.Sos., M.I.Kom., dosen Departemen Ilmu Komunikasi.
Dekan FISIP, UNDIP, Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan ini. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Dr. Agus Naryoso, S.Sos., M.Si., Ketua KBK Sosiologi Media, Dr. Nurul Hasfi, M.A., serta Dr. Micah R. Fisher yang telah berbagi pengalaman dan wawasan akademik dengan sivitas akademika FISIP UNDIP.
“Kegiatan semacam ini diharapkan dapat semakin memperkuat academic culture sekaligus meningkatkan academic reputation FISIP UNDIP di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Teguh.
Dalam sambutannya, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP, Dr. Agus Naryoso, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa budaya akademik yang kuat merupakan fondasi penting bagi lahirnya riset yang berkualitas. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga perlu memastikan bahwa riset yang dilakukan memiliki relevansi sosial, kontribusi keilmuan, dan dampak bagi masyarakat.

Budaya riset yang hidup, kata Agus, tumbuh dari tradisi bertanya, berdiskusi, menguji gagasan, serta membangun kolaborasi lintas institusi. Karena itu, kehadiran peneliti internasional seperti Dr. Micah menjadi momentum penting untuk memperkaya perspektif mahasiswa dan dosen dalam mengembangkan riset yang lebih tajam, kontekstual, dan berdampak.
Dalam paparannya, Dr. Micah yang juga yang juga editor-in-chief Jurnal Forest and Society ini membawakan materi “Making Magic: 10 Keys to Academic Productivity, Quality, and Impact”. Ia mengajak mahasiswa dan dosen untuk memandang penelitian bukan semata-mata sebagai kewajiban akademik, melainkan sebagai proses intelektual yang lahir dari rasa ingin tahu, konsistensi, dan komitmen untuk memberi kontribusi bagi masyarakat.
Menurut Dr. Micah, produktivitas akademik tidak hanya diukur dari jumlah publikasi. Lebih dari itu, produktivitas akademik harus ditopang oleh kemampuan membangun pertanyaan riset yang bermakna, keberanian membaca persoalan sosial secara kritis, serta kesungguhan menghasilkan karya ilmiah yang memiliki kualitas dan dampak.
Ia menekankan bahwa penelitian yang baik selalu berangkat dari pertanyaan yang penting. Pertanyaan itulah yang kemudian mengarahkan peneliti untuk memilih metode, membaca data, menafsirkan temuan, dan menyusun argumentasi ilmiah secara bertanggung jawab. Dengan cara itu, publikasi ilmiah tidak berhenti sebagai capaian administratif, tetapi menjadi bagian dari kontribusi akademik terhadap ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat.
Dr. Micah juga membagikan pengalamannya sebagai akademisi yang memiliki perhatian pada isu environment, equity, and social change. Sebelumnya, ia juga berkiprah sebagai peneliti di East-West Center, Honolulu, Amerika Serikat. Pengalaman tersebut memberi perspektif global mengenai bagaimana riset komunikasi dapat terlibat dalam isu lingkungan, keadilan sosial, perubahan sosial (equity), dan tata kelola kebijakan publik.
Membimbing Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Teliti Isu Energi dan Banjir Demak
Dalam program ini, Dr. Micah memberikan pendampingan riset kepada mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP bersama Dr. Nurul Hasfi. Proses joint supervision berlangsung selama dua bulan, sejak Maret hingga April 2026, dan ditutup dengan kegiatan tatap muka di FISIP UNDIP sebagai puncak rangkaian The Equity Program yang secara resmi berakhir pada 5 Juni 2026.
Dua mahasiswa yang mengikuti program tersebut, Suwarno dan Kristiyawanto, mengembangkan penelitian mengenai SDGs 7 (Affordable and Clean Energy) dengan fokus pada kebijakan energi terbarukan pemerintah, tema yang sejalan dengan kepakaran Dr. Micah. Selain memperoleh pembingan, keduanya juga terlibat dalam riset dan penulisan artikel yang dipimpin Dr. Nurul terkait SDGs 13 (Climate Action) mengenai media dan banjir Demak.
“Suwarno dan Kris merupakan mahasiswa pekerja keras yang memiliki semangat untuk belajar dan maju. Selain memiliki penelitian dengan tema SDGs sebagaimana disyarakatkan program ini, keduanya juga memiliki kemampuan analisis sangat baik dan telah menguasai metode Discourse Network Analysis atau DNA yang kita digunakan dalam kedua studi ini”, katanya.

Nurul menambahkan, penelitian banjir Demak mengkaji peran media dalam komunikasi lingkungan, manajemen bencana, dan disaster governance di kawasan Pantura Jawa Tengah. Media yang diteliti meliputi media pemerintah dan media massa yang secara intensif memberitakan banjir di wilayah tersebut. Studi ini memberi kontribusi bagi penguatan tata kelola bencana, terutama dalam memahami bagaimana media membingkai peristiwa banjir, bagaimana aktor-aktor terkait muncul dalam pemberitaan, serta bagaimana komunikasi publik dapat mendukung koordinasi penanganan bencana secara lebih efektif.
Selain terlibat dalam penelitian tentang banjir Demak, Suwarno dan Kris mendapat bimbingan Dr Micah dalam menulis artikel ilmiah berjudul “Normalizing Green Extractivism in Indonesia: Discourse Network Analysis of Media Coverage on the E10 Bioethanol Policy” yang saat ini telah disubmit di jurnal internasional bereputasi.
Studi tersebut menganalisa bagaimana media online membentuk pemahaman publik terhadap transisi energi dan tata kelola lingkungan dan mengeksplorasi bagaimana wacana media dapat mereproduksi dan menormalisasi praktik green extractivism dalam konteks transisi energi berbasis lahan di Indonesia. Kajian ini juga menyoroti strategi komunikasi politik para aktor negara dalam mempromosikan kebijakan bioetanol E10.
Dr. Micah mengaku terkesan dengan antusiasme mereka dan dukungan institusi selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, dukungan fakultas, departemen, dosen, dan komunitas akademik merupakan faktor penting dalam membangun ekosistem riset yang produktif dan berkelanjutan.
“Saya sangat excited terhadap antusiasme dan dukungan yang sangat luar biasa dari institusi, baik dari Departemen Ilmu Komunikasi maupun dari FISIP UNDIP,” ungkap Dr. Micah.

Selama kegiatan luring, Dr Micah juga berdiskusi dan memberikan review pada draf artikel jurnal yang akan disubmit di jurnal internasional bereputasi oleh civitas academica Departemen Ilmu Komunikasi. Melalui kegiatan ini, FISIP UNDIP menegaskan komitmennya untuk memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, dan memperluas jejaring kolaborasi internasional. Kolaborasi dengan peneliti dari University of Hawaiʻi at Mānoa menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman belajar global bagi mahasiswa, sekaligus memperkuat kontribusi riset UNDIP terhadap isu-isu penting di tingkat lokal, nasional, dan internasional.
Semangat kolaborasi, produktivitas akademik, dan keberpihakan pada riset berdampak menjadi fondasi penting bagi FISIP UNDIP dalam mendukung pencapaian Universitas Diponegoro sebagai World Class University. (Komunikasi Publik/ FISIP/ M. Rif’at. Ed. Nurul)








