UNDIP, Semarang (25/7) – Universitas Diponegoro (UNDIP) menerima kunjungan Badan Industri Mineral (BIM) dalam agenda Audiensi dan Diskusi Teknis Kerja Sama pada Kamis, 23 Juli 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Rektor, Gedung Widya Puraya Lantai 2, Kampus UNDIP Tembalang tersebut menjadi langkah awal untuk mempertemukan kebutuhan pengembangan industri mineral nasional dengan kapasitas keilmuan, riset, dan teknologi yang dimiliki UNDIP.
Forum ini diikuti unsur pimpinan universitas, Fakultas Teknik, Fakultas Sains dan Matematika, UPT Laboratorium Terpadu, serta para dosen dan peneliti dari bidang kimia, fisika, biologi, dan teknik mesin. Dari BIM hadir Tenaga Ahli Utama Bambang Heru Susanto bersama Suhendra, Hasful Anwar Fathoni, dan Miranita Nariswari.
Hadir mewakili Rektor UNDIP, Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T., menyampaikan apresiasi atas inisiatif pertemuan ini. Ia menilai sektor mineral memiliki peran strategis dalam mendukung daya saing nasional, sehingga membutuhkan perhatian dan penguatan melalui kolaborasi lintas sektor yang terarah.
“Mineral merupakan salah satu produk strategis yang menjadi unggulan bagi kemandirian industri dan daya saing Indonesia. Pertemuan ini membuka ruang untuk menyatukan mandat BIM dengan kepakaran dosen dan peneliti UNDIP. Kami berharap sinergi yang terjalin dapat berkontribusi menghasilkan keilmuan yang menjawab kebutuhan industri secara nyata,” ungkapnya.
“UNDIP memiliki tenaga ahli lintas disiplin serta fasilitas laboratorium yang dapat mendukung karakterisasi material, pengujian, validasi, dan pengembangan teknologi. Persoalan nyata yang dihadapi pemerintah maupun industri dapat menjadi titik awal bagi para peneliti untuk menghasilkan solusi yang lebih relevan, aplikatif, dan memberikan nilai tambah,” ujar Prof. Heru.
Sementara itu, Bambang Heru Susanto menjelaskan landasan pembentukan BIM sebagai lembaga nonstruktural berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Lembaga ini membawa mandat khusus untuk mengakselerasi riset, pengembangan teknologi serta peningkatan nilai tambah mineral strategis yang krusial bagi ketahanan ekonomi dan pertahanan negara. BIM juga berperan sebagai wadah koordinasi antara pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri.
“Kami mengidentifikasi puluhan jenis mineral potensial di Indonesia, termasuk Logam Tanah Jarang yang menjadi komoditas bernilai tinggi di panggung politik internasional. Sebagai lembaga strategis yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden, BIM bertindak sebagai operator dan pengintegrasi antar-kementerian, lembaga, hingga dunia akademis. Kami menyadari penguasaan teknologi dan pemetaannya tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi bersama kampus top seperti UNDIP menjadi kunci percepatan alih teknologi dan perancangan kebijakan yang tepat,” papar Bambang.
“Kolaborasi ini memegang peran kunci, mulai dari penyusunan analisis teknis hingga penyiapan dokumen investasi. Lewat skema kemitraan yang terstruktur, kami ingin melibatkan para ahli dan praktisi kampus dalam berbagai proyek strategis, pemanfaatan laboratorium pengujian, hingga pengembangan kapasitas SDM. Langkah bersama ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi mineral, memberikan pengalaman langsung bagi peneliti, dan memantapkan kemandirian teknologi nasional di masa depan,” lanjutnya.
Menurut Suhendra, kemitraan dapat dimulai dari kegiatan yang konkret, seperti pemetaan potensi, karakterisasi bahan, pengujian laboratorium, simulasi proses, penyusunan desain rekayasa, hingga pendampingan penerapan teknologi. Salah satu agenda yang dapat dikembangkan bersama ialah penyusunan Basic Engineering Design (BED) fasilitas pengolahan pasir zirkon untuk menghasilkan micronized zircon silicate dan zirconia serta pemanfaatan laboratorium UNDIP untuk mendukung proses validasi.
“Kami berharap diskusi hari ini segera ditindaklanjuti melalui proposal dan perjanjian pelaksanaan yang terukur. Targetnya bukan sekadar menghasilkan dokumen, melainkan membangun kemampuan nasional, mempercepat alih teknologi, dan menyiapkan proyek yang layak diterapkan. Kerja bersama ini harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan oleh industri dan masyarakat,” tambahnya.
Dokumen rekayasa tersebut diperlukan untuk memvalidasi teknologi, kualitas produk, kebutuhan investasi, keselamatan proses, dan pengelolaan lingkungan sebelum fasilitas dikembangkan menuju skala komersial. Produk turunannya memiliki pemanfaatan luas, antara lain pada industri keramik dan refraktori, material kedokteran gigi, sensor oksigen, katalis, serta teknologi yang bekerja pada suhu tinggi.

Pembahasan kedua pihak mengarah pada penyusunan payung kemitraan di bidang Tridharma Perguruan Tinggi dan mineral strategis. Cakupannya meliputi kajian kebijakan dan tata kelola, pengembangan sistem informasi, penelitian bersama, karakterisasi geometalurgi, inovasi pemrosesan mineral, pengembangan pilot plant, serta pemanfaatan bersama fasilitas riset dan laboratorium.
Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dari rencana tersebut. Program yang dapat dikembangkan mencakup penelitian mahasiswa, magang, sertifikasi kompetensi, pertukaran tenaga ahli, praktisi mengajar, alih teknologi, serta pemberdayaan masyarakat di kawasan pertambangan. Aspek lingkungan turut ditempatkan sebagai perhatian utama melalui pengembangan teknologi pengolahan yang bertanggung jawab dan mitigasi dampak aktivitas industri mineral.
Melalui kemitraan ini, UNDIP dan BIM berkomitmen mengintegrasikan Tridharma Perguruan Tinggi dengan kebijakan hilirisasi nasional. Usai diskusi resmi di Gedung Widya Puraya, agenda dilanjutkan dengan peninjauan fasilitas laboratorium di UPT Laboratorium Terpadu UNDIP guna melihat langsung kesiapan infrastruktur riset pendukung. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)







