UNDIP, Semarang (3/5) – Kompetisi yang diselenggarakan pada tanggal 10-11 April 2026 oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health di Institut Teknologi Bandung ini mengangkat tema “Building High-Value Health Systems: Leveraging Artificial Intelligence” dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga akademisi internasional.
Kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika (FSM) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Lima mahasiswa Undip yang terdiri dari tiga mahasiswa program studi S1 Informatika FSM Undip dan dua mahasiswa S1 Keperawatan FK Undip berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Harvard Health Systems Innovation Lab (HSIL) Hackathon 2026 – Bandung Hub.

Dalam wawancara FSM Inspires Episode 2, tiga mahasiswa Informatika yang tergabung dalam kolaborasi ini, yakni Haidar Ali Laudza (Project Leader & AI Engineer), Julius Tegar Aji Putra (AI Engineer), dan Muhammad Fikri (Back-end Developer), membagikan cerita di balik pencapaian tersebut.
Muhammad Fikri menjelaskan bahwa kompetisi ini berfokus pada pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan untuk menjawab permasalahan kesehatan global. “Lomba ini mengintegrasikan AI ke dalam sistem kesehatan, jadi lebih ke mencari ide-ide baru untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan yang ada di seluruh dunia,” jelasnya.
Keberhasilan meraih Juara 1 pun menjadi pengalaman yang tidak terduga bagi mereka. Fikri mengungkapkan bahwa pencapaian ini merupakan momen yang membanggakan sekaligus menantang. “Ini hal yang cukup mengejutkan bagi kami, karena untuk pertama kalinya kami bisa lolos ke kompetisi berskala internasional. Kami juga berharap ke depannya bisa memberikan yang lebih baik lagi di tahap global,” ujarnya.
Sementara itu, Haidar Ali Laudza menceritakan perjalanan mereka yang terbilang tidak biasa. Ia menyebut bahwa proses pendaftaran dilakukan hanya sekitar satu jam sebelum batas akhir. Dari situ, mereka melakukan brainstorming cepat hingga menemukan ide terkait penanganan gigitan ular. Ide tersebut kemudian dikembangkan secara lebih mendalam dengan melibatkan tenaga ahli di bidangnya.
“Kami mencoba menghubungi dokter ahli terkait dan mengelaborasi ide dengan semua resource yang kami punya. Dari situ kami bisa lolos ke final, masuk Top 8, hingga akhirnya meraih Juara 1,” ungkap Haidar.
Proses tersebut tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Julius Tegar Aji Putra menyoroti bahwa tantangan terbesar adalah memastikan ide yang dikembangkan benar-benar relevan dengan kebutuhan di dunia nyata. Untuk mengatasinya, mereka melakukan validasi langsung dengan para ahli serta membangun sistem kerja yang terstruktur di dalam kelompok.

“Dengan latar belakang yang berbeda-beda, kami menyelaraskan job desk masing-masing supaya tidak berjalan sendiri-sendiri. Di situlah kolaborasi jadi kunci utama,” jelas Julius.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan lingkungan akademik FSM Undip turut berperan besar dalam pencapaian ini. Menurutnya, dosen pembimbing serta fasilitas yang diberikan membantu dalam mengembangkan ide hingga tahap kompetisi. “Lingkungan di FSM sangat apresiatif, dosen juga membimbing secara maksimal, bahkan dari sisi pendanaan juga sangat membantu,” tambahnya.
Sebagai penutup, Haidar membagikan pesan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi serupa. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk memulai. “Yang paling penting itu daftar dulu. Dengan mengambil kesempatan, kita bisa mengusahakan yang terbaik dari apa yang kita punya,” tuturnya. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak ragu untuk mencoba dan terus berjuang dalam meraih prestasi.
Atas capaian ini, mereka akan melanjutkan perjuangan sebagai wakil Indonesia di tingkat global, bersaing dengan peserta dari berbagai negara. Prestasi ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin antara teknologi dan kesehatan mampu menghasilkan inovasi yang berdampak luas di tingkat internasional. (Komunikasi Publik/ FSM/ Meilia ed. Nurul)







