UNDIP, Semarang (8/6) – Universitas Diponegoro terus meneguhkan perannya dalam pembangunan nasional dengan mengambil bagian strategis pada program Ekspedisi Patriot yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Melalui program ini, UNDIP menjadi satu dari tujuh perguruan tinggi terbaik yang di tahun 2025 dan 2026 dipercaya mengawal transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi lokal.
Komitmen tersebut turut dibahas dalam dialog inspiratif menghadirkan Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani, S.T., M.T., M.P.S., Guru Besar Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik UNDIP yang juga bertindak sebagai Person in Charge (PIC) Ekspedisi Patriot UNDIP. Ia menjelaskan program ini menjadi ruang nyata bagi civitas academica untuk menghubungkan keilmuan dengan kebutuhan riil masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Ekspedisi Patriot dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi kawasan transmigrasi, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga kapasitas sumber daya manusia. Dalam perspektif ketahanan wilayah dan kota (urban and regional resilience), pendekatan ini dinilai penting untuk mendorong kawasan agar mampu beradaptasi, bertahan, sekaligus berkembang di tengah dinamika lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Kementerian mengombinasikan pendekatan lama dengan menghadirkan SDM unggul dari perguruan tinggi. Harapannya, perencanaan kawasan menjadi lebih terarah, sehingga ke depan wilayah transmigrasi dapat tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi baru,” ujar Prof. Wiwandari.
Dalam pelaksanaan tahun 2025, UNDIP menerjunkan puluhan tim peneliti muda yang terdiri dari dosen, alumni, dan mahasiswa. Selama kurang lebih empat bulan, mereka tinggal langsung di lokasi untuk melakukan pemetaan komprehensif, menelusuri potensi unggulan seperti pertanian, peternakan, dan perikanan, sekaligus mengevaluasi perkembangan kawasan dari waktu ke waktu. Tidak hanya berhenti pada kajian, tim juga melakukan intervensi nyata, seperti membantu penyediaan akses air bersih di wilayah yang mengalami keterbatasan.
“Ekspedisi Patriot menugaskan satu tim untuk mendampingi satu kawasan transmigrasi. Setiap tim terdiri atas lima orang, yaitu satu ketua dan empat anggota yang dapat berasal dari unsur mahasiswa, alumni, maupun peneliti muda. Mereka tinggal di lokasi selama kurang lebih empat bulan untuk melakukan kajian, berinteraksi dengan masyarakat, serta memberikan dukungan konkret sesuai kebutuhan wilayah, diantaranya memahami kondisi lapangan, mengidentifikasi potensi unggulan, serta menyusun kajian yang dapat menjadi dasar pengembangan kawasan,” terang Prof. Wiwandari.
Kepercayaan pemerintah kepada UNDIP tidak terlepas dari rekam jejak panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas. Pada tahap awal, sebanyak 57 tim dengan total 285 orang yang disebar ke berbagai wilayah luar Pulau Jawa, mencakup wilayah Aceh, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebaran ini menjadi bukti kontribusi UNDIP yang menjangkau berbagai zona strategis nasional.
Pengalaman di lapangan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi para peserta. Prof. Wiwandari menceritakan bagaimana perjalanan memantau langsung para mahasiswa di lapangan menjadi sebuah refleksi mendalam, bukan sekadar tugas profesional. Medan yang ekstrem, akses jalan tanah yang menantang di tepi jurang, hingga keharusan menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda (4WD) menjadi makanan sehari-hari tim di lapangan. Namun, kendala geografis tersebut justru menumbuhkan ruang pembelajaran yang luar biasa bagi mahasiswa untuk memahami Indonesia secara utuh.
Lebih dari sekadar kegiatan akademik, Ekspedisi Patriot juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan. Peserta dilatih untuk bekerja lintas disiplin, mengambil keputusan di tengah keterbatasan, serta membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat. Dari proses tersebut tumbuh kesadaran bahwa ilmu pengetahuan harus hadir sebagai solusi nyata, sekaligus memperkuat empati dan semangat kebangsaan.
Pada kesempatannya, Prof. Wiwandari menyebutkan program Ekspedisi Patriot 2026 menghadirkan keterlibatan yang semakin luas dengan total 24 tim yang akan diberangkatkan ke berbagai wilayah strategis, yakni 20 tim di Senggi, Keerom, Papua, dan 4 tim di Sumatera Selatan. “Setiap tim dipimpin oleh dosen yang lolos seleksi proposal berbasis keberlanjutan program tahun sebelumnya, sekaligus diperkuat oleh lima anggota yang berasal dari beragam latar belakang, baik mahasiswa, mitra yang merupakan alumni UNDIP, serta non-mitra dari luar UNDIP,” jelasnya. Komposisi ini mencerminkan semangat kolaborasi lintas komunitas dalam menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
“Saat ini, proses seleksi anggota masih berlangsung melalui penjaringan berkas dan pendaftaran yang masuk. Para peserta terpilih nantinya akan mengikuti pembekalan intensif pada Juli sebelum diberangkatkan pada akhir bulan yang sama. Secara keseluruhan, Ekspedisi Patriot 2026 akan melibatkan 120 anggota dan 24 ketua tim, menjadi wujud nyata kontribusi akademisi dan generasi muda dalam mendukung pembangunan berbasis pengabdian di berbagai daerah Indonesia,” ungkap Prof. Wiwandari.
UNDIP berharap dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di masyarakat. Keterlibatan aktif dalam Ekspedisi Patriot menjadi wujud nyata komitmen UNDIP untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak, sekaligus mendorong terwujudnya kawasan transmigrasi yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing. Perbincangan lengkap dapat disaksikan melalui kanal resmi YouTube UNDIP TV. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)














