“Dugderan” Menurut Pakar FIB UNDIP: Sinergi Ruang Kultural-Spiritual Menyambut Ramadan

UNDIP, Semarang (13/2) – Bulan Ramadan di Indonesia tidak hadir sekadar sebagi momentum religi, melainkan juga sinergi ruang kultural-spiritual melalui kearifan lokal. Salah satu tradisi yang menjadi ikon dan penanda waktu bulan Ramadan segera tiba bagi masyarakat Kota Semarang adalah Tradisi Dugderan. Kali ini kita akan mendengarkan pendapat dari Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNDIP yang juga menjadi Pakar Bahasa Politik dan Budaya.

Secara linguistik (bahasa) jika diartikan, Dugderan berasal dari onomatope (tiruan bunyi) bunyi “dug” (bedug) di masjid dan “der” (dentuman meriam). Bunyi dan kata Dugder  ini awalnya bersifat fungsional sebagai media komunikasi publik tradisional (abad ke-19) ketika masyarakat Semarang belum mengenal kalender cetak atau pengumuman secara live streaming dari pemerintah seperti saat ini. Jangankan media sosial, internet seperti sekarang ini, listrik pun belum ada kala itu. Kemudian akhiran (sufiks) an dalam kata  Dugder-an membentuk kata benda (nomina) dan merujuk pada peristiwa.

Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum, Pakar Bahasa Politik dan Budaya, FIB, UNDIP

Maka Dugderan diartikan sebagai tradisi atau peristiwa komunal masyarakat Kota Semarang sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan. Namun lebih dari itu, Dugderan dimaknai sebagai ekspresi kolektif masyarakat Kota Semarang yang mensinerginkan ruang kultural dan nilai-nilai spiritual. Dugderan memuat makna historis, simbolik, dan praktik keagamaan berbasis kebudayaan lokal.

Jika ditelisik secara historis, tradisi Dugderan dilaksanakan sejak 1881 M. Bupati Semarang Raden Mas Tumenggeng Aryo Purboningrat yang mendeklarasikan tradisi itu. Sama halnya dengan realitas saat ini yang menunjukkan perbedaan pendapat tentang awal Ramadan karena metode yang digunakan dan diyakini masing-masing.

Pada masa itu Dugderan untuk menyamakan persepsi dan penanda penentuan awal Ramadan yang ditandai bunyi Bedugdi Masjid Agung Semarang dan meriam di halaman kabupaten. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memprakarsai tradisi Dugderan dan bisa dilihat sosoknya diperankan kembali dalam prosesi atau kirab budaya Dugderan oleh Walikota Semarang. Dugderan sampai saat ini terus mengalami perkembangan.

Tradisi, Modernisasi dan Tantangan Dugderan

Modernisme seringkali dipahami sebagai ancaman terhadap nilai-nilai lokal. Modernisme diidentikkan dengan membawa arus perubahan cepat, rasionalitas, teknologi dan teknologi. Sementara tradisi sebagian diposisikan sebaga sisa masa lalu (residu) dan cenderung statis.

Padahal, dalam konteks kebudayaan Indonesia relasi keduanya tidak selalu bersifat oposisi. Melalui tiga pagelaran utama Dugderan; pasar malam/rakyat, kirab budaya (Warag Ngendok), dan ritual pengumuman awal puasa, justru menunjukkan nilai-nilai tradisional bernegosiasi, beradaptasi dan berkontribusi secara kreatif denga modernisme.

Hal ini selaras (inline) dengan pandangan Raymond Williams (materilisme budaya) bahwa budaya bukan entitas tunggal yang statis. Budaya  sebagai ruang kontestasi, negosiasi, bahkan hegemoni.  Oleh karena itu, makna budaya tidak pernah final (mapan), melainkan terus dibentuk ulang melalui pertarungan kepentingan, nilai, dan ideologi yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan dan tantanganya adalah bagaimana tradisi tersebut agar tetap hidup dan bermakna, khususnya generasi muda?

Menurut Fajrul, saat ini masyarakat dihadapkan kepada beberapa generasi dengan penyebutan macam boomers, milenial, gen z, hingga gen alpha, yang membawa corak dan karakteristik masing-masing. Menurutnya ada beberapa solusi yang telah ada perlu dievaluasi secara berkala misalnya

(1) melalui pendidikan. Apakah bahan ajar dan materi di sekolah bahkan perguruan tinggi yang terkait, mengajarkan muatan lokal di dalamnya? Apakah kemudian pemerintah atau dinas terkait (kebudayaan) memberikan dukungan untuk riset terkait. Atau sejauhmana pelibatan akademisi dan pelaku budaya dalam menyusun kebijakan dan kegiatan terkait.

(2) Libatkan generasi muda secara aktif-partisipatif. Kegiatan festival kebudayaan lokal, kompetisi-kompetisi terakit kepenulisan-video kreatif (esai, sastra, film pendek) yang memiliki nilai kearifan lokal. Anak-anak muda senang jika diberikan ruang ekspresi sekaligus apresiasi yang layak.

(3) Manfaatkan teknologi informasi. Diantara anak-anak muda “teraleniasi” dari ruang sosial secara nyata (fisik), karena sibuk dengan teknologi (gadged) masing-masing. 

Apakah fitur-fitur kebudayan termasuk Dugderan sudah mengisi ruang teknologi untuk kemudahan akses. Seberapa banyak games-games yang mengandung muatan lokal misalnya masuk dalam aplikasi. Termasuk Dugderan tetap perlu mengisi ruang-ruang digital diantaranya melalui pemberitaan dan branding untuk menarik generasi muda.

(4) Perlu dialog lintas-generasi. Dialog perlu dilakukan untuk mengevaluasi kebijakan yang telah dilakukan dan merumuskan kembali langkah strategis yang diambil, termasuk pelibatan-pelibatan generasi muda.

Jika ini dilakukan, maka Dugderan saat ini merupakan sebagian refleksi hasil diskusi lintas generasi. Pelibatan antargenerasi itu berkontribusi positif terhadap cara pandang terhadap Dugderan, yakni bagaimana menjaga kearifan lokal ini tetap eksis ditengah disruspsi dan gempuran teknologi. 

Makna Kultural-Spiritual Dugderan

Salah satu ikon Dugderan adalah binatang rekaan Warak Ngendok. Sosok Warak ini perpaduan antara kambing, naga, dan burung serta umumnya terbuat dari kayu dan kertas warna-warni. Binatang imajiner yang diarak dalam kirab budaya Dugderan ini merupakan akulturasi antara budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa, sarat simbol dan penuh makna. 

Menurut Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum, Manusia dalam konteks kebudayaan bahkan disebut sebagai  animal symbolicum yang menjadi salah satu ciri pembeda dengan makhluk lain (binatang). Kata “warak” berasal dari bahasa Arab “wara’i” yang berarti sikap hati-hati, menahan diri. Dan ngendhog (bertelur), hasil yang didapat oleh individu yang sebelumnya menahan diri (berpuasa).

“Secara singkat bisa diartikan siapa yang menahan diri (berpuasa) maka kelak akan menerima hasil (pahala). Sebagian menyebut bahwa “endhog” dalam warak tersebut sebagai simbol harapan dan keberkahan (istilah saat ini-ketahanan pangan), karena pada masa itu (awal mula Dugderan), masyarakat mengalami krisis pangan dan telur menjadi simbol makanan yang mewah kala itu” tambahnya

Lebih dari itu, Warak Ngendog-Dugderan menjadi sinergi ruang kultural-spiritual penuh makna. Bagaimana nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, menahan emosi, berpadu dengan nilai kulutural menumbuhkan empati, solidaritas, saling menghargai. Termasuk menahan diri dalam konteks kekinian, yakni bentuk kritisisme dan skeptisisme dalam membaca dan berkomentar di media (sosial).

Dugderan bahkan berkontribusi terhadap ekonomi kreatif dan menghidupkan sendi-sendi perekonomian, bazar dan UMKM tumbuh berkembang, tidak hanya menjuan jajan dan makanan secara umum tetapi memperkenalkan makanan dan  kuliner khas Semarang seperti roti gajel rel, bakpia, ketan, tempura, wingko babad, bandeng presto, lunpia, hingga tahu gimbal. 

Pada akhirnya, Dugderan tidak sekadar menjadi penanda datangnya Ramadan, melainkan refleksi masyarakat merawat identitas dan kearifan lokal di tengah arus perubahan zaman. Dan bangsa yang besar adalah memiliki identitas yang kuat. Dugderan menjadi identitas masyarakat Kota Semarang, yang mampu memperkuat solidaritas sosial, merawat memori kolektif, sehingga tercipta masyarakat yang tidak sekadar saleh secara individual-spiritual tetapi saleh secara komunal-kultural. (Komunikasi Publik/ FIB/ Fajrul. ed. Nurul)

Share this :