UNDIP, Semarang (3/1) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi riset dengan menghadirkan inovasi teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui inovasi teknologi terbaru berupa pengering gabah melalui media udara berkelembapan rendah dengan pemanas hybrid surya-biomassa. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi dan menjaga kualitas gabah kering giling secara lebih cepat dan konsisten.
Alat pengering inovatif ini dikembangkan oleh Prof. Dr. Moh Djeni, S.T., M.Eng. (Ketua Konsorsium Tim 1-UNDIP) bersama dengan Dr. Laeli Kurniasari, S.T., M.T. (Ketua Konsorsium Tim 2-Unwahas), dan Prof. Ir. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. (Ketua Konsorsium Tim 3-UNDIP), serta Anang Yudi Riswanto, S.T., M.M. (Mitra DUDI-PT Mutiara Global Industry). Inovasi teknologi tersebut dirancang dalam model portable yang dilengkapi sasis beroda dan penarik, sehingga memudahkan mobilisasi ke berbagai lokasi lahan pertanian, terutama di daerah yang tidak memiliki akses listrik atau fasilitas pengeringan permanen. Panas yang dihasilkan berasal dari pembakaran biomassa dengan aliran udara yang terkontrol.

Keunggulan utama teknologi ini terletak pada penggunaan kolom zeolit yang berfungsi menurunkan kelembapan udara sebelum masuk ke sistem pemanas, sehingga udara kering yang dihasilkan jauh lebih efektif dalam menyerap kadar air dari gabah.
Selain model portable, inovasi ini juga mencakup unit bed dryer berkapasitas besar hingga 2.000 kg per batch yang dilengkapi dengan unit dehumidifikasi menggunakan silika gel atau zeolit. Untuk meningkatkan efisiensi operasional, sistem ini disertai mekanisme hidrolik yang memudahkan proses pengeluaran gabah kering. Kehadiran fitur ini membuat proses bongkar muat menjadi lebih cepat, aman, dan hemat tenaga kerja. Inovasi teknologi tersebut merupakan hasil dari dukungan hibah program RIKUB (Riset Konsorsium Unggulan Berdampak) 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Ke depan, kehadiran pengering gabah hybrid ini diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam menghadapi anomali cuaca yang sering menjadi kendala utama petani saat musim panen tiba. Dengan hasil gabah yang lebih kering dan stabil, nilai jual di tingkat petani diharapkan meningkat seiring dengan berkurangnya susut hasil pasca-panen. Langkah ini mempertegas dedikasi UNDIP dan seluruh anggota konsorsium dalam mewujudkan ekosistem pertanian modern yang mandiri, efisien, dan berdaya saing global.
Pengembangan teknologi ini sejalan dengan komitmen UNDIP dalam mendukung program hilirisasi riset dan penguatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan hasil penelitian. Melalui inovasi ini, UNDIP berharap dapat membantu meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus mendorong kemandirian industri berbasis potensi daerah. (Komunikasi Publik/UNDIP/Dhany)








