UNDIP, Semarang (2/7) – Bertempat di DIPO HUB kampus UNDIP, Tembalang, Universitas Diponegoro melalui KKIB Fakultas Ekonomi UNDIP, Kantor Hilirisasi dan Inkubasi Bisnis (KHIB) serta Direktorat Inovasi dan Kerja Sama yang bekerja sama dengan Kementerian UMKM Republik Indonesia menyelenggarakan forum “Strategi Transformatif Kewirausahaan Menuju UMKM Naik Kelas” sebagai upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga inkubator, dan dunia usaha dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang inovatif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi para pengelola inkubator bisnis di Jawa Tengah untuk berdiskusi mengenai penguatan kapasitas inkubator, pengembangan tenant berbasis inovasi, serta penyelarasan program inkubasi dengan kebijakan nasional Kementerian UMKM. Melalui forum ini, UNDIP menegaskan komitmennya untuk mengambil peran sebagai pusat inovasi yang tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga mengantarkan hasil inovasi tersebut menjadi produk dan usaha yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Direktur Inovasi dan Kerja Sama Universitas Diponegoro, Dian Harjanti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNDIP memiliki potensi besar melalui inovasi yang dihasilkan dosen, mahasiswa, dan peneliti. Potensi tersebut perlu didukung oleh ekosistem inkubasi yang kuat agar mampu melahirkan startup dan UMKM berbasis teknologi yang berdaya saing. Beliau berharap tenant binaan UNDIP maupun inkubator di Jawa Tengah dapat bersinergi dengan berbagai inovasi yang dimiliki UNDIP sehingga mampu menghasilkan produk yang bernilai tambah, membuka peluang usaha baru, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Jawa Tengah maupun Indonesia.
Lebih lanjut, UNDIP juga tengah mengembangkan kolaborasi antara startup yang dibangun oleh mahasiswa dan dosen dalam satu ekosistem inovasi yang terintegrasi. Melalui pendekatan tersebut, proses hilirisasi hasil riset diharapkan tidak berhenti pada luaran akademik, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi. UNDIP juga mendorong adanya dukungan pendampingan dari Kementerian UMKM bagi tenant hasil hilirisasi, sebagaimana skema pembinaan yang selama ini telah berjalan pada program Hiliriset.

Dalam kesempatan tersebut, Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, dalam paparannya menyampaikan strategi transformasi kewirausahaan nasional melalui penguatan ekosistem inkubator bisnis sebagai instrumen utama dalam mencetak wirausaha yang tangguh dan mendorong UMKM naik kelas.
Beliau menjelaskan bahwa prioritas Kementerian UMKM pada tahun 2026 meliputi penyusunan kebijakan dan standar nasional penyelenggaraan inkubasi, penguatan sistem informasi inkubator melalui platform SAPA UMKM, pelaksanaan pemeringkatan lembaga inkubator, serta fasilitasi dukungan strategis bagi pengembangan usaha. Melalui langkah tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan kualitas lembaga inkubator, kapasitas wirausaha, akses pembiayaan, legalitas usaha, digitalisasi, hingga perluasan akses pasar.
Riza Damanik juga memaparkan bahwa saat ini terdapat 754 lembaga inkubator yang telah terdaftar di Kementerian UMKM dan tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Keberadaan inkubator tersebut diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya wirausaha baru yang inovatif, adaptif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa proses pengembangan tenant dilakukan secara komprehensif melalui tahapan open call dan seleksi, bootcamp, business matching, coaching clinic, serta monitoring dan evaluasi. Selain itu, Kementerian UMKM juga mengembangkan program Bursa Wirausaha Unggulan yang mempertemukan pelaku usaha dengan akses pembiayaan, layanan perizinan, calon buyer, mitra bisnis, digitalisasi, serta showcase tenant terbaik dari berbagai inkubator. Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, diharapkan semakin banyak wirausaha yang mampu meningkatkan skala usahanya dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Paparan tersebut selaras dengan visi UNDIP dalam membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Melalui kolaborasi bersama Kementerian UMKM, UNDIP optimistis semakin banyak inovasi kampus yang dapat dihilirisasi menjadi produk unggulan sekaligus melahirkan wirausaha baru yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Desy Arijani, menambahkan bahwa penguatan UMKM tidak cukup hanya berfokus pada produksi, tetapi juga harus menyentuh aspek pemasaran, pembiayaan, legalitas, dan pengembangan usaha. Menurutnya, ekonomi kerakyatan harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, koperasi, dan masyarakat sehingga tercipta ekosistem pemberdayaan UMKM yang berkelanjutan.
Forum ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari berbagai inkubator bisnis di Jawa Tengah, antara lain Bynari Incubator, Hetero Inkubator, Inkubator Bisnis IKTAS, Inkubator Bisnis Kampoeng Indonesia Peduli, Inkubator Bisnis KKIB, Inkubator Bisnis MWU NU Pabelan, Inkubator Hasan Asy’ari, Inkubator Unit Bisnis LPPM UNNES, INWINOV, Nakerpreneur, Nawasena Business Lab, Semai Bisnis Sukses (SBS), Semarang Technopark, Sinersia Business Incubator, Inkubator Bisnis UDINUS, Solo Technopark, Inkubator Teknologi Bisnis UKSW, UNS Innovation, UPTD PLUT KUMKM Kota Semarang, KHIB UNDIP, dan Direktorat Inovasi dan Kerja Sama UNDIP.
Forum ini menjadi langkah nyata Universitas Diponegoro dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai katalis inovasi dan penggerak kewirausahaan berbasis riset. Dengan mempererat kolaborasi bersama Kementerian UMKM, pemerintah daerah, dan jejaring inkubator bisnis, UNDIP optimistis dapat mendorong lahirnya lebih banyak UMKM yang naik kelas, inovatif, dan berdaya saing global. Inilah komitmen Universitas Diponegoro dalam mewujudkan ” UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” melalui karya dan inovasi yang berdampak bagi kemajuan masyarakat Indonesia. (Komunikasi Publik/UNDIP)










