UNDIP Turun ke Desa Terpencil Didik Generasi Masa Depan yang Memegang Teguh Nilai Agama

UNDIP, Semarang (31/12) – Universitas Diponegoro(UNDIP) membuktikan dedikasinya dalam realisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat melalui program kerja Gerakan Mengajar Al-Qur’an (GEMA) 4.0 yang diinisiasi oleh Bidang Sosial Masyarakat LDK Insani UNDIP, mahasiswa turun langsung ke desa-desa terpencil untuk mengambil peran aktif dalam mencerdaskan generasi bangsa melalui sentuhan dakwah dan literasi Al-Quran untuk mewujudkan generasi qurani.

Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menebar manfaat cahaya Al-Qur’an kepada masyarakat, sesuai dengan slogan “Cahaya Qurani, Terangi Generasi”, GEMA pada tahun 2025 sudah berjalan 4 tahun lamanya. Pada tahun ini, GEMA memiliki tema “Mendidik Generasi Masa Depan dengan Cahaya Al-Qur’an untuk Membangun Karakter Keislaman dan Menguasai Ilmu Pengetahuan.”

GEMA 4.0: Dari Semarang ke Daerah Terpencil di Jawa Tengah

Sejak pelaksanaannya pertama pada tahun 2022, GEMA telah tumbuh menjadi program yang selalu memberikan dampak untuk masyarakat di zona merah pendidikan, dengan masalah utamanya yaitu pendidikan yang tidak merata.

  • GEMA 1.0 (2022): Desa Pucung, Kabupaten Semarang.
  • GEMA 2.0 (2023): Desa Genikan, Kabupaten Magelang.
  • GEMA 3.0 (2024): Desa Girimulyo, Kabupaten Magelang.
  • GEMA 4.0 (2025): Desa Kedawung, Kabupaten Temanggung.

Program ini menyediakan kesempatan bagi mahasiswa Muslim UNDIP untuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sambil mendapatkan pengalaman pengabdian yang berarti. Tahun ini, GEMA 4.0 diikuti oleh 29 mahasiswa Universitas Diponegoro dengan Rofa Farnanda (FH 2024) sebagai Ketua Pelaksana dan Muhammad Farhan Syahdaffa (Teknik Perkapalan 2022), Ketua Bidang Sosial Masyarakat LDK Insani, bertindak sebagai Steering Committee.

Penerjunan GEMA tahun ini dilaksanakan pada tanggal 2-18 Agustus 2025 di Desa Kedawung, Temanggung. Sebelum penerjunan, volunteer dari GEMA telah melakukan survei untuk mengetahui desa mana yang cocok untuk dijadikan titik penerjunan dengan melihat dari jumlah sekolah, perbandingan jumlah guru dan siswa, kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, dan indikator lainnya.

Pembekalan dan Pra-Penerjunan

Sebelum berangkat ke Desa Kedawung, para Guru Ngaji Muda (sebutan untuk volunteer GEMA) mengikuti sesi Pembekalan I dan II dengan menghadirkan narasumber yang berpengalaman dalam pendidikan dan dakwah. Materi pembekalan ini memberikan keterampilan dalam mengajar, kemampuan komunikasi yang baik, serta penguatan spiritual agar para peserta siap menghadapi tantangan di lapangan.

Tak hanya itu, para volunteer diberikan sesi microteaching untuk mengukur kesiapan dan meningkatkan kompetensi dalam membangun kepercayaan menghadapi kelas sesungguhnya. Sebagai langkah awal, Tim GEMA 4.0 juga mengadakan Simulasi Mengajar di SDN 03 Pedalangan, TPQ Nurul Islami, dan Masjid Al-Quds (Pelatihan Mengajar Al-Qur’an). Kegiatan pra-penerjunan ini berfungsi sebagai kesempatan latihan sebelum turun ke desa, sekaligus sebagai kontribusi awal di lingkungan sekitar kampus.

