“Back to Nature”: DWP UNDIP Hadirkan Semangat Kemerdekaan yang Sehat, Kreatif, dan Guyub

UNDIP, Semarang (20/8) – Dharma Wanita Persatuan Universitas Diponegoro (DWP UNDIP) memaknai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui kegiatan yang memadukan kebersamaan, kreativitas, budaya, dan edukasi kesehatan. Mengusung tema “Back to Nature”, kegiatan yang digelar di Gedung Art Center Kampus UNDIP Tembalang pada Kamis, 20 Agustus 2026, menghadirkan talk show bersama Prof. Dr. Dra. Meiny Suzery, M.S., serta Lomba Line Dance dan Lomba Merangkai Mpon-mpon.

Suasana kebersamaan terasa sejak pembukaan yang turut diwarnai penampilan UK Kolintang Gita Nusantara UNDIP. Perpaduan edukasi rempah, tanaman herbal, kreativitas, olahraga, dan kekayaan tradisi lokal tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga sekaligus tetap relevan dengan semangat kemerdekaan.

Ketua DWP UNDIP, Dewi Widayani Suharnomo, dalam sambutannya memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi serta antusiasme luar biasa dari seluruh anggota yang hadir. Ia berharap para peserta menikmati kompetisi dengan menjunjung sportivitas serta menghargai kreativitas, waktu, tenaga, dan pikiran yang telah dicurahkan oleh masing-masing tim. Menurutnya, peringatan kemerdekaan dapat menjadi ruang untuk memperkuat kekompakan sekaligus menghadirkan kegiatan yang bermanfaat.

“Kekayaan alam dan budaya Indonesia perlu terus dikenalkan melalui cara-cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas seperti merangkai mpon-mpon, mengolah bahan tradisional, maupun bergerak bersama melalui Line Dance tidak semata-mata menghadirkan suasana meriah, tetapi juga membuka ruang perjumpaan, kreativitas, serta interaksi yang lebih erat antarunit DWP,” tuturnya.

Dewi juga mengajak seluruh anggota DWP untuk menempatkan kebermanfaatan sebagai nilai utama dalam setiap kegiatan organisasi. “Jangan berlomba untuk terlihat, tetapi berlombalah untuk menjadi manfaat,” pesannya. Ia menekankan bahwa kehadiran seseorang akan bermakna ketika mampu memberikan dampak positif bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, maupun masyarakat yang lebih luas. Semangat tersebut juga tercermin melalui kepedulian sosial DWP kepada masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk melalui penggalangan dan penyaluran bantuan, yang menjadi salah satu cara anggota DWP menerjemahkan solidaritas ke dalam tindakan nyata. Ia berharap budaya berbagi, rasa guyub, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial terus tumbuh bersama dalam setiap program DWP UNDIP.

Senada, Tanzil selaku Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya DWP UNDIP untuk menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus memperkuat hubungan antaranggota.

“Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi, meningkatkan kebersamaan dan rasa kekeluargaan, sekaligus menumbuhkan sportivitas, kerja sama, serta kreativitas peserta,” ujarnya.

Antusiasme terlihat dari keterlibatan 15 Unit Pelaksana (UP) DWP UNDIP. Sebanyak 141 peserta mengikuti Lomba Line Dance, sedangkan 43 peserta mengikuti Lomba Merangkai Mpon-mpon.

Menguatkan tema Back to Nature, Prof. Meiny Suzery dari Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UNDIP membawakan topik ‘Sehat dengan Herbal: Dari Kearifan Tradisional Menuju Bukti Ilmiah’, ia mengajak peserta melihat herbal secara lebih jernih. Menurutnya, kedekatan masyarakat dengan jamu dan tanaman obat merupakan modal penting, tetapi pengalaman turun-temurun perlu berjalan berdampingan dengan pengetahuan ilmiah. Ia mengingatkan sejumlah anggapan yang masih sering muncul, seperti tanaman alami pasti aman dikonsumsi setiap hari, dosis yang lebih banyak dianggap lebih cepat memberikan hasil, hingga keyakinan bahwa jamu tidak dapat berinteraksi dengan obat dokter. Padahal, penggunaan herbal tetap dipengaruhi oleh jenis bahan, dosis, cara pengolahan, lama pemakaian, kondisi pengguna, hingga obat lain yang sedang dikonsumsi.

Prof. Meiny juga menjelaskan perbedaan herbal, jamu, dan obat tradisional agar masyarakat tidak menyamaratakan ketiganya. Herbal merujuk pada tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan, sedangkan jamu berkembang dari pengalaman empiris dan tradisi. Produk obat tradisional membutuhkan proses pengolahan serta pengendalian mutu dan keamanan yang memadai. Karena itu, sebelum menggunakan herbal, masyarakat perlu membiasakan diri untuk menanyakan lima hal sederhana: apa bahannya, untuk apa digunakan, berapa banyak, bagaimana cara membuatnya, dan siapa yang akan mengonsumsinya.

Peserta juga diajak untuk menjadi konsumen yang lebih kritis saat memilih produk herbal. Komposisi, produsen, izin edar untuk produk komersial, tanggal kedaluwarsa, aturan pakai, hingga kewajaran klaim manfaat perlu diperiksa sebelum produk digunakan. Pesan utamanya sederhana: alami tidak selalu identik dengan aman, dan minuman herbal bukan pengganti pengobatan dokter. Di sisi lain, bahan alam menyimpan peluang besar ketika dikembangkan dengan ilmu pengetahuan. Prof. Meiny mencontohkan kulit bawang merah yang kerap dianggap limbah, tetapi mengandung senyawa fenolik termasuk kuersetin. Pegagan dan kunyit juga mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat dipelajari lebih lanjut. Herbal kemudian dapat berkembang menjadi minuman kesehatan, pangan fungsional, kosmetika berbahan alam, simplisia, hingga produk bernilai ekonomi apabila bahan baku, proses, mutu, dan pemasarannya dikelola dengan baik.

Kemeriahan semakin terasa saat peserta mengikuti Lomba Line Dance dan Lomba Merangkai Mpon-mpon yang menampilkan kekompakan serta kreativitas masing-masing unit. Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Fakultas Teknik (FT) meraih Juara I Lomba Line Dance dengan nilai 766, disusul Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) sebagai Juara II dengan nilai 750, dan Fakultas Hukum (FH) sebagai Juara III dengan nilai 737. Pada Lomba Merangkai Mpon-mpon, Fakultas Kedokteran (FK) meraih Juara I dengan nilai 98, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) meraih Juara II dengan nilai 94, serta Fakultas Sains dan Matematika (FSM) meraih Juara III dengan nilai 88.

Peringatan HUT ke-81 RI bersama DWP UNDIP pada akhirnya menghadirkan kemerdekaan dalam bentuk yang dekat dengan keseharian, yakni tubuh yang bergerak, tangan yang berkarya, pengetahuan yang dibagikan, dan hubungan antarsesama yang semakin erat. Melalui semangat Back to Nature, menjadi pengingat bersama akan pentingnya menjaga kelestarian kearifan lokal Nusantara serta memelihara semangat kebersamaan yang berdaya guna bagi civitas academica dan masyarakat luas. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)

Share this :
SDG-3