UNDIP, Semarang (29/7) – Sebuah pengalaman sederhana dapat mengubah arah hidup seseorang. Bagi Pinkan Amalia Marzanda, lulusan Program Studi S1 Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP), pengalaman pernah mendapatkan pertolongan dari orang lain menjadi titik awal lahirnya sebuah cita-cita besar: mengabdikan diri untuk membantu sesama melalui dunia kesehatan.
Tekad itulah yang mengantarkannya memilih Program Studi S1 Farmasi Fakultas Kedokteran UNDIP. Baginya, profesi di bidang kefarmasian bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah jalan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan Pinkan menuju kelulusan tentu tidak mudah. Selama menjalani perkuliahan, ia dihadapkan pada materi yang kompleks, praktikum yang padat, serta berbagai tugas yang menuntut ketelitian dan konsistensi. Menurutnya, mahasiswa Farmasi tidak bisa mengandalkan Sistem Kebut Semalam (SKS). Kesuksesan hanya dapat diraih melalui disiplin belajar, manajemen waktu yang baik, dan komitmen untuk terus berkembang setiap hari.
Meski dihadapkan pada tuntutan akademik yang tinggi, Pinkan tidak membatasi dirinya hanya pada aktivitas di ruang kuliah. Ia aktif berorganisasi sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, serta kepekaan sosial yang menjadi bekal penting bagi calon tenaga kesehatan.
Di balik capaian akademiknya, terdapat dukungan yang sangat berarti. Sebagai penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Pinkan merasakan langsung kehadiran pemerintah bersama Universitas Diponegoro dalam membuka akses pendidikan tinggi yang berkualitas bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Melalui program KIP-K, ia dapat menjalani perkuliahan dengan lebih fokus tanpa terbebani biaya pendidikan. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya sebaik mungkin hingga berhasil menyelesaikan studi dan lulus menyandang predikat cumlaude.
Baginya, beasiswa bukan hanya bantuan finansial, melainkan juga bentuk kepercayaan yang harus dibalas dengan prestasi, tanggung jawab, dan semangat untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Pinkan bertekad melanjutkan studi ke Program Profesi Apoteker. Ia ingin memperdalam kompetensi agar dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada keselamatan serta kesehatan masyarakat.
Kisah Pinkan menjadi bukti bahwa kesempatan yang diberikan melalui pendidikan akan melahirkan perubahan besar. Dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan yang tepat, keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Terlebih Pinkan tumbuh dari keluarga kurang mampu dengan ibunya yang single parent yang membuka jasa laundry untuk menopang kebutuhan hidup. Mengingat penghasilan ibu yang kecil, untuk keperluan dan kebutuhan lainnya, keluarga Pinkan dibantu oleh saudara.
Universitas Diponegoro terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif melalui berbagai program dukungan, termasuk Beasiswa KIP-K, sehingga semakin banyak generasi muda Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi terbaiknya dan menghadirkan manfaat bagi bangsa. Tidak ada alasan lagi bagi mahasiswa UNDIP untuk berhenti kuliah karena kendala ekonomi.
Menurut Pinkan, cita-cita terbesar bukan sekadar menyandang gelar atau meraih prestasi akademik. Lebih dari itu, ia ingin menjadi pribadi yang bermanfaat. Sebagaimana ia pernah merasakan uluran tangan orang lain, kini ia ingin menjadi sosok yang menghadirkan harapan dan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan.(Komunikasi Publik/UNDIP/Ut)