GEMA 4.0: 17 Hari Bersama Masyarakat Kedawung

Selama lebih dari dua minggu, relawan tinggal bersama masyarakat Desa Kedawung, Kabupaten Temanggung. Rangkaian aktivitas GEMA 4.0 mencakup:

  • Pengajaran Pendidikan Sekolah Dasar (SDN Kedawung): Dilaksanakan setiap hari Senin hingga Sabtu selama dua minggu penuh. Relawan memberikan materi akademis secara kreatif, pembiasaan Asmaul Husna, hingga pembinaan intensif untuk lomba MAPSI, kepramukaan, dan Paskibraka yang dilakukan secara bertahap selama masa penerjunan. Sebagai puncaknya, pada 16 Agustus, digelar Pentas Seni untuk mewadahi kreativitas siswa-siswi.
  • Pengajaran TPQ di 4 Dusun: Berlangsung setiap hari di Dusun Sidono, Kedawung, Sigeblok, dan Sirandu. Materi yang diberikan mencakup talaqqi, tajwid, adab, makhorijul huruf, setoran dan menulis Al-Qur’an, doa harian, akhlak dan adab, rukun Islam dan rukun Iman, kisah nabi, hafalan surat pendek, latihan pidato cilik, hingga latihan adzan. Khusus pada 10 Agustus, dilakukan kegiatan Tadabbur Alam bersama santri TPQ untuk mendekatkan mereka pada ayat-ayat kaumiyah Allah.
  • Pemberdayaan Masjid: Dilaksanakan secara berkelanjutan melalui aksi bersih-bersih masjid, shalat berjamaah, pemberian minum dan snack sebagai Jum’at Berkah dan pengisian khutbah Jum’at. Program ini dilaksanakan pada tanggal 8 dan 15 Agustus. Selain itu, relawan juga memasang poster doa, donasi inventaris masjid, sebagai petugas adzan dan lainnya, serta mengikuti malam tirakatan bersama warga.
  • Pemberdayaan Literasi: Pembenahan perpustakaan sekolah dilakukan secara bertahap dan rampung pada 13 Agustus. Untuk meningkatkan minat baca, relawan mendampingi siswa ke perpustakaan setiap pelajaran Bahasa Indonesia, serta melakukan penyerahan donasi buku pada 5 Agustus.
  • Penyaluran Donasi: Dilakukan secara bertahap untuk memastikan ketepatan sasaran. Dimulai dengan penyaluran donasi dhuafa pada 11 Agustus; dilanjutkan dengan penyerahan hadiah untuk santri TPQ, donasi bagi pengajar TPQ, serta pemberian Al-Qur’an (termasuk Al-Qur’an Braille) dan alat shalat pada 14 Agustus. Terakhir, donasi baju layak pakai diserahkan pada 15 Agustus.

Tak hanya memberikan pengajaran, pada 17 Agustus melalui program GEMA ke Alam (GKA), para volunteer juga mendapatkan peluang untuk belajar secara langsung dari masyarakat. Salah satu pengalaman yang paling mengesankan adalah mempelajari kopi khas dari desa tersebut, yaitu Kopi Temanggung dengan jenis kopi yang paling diminati oleh pembeli, yaitu Kopi Robusta. Penduduk Kedawung memperlihatkan cara pengolahan kopi dari mulai penanaman hingga proses pascapanen, yang penuh tantangan namun dipenuhi dengan nilai kesabaran dan ketekunan.

Dari pengalaman ini, para volunteer menyadari bahwa setiap bulir kopi yang dihasilkan adalah wujud nyata dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi untuk mengelola alam secara bijak, sebagaimana pesan dalam QS. Al-A’raf ayat 56 yang melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, sehingga menjaga kelestarian tradisi bertani ini bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan bentuk syukur dan kewajiban spiritual untuk kembali selaras dengan alam.

Makna, Tantangan, dan Capaian

Bagi anak-anak, GEMA adalah kesempatan baru untuk berani membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa rasa malu. “Mbak, sekarang aku sudah bisa baca surat Al-Ikhlas tanpa terbata-bata…” ujar seorang anak dengan senyuman lebar—sebuah pencapaian kecil namun memiliki arti yang mendalam.

Bagi relawan, GEMA 4.0 menjadi sekolah kehidupan. Mereka memperoleh pelajaran tentang kesabaran, kepemimpinan, dan persaudaraan dari kehidupan sederhana masyarakat desa. Berbagai tantangan seperti kurangnya fasilitas dan adaptasi budaya dapat diatasi berkat kerjasama antar relawan serta dukungan yang hangat dari warga Kedawung.

Dalam hal pencapaian, GEMA 4. 0 berhasil:

  • Meningkatkan literasi dan pembiasaan karakter Islam pada lebih dari 100 anak di TPQ 4 Dusun dan SDN Kedawung.
  • Meningkatkan pemahaman anak-anak Desa Kedawung pada tajwid, makhorijul huruf, menulis Al-Quran, hafalan Al-Qur’an, doa harian, akhlak dan adab, kisah nabi, rukun Islam dan Iman, pelatihan adzan dan pidato cilik
  • Mendistribusikan ratusan buku, Iqra’, alat shalat, mushaf Al-Qur’an kepada masyarakat Desa Kedawung yang membutuhkan.
  • Memberikan bantuan kepada puluhan Dhuafa berupa sembako, beras, dan donasi busana muslim (baju, jilbab).
  • Pemberian Jum’at Berkah kepada Warga Desa Kedawung
  • Meningkatkan semangat masyarakat terhadap pendidikan agama dan literasi.

