UNDIP Kukuhkan Guru Besar 2026, Hadirkan Inovasi Pangan, Material Ramah Lingkungan, dan Alat Bantu Difable Berbasis AI

UNDIP, Semarang (27/1) – Membuka lembaran penuh makna di awal tahun 2026, pada bulan Januari ini, Universitas Diponegoro mengukuhkan 18 guru besar dengan berbagai kepakaran dan menguatkan posisi UNDIP sebagai universitas riset unggul berskala internasional. Pada hari ini, Selasa, 27 Januari 2026, UNDIP kembali menyelenggarakan acara Upacara Pengukuhan Guru Besar di Gedung Prof. Sudarto, SH, dengan melantik Prof. Dr. Ir. Limbang Kustiawan Nuswantara, S.Pt., M.P., IPU. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian; Prof. Dr. Ngadiwiyana, S.Si., M.Si. dari Fakultas Sains dan Matematika; Prof. Dr. Wahyudi, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik; dan Prof. Dr. Ir. Anis Muktiani, M.Si. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian.

Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. memberikan apresiasi kepada seluruh guru besar yang kini menuju ke langkah yang lebih besar dengan dedikasi yang tinggi pada ilmu pengetahuan dan penelitian.

Prof. Dr. Ir. Limbang Kustiawan Nuswantara, S.Pt., M.P., IPU., pakar Evaluasi Nutrisi dan Pakan Ruminansia Perah menyampaikan bahwa menurut data survei tahun 2025, produksi susu di Indonesia saat ini hanya mampu mencukupi 17,7% dari kebutuhan susu nasional. Dalam materinya berjudul “Rekayasa Kondisi Rumen Melalui Formulasi Ransum untuk Meningkatkan Produksi Ternak Perah,” ia menyarankan strategi pemenuhan kebutuhan susu melalui formulasi ransum yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pencernaan dan metabolisme mikroba dalam rumen. Peternak dapat menggunakan bahan pangan yang mengandung protein, serat, dan mikronutrien, yang di antaranya ada pada tanaman leguminosa pohon seperti Kaliandra, Indigofera, dan Gliricidia dalam pakan ternak sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan produksi susu.

“Penelitian ini telah saya lakukan dimulai dari tahun 1998 melalui uji degradabilitas dan fermentalitas bahan pakan. Dan sekarang sampai di tahap uji formula pakan dengan tambahan leguminosa untuk mendapat formulasi ransum terbaik. Penyusunan ransum berdasarkan indeks sinkroni (synchrony index) adalah strategi untuk meningkatkan produksi susu dan nutrisinya pada sapi perah,” jelasnya.

Kemudian, Prof. Dr. Ngadiwiyana, S.Si., M.Si., seorang pakar Modifikasi Senyawa dan Polimer Organik menjelaskan mengenai “Transformasi Eugenol dari Minyak Cengkeh Menjadi Polimer Organik Fungsional sebagai Material Pelapis Ramah Lingkungan untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.” Sesuai prinsip‘green chemistry’ dirinya menyebutkan bahwa pemanfaatan biomassa terbarukan untuk menghasilkan polimer berkelanjutan merupakan salah satu alternatif. Hal itu mencakup pemanfaatan eugenol, senyawa fenolik utama dalam minyak atsiri cengkeh. Faktanya, Indonesia merupakan negara produsen cengkeh terbesar di dunia dengan rata-rata produksi cengkeh 133.95 ton per tahun. Akan tetapi pemanfaatan SDA cengkeh di Indonesia masih tertinggal dari negara lain. Substitusi polimer sintetis dengan polimer berbasis eugenol berpotensi signifikan dalam menurunkan emisi CO₂. Itu dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya hayati yang dapat diperbarui.

Prof. Ngadiwiyana menerangkan, “Polimer organik eugenol memiliki sifat anti-bakteri, antioksidan, dan anti-korosi yang aman digunakan dalam industri kesehatan dan juga makanan. Penggunaan polimer organik mampu menurunkan emisi CO₂ dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.”

Selanjutnya, pakar Sistem dan Instrumentasi Kontrol di UNDIP, Prof. Dr. Wahyudi, S.T., M.T. menerangkan inovasinya yang membantu meningkatkan kualitas kehidupan penyandang disabilitas, khususnya bagi penyandang tunanetra. Melalui presentasi berjudul “Integrasi Sistem Kontrol dan Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Alat Bantu Tunanetra,” Prof. Wahyudi menjelaskan rancangan alat bantu mobilitas yang dipasang di kepala penyandang tunanetra. Alat ini diintegrasikan dengan kamera time-of-flight, kamera web, algoritme K-Means, Convolutional Neural Network (CNN), dan pemrograman concurrent pada Raspberry Pi 4B untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan rintangan dan pengenalan objek di sekitarnya.

Sistem ini mengubah data rintangan menjadi audio spasial, yang memungkinkan pengguna untuk memahami lingkungan sekitar melalui arah dan intensitas suara. “Alat bantu ini masih dikembangkan agar dapat berproses lebih cepat, dilengkapi sistem navigasi Inertial Measurement Unit (IMU) dan sistem pengenalan benda Optical Character Recognition (OCR),” ucapnya.

Presentasi selanjutnya berjudul “Teknologi Suplementasi untuk Meningkatkan Produksi Susu dan Kesehatan Ternak Perah” disampaikan oleh guru besar Prof. Dr. Ir. Anis Muktiani, M.Si., seorang pakar Ilmu Nutrisi dan Pakan Suplemen Ruminansia Perah.  Konsumsi susu rata-rata penduduk Indonesia sebesar 16,64 kg/kapita/tahun, termasuk kategori rendah menurut FAO, salah satunya dikarenakan mahalnya harga susu sapi. Konsumsi susu yang rendah pada anak (utamanya 0-2 tahun) menjadi salah satu faktor yang menyebabkan 44% anak Indonesia mengalami masalah pertumbuhan (stunting, underweight dan wasting). Untuk itu, peningkatan populasi sapi dan produksi susu ternak perah dilakukan dengan perbaikan pakan melalui formulasi ransum.

Namun, hal ini terkendala mahalnya harga bahan baku pakan konsentrat. Penerapan teknologi suplementasi adalah sebuah solusi, melalui pemberian suplemen dan aditif pakan yang mampu memodulasi metabolisme nutrien dan meningkatkan sistem imunitas ternak perah. “Suplemen mineral organik yang ditambahkan antara lain Zn-lisinat dan Cr-pikolinat yang terbukti meningkatkan 23% produksi susu. Penambahan probiotik bermineral Zn, Cr dan Se mampu meningkatkan kadar lemak susu sebanyak 49%. Pemberian suplemen mineral Zn dan Cr lebih efektif jika dikombinasikan dengan probiotik S. cerevisiae atau probiotikA. oryzae, juga tanaman herbal seperti daun papaya dan kunyit,” ucapnya.

Dengan dilantiknya 18 guru besar baru di lingkungan Universitas Diponegoro, diharapkan mampu menguatkan tonggak keilmuan, mendukung pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta selaras dengan Diktisaintek Berdampak. (UNDIP/Komunikasi Publik/Titis)

Share this :