Ciptakan Peternakan Sirkular di Woslay, TEP UNDIP Kembangkan Mini Ranch Patriot Perintis

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (1/10) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) merancang dan merealisasikan kawasan peternakan komunal berbasis integrated farming bernama Mini Ranch Patriot Perintis di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Langkah ini diambil untuk mengatasi pemeliharaan ternak secara lepas yang berpotensi memicu konflik sosial antara petani dan peternak, sekaligus mengoptimalkan pengelolaan kesehatan dan reproduksi ternak di wilayah tersebut.

Kolaborasi gabungan Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Senggi (Tim 15, Tim 3, Tim 7, dan Tim 12) ini diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama petani dan peternak lokal di Gedung Serbaguna Distrik Senggi. Dari ruang diskusi tersebut, Mini Ranch Patriot Perintis dikembangkan bukan sekadar tempat berteduh ternak, melainkan sebuah kawasan terpadu yang menghubungkan peternakan, pertanian, pengolahan limbah, penyediaan pakan, air, hingga energi dalam satu ekosistem berkelanjutan.

Pelaksanaan FGD bersama masyarakat Kampung Woslay.

Ketua Patriot Perintis, Hari, menyambut positif pengembangan kawasan terpadu ini sebagai langkah konkret memajukan potensi peternakan di Senggi. “Kami memiliki harapan besar bahwa ke depan Senggi dapat memiliki produk unggulan yang lahir dari pengembangan Mini Ranch. Kami berharap keberadaan Mini Ranch tidak hanya mendukung peternakan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan potensi ekonomi masyarakat di Senggi,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Anggota Badan Penyuluh Pertanian, Sriyono, menekankan pentingnya pendekatan tata kelola peternakan yang menyeluruh dan terintegrasi. “Kita mengupayakan agar pengembangan sub sektor peternakan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tata cara pemeliharaan, peningkatan kualitas pakan, kesehatan dan reproduksi ternak, hingga pengelolaan limbahnya. Dengan begitu, setiap bagian dari proses peternakan dapat dikelola dengan lebih baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Sriyono.

Prinsip utama Mini Ranch Patriot Perintis berfokus pada alur aktivitas tertutup atau closed-loop system, sehingga seluruh sumber daya dimanfaatkan kembali tanpa ada limbah yang terbuang. Aktivitas dimulai dari pemeliharaan ternak di kandang teduhan, di mana kotoran ternak dikumpulkan lalu diolah di rumah kompos dan biochar menggunakan metode vermikomposting dan EM4 (Effective Microorganisms 4). Pupuk organik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menyuburkan lahan penghijauan dan ladang rumput pakan unggul, yang selanjutnya diolah menjadi pakan silase berkualitas dengan daya simpan lebih lama untuk memenuhi kembali kebutuhan nutrisi ternak.

Desain site plan Mini Ranch Patriot Perintis
Diagram alur sistem closed-loop.

Untuk mendukung seluruh siklus tersebut, kawasan ini dilengkapi sembilan titik fasilitas yang saling terhubung dan tertata mengikuti kontur alami lahan. Fasilitas tersebut mencakup kandang isolasi untuk pemantauan ternak sakit dan pencegahan penyakit, kandang bunting untuk pengelolaan reproduksi serta pencegahan perkawinan sedarah, gangway untuk mengatur pergerakan ternak, area pengelolaan pakan, gudang peralatan, serta rumah kompos dan biochar. Kebutuhan air dipenuhi melalui sumur bor dengan pompa listrik bertenaga surya, sedangkan kandang teduhan dan lahan penghijauan menjadi pusat pemeliharaan serta penyediaan pakan.

Komitmen bersama ini telah berlanjut ke tahap pembangunan fisik di lapangan, mulai dari pengukuran lahan demplot, pembersihan area secara gotong royong, hingga pembuatan bedengan pakan. Saat ini, pembangunan terus berjalan pada penataan konstruksi rangka kandang, gudang pakan, dan fasilitas rumah kompos. Melalui FGD, TEP UNDIP tidak sekadar memaparkan rancangan, melainkan membuka ruang kolaborasi agar pengembangan Mini Ranch Patriot Perintis tetap berpijak pada kebutuhan lokal.

Langkah ini bertujuan membangun ekosistem integrated farming yang menghubungkan peternakan dan pertanian secara berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat Kampung Woslay.Pendekatan akademis ini diterjemahkan secara bertahap menjadi fasilitas nyata guna mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berbasis pertanian, peternakan, dan ekonomi sirkular.

Inisiatif pengembangan kawasan terpadu ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan produktivitas pertanian dan peternakan, SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) lewat pemanfaatan pompa air tenaga surya, dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan sistem produksi sirkular berbasis zero-waste. (Komunikasi Publik/UNDIP)

Detail desain fasilitas kandang komunal.
Share this :
SDG-12
SDG-2
SDG-7