Respon masyarakat dan anak-anak sekolah dasar di Desa Kedawung sangatlah baik. Mereka menyambut kami dengan hangat, yang ingin menyebar kebermanfaatan pendidikan kepada mereka. Anak-anak disana suka ketika disambangi oleh volunteer GEMA. Mereka menjadi lebih giat belajar, mendapatkan hal baru, pengetahuan baru dan lain sebagainya. Mereka menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, baik pembelajaran formal maupun informal, tentunya meninggalkan jejak yang indah.

Evaluasi Keberjalanan GEMA 4.0

Berkaca pada perjalanan GEMA 4.0, terdapat beberapa poin esensial yang menjadi catatan evaluasi untuk pertumbuhan organisasi ke depan. Secara umum, program ini telah berhasil mencapai tujuan utamanya dalam memberikan dampak sosial dan eduksi, namun dari sisi internal dan teknis lapangan masih terdapat ruang untuk perbaikan. Salah satu catatan kritis adalah perlunya membangun kesadaran kolektif bahwa urusan pendanaan dan sponsor merupakan tanggung jawab bersama seluruh panitia, bukan hanya beban satu divisi, guna sebagai langkah menciptakan rasa kepemilikan yang lebih kuat sejak masa pra-penerjunan.

Selain itu, komunikasi aktif dengan perangkat desa, pihak sekolah dan TPQ harus lebih diintensifkan untuk meminimalisir miskomunikasi saat hari penerjunan. Di sisi akademis, kurikulum yang disusun diharapkan dapat lebih adaptif dan fleksibel terhadap dinamika serta kebutuhan riil masyarakat di lapangan.

Harapan untuk GEMA 5.0 (2026)

Menyongsong GEMA 5.0 pada tahun 2026, besar harapan agar program ini mampu naik ke level yang lebih transformatif melalui kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak. Penjangkauan desa yang akan menjadi tempat eksplorasi diharapkan dapat diperluas, serta durasi penerjunan ditambah demi tercapainya pematangan program yang lebih berkualitas. Di sisi finansial, peningkatan jumlah dana melalui donasi dan sponsor menjadi target utama guna mendukung fasilitas pengajaran dan pemberdayaan yang lebih memadai.

Fokus utama di masa depan adalah terciptanya program yang berkelanjutan. GEMA 5.0 diharapkan tidak meniggalkan kesan sebagai program yang selesai begitu saja saat para volunteer pulang. Sebagai program dari bidang Sosial Masyarakat LDK Insani UNDIP, harus ada sistem pendampingan jangka panjang atau kaderisasi lokal agar dampak positif dalam pengajaran Al Qur’an maupun pengembangan potensi desa tetap berjalan secara mandiri dan memberikan manfaat yang kekal bagi masyarakat desa binaan.

Antusiasme yang tinggi dari masyarakat dan mahasiswa menjadi dorongan bagi GEMA untuk terus berkembang. Kesuksesan rangkaian program GEMA 4.0 ini tentu tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang telah tulus membantu secara moril maupun materil. Segenap keluarga besar Bidang Sosial Masyarakat LDK Insani Undip mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur dan sponsor: Lazis Jateng, Digbook Semarang, IZI (Inisiatif Zakat Indonesia), Human Initiative Jateng, Badak LNG, Mika Store Semarang, dan Rumah Zakat Jateng.

Dukungan seluruh pihak telah membantu kami menyebarkan kebermanfaatan di Desa Kedawung. Diharapkan, program ini bisa merambah ke desa-desa di luar Jawa Tengah, sehingga cahaya Al-Qur’an dapat semakin luas menerangi seluruh wilayah negara ini. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Semoga GEMA senantiasa menjadi jalan keberkahan, ladang pahala, dan pengantar kebaikan—baik untuk para volunteer maupun masyarakat desa. Untuk info lebih lanjut, kunjungi instagram @mengajarquran atau @insaniundip untuk informasi kegiatan dan rekrutmen terbuka pada periode berikutnya. (Komunikasi Publik/UNDIP/ LDK Insani UNDIP ed. As3)

Share this :