Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Dampingi Warga Kampung Woslay Senggi Petakan Dampak Bencana dan Strategi Adaptasi Iklim

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (7/9) – Tim 19 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) yang diketuai oleh Dr.Ing. Wakhidah Kurniawati, S.T., M.T., hadir mendampingi masyarakat di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Melalui ruang diskusi yang hangat dan verifikasi lapangan (ground checking) bersama warga lokal, tim berupaya memetakan dan memahami kerawanan bencana hidrometeorologi yang ada di kawasan transmigrasi tersebut.

Pendataan di lapangan ini bertujuan untuk memvalidasi secara presisi ancaman bencana yang memengaruhi permukiman, peternakan, hingga lahan pertanian warga. Tidak hanya berpatokan pada peta spasial, Tim 19 Ekspedisi Patriot UNDIP mengintegrasikan pengetahuan lokal agar pemetaan titik-titik rawan bencana dapat dilakukan secara akurat dan komprehensif.

Fokus utama survei lapangan mencakup dua tantangan lingkungan yang berlawanan, yaitu genangan air di permukiman dan peternakan saat musim hujan, serta kekeringan pada lahan pertanian saat musim kemarau. Berdasarkan penuturan warga dan hasil pengecekan fisik, genangan air dipicu oleh saluran drainase yang dangkal, sumbatan sampah, dan struktur tanah liat khas Senggi yang sulit menyerap air secara cepat.

Luapan air yang merendam area peternakan kerap memicu kerugian material bagi warga. Genangan lumpur yang cukup dalam membuat ternak terendam dan sulit bergerak, hingga berisiko lemas dan mati. Kondisi ini diperparah oleh struktur tanah liat khas Senggi yang mudah berlumpur saat tergenang air. Sriyono, salah seorang warga Kampung Woslay yang berprofesi sebagai petani dan peternak, membagikan pengalamannya mengenai tantangan kondisi tanah tersebut.

“Jenis tanah di Senggi ini beda, kalau sapi terus menginjak-injak lahan ternak, apalagi saat hujan, tanahnya jadi semakin becek dan berubah menjadi lumpur yang cukup dalam. Soalnya jenis tanah di sini tanah liat, jadi kalau terkena air hujan memang lebih mudah lembek dan lengket,” ujar Sriyono.

Di tengah tantangan tersebut, Tim 19 Ekspedisi Patriot UNDIP melihat pola adaptasi masyarakat Kampung Woslay yang tangguh dalam menghadapi ketidakpastian iklim. Demi menjaga produktivitas pertanian, para petani berinisiatif menerapkan rotasi tanaman adaptif, yakni beralih menanam jagung saat musim kemarau tiba, dan kembali menanam padi ketika memasuki musim penghujan.

Seluruh data primer hasil ground checking, analisis saluran drainase, karakter tanah, hingga interaksi hangat bersama warga ini disusun menjadi basis data penting. Data ini nantinya direkomendasikan sebagai langkah strategis dalam rancangan mitigasi bencana dan perbaikan lingkungan berbasis masyarakat di Distrik Senggi.

Aksi nyata ini menjadi bukti komitmen UNDIP dalam mewujudkan tagline UNDIP Bermartabat UNDIP Bermanfaat, dengan menghadirkan langsung para akademisi ke wilayah transmigrasi demi memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana. Kegiatan pemetaan dan mitigasi bencana ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengurangan risiko bencana hidrometeorologi di pemukiman, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan kapasitas adaptasi dan ketahanan warga terhadap fenomena cuaca ekstrem, dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui tata kelola dan perlindungan kualitas lahan pertanian secara berkelanjutan. (Komunikasi Publik/UNDIP)

Share this :
SDG-11
SDG-13
SDG-15