UNDIP, Semarang (4/3) – Saat azan Maghrib berkumandang, banyak orang langsung mencari minuman atau makanan manis untuk berbuka puasa. Tradisi ini sudah sangat melekat di masyarakat. Namun, apakah benar semua makanan manis baik untuk berbuka? Para ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) menjelaskan bahwa yang dianjurkan sebenarnya adalah manis dari sumber alami, bukan sekadar minuman atau makanan dengan kadar gula tinggi.
dr. Enny Probosari, M.Si.Med., Sp.G.K. (K), Dosen dan Dokter Spesialis Gizi Klinik FK UNDIP yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Spesialis Gizi Klinik serta Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Nasional Diponegoro, menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan sumber energi yang cepat setelah berpuasa seharian. “Yang dimaksud manis adalah glukosa alami untuk mengembalikan energi dengan cepat, seperti kurma dan buah,” jelas dr. Enny.
Kurma dan berbagai jenis buah memang menjadi pilihan yang baik untuk berbuka puasa. Selain mengandung gula alami, makanan tersebut juga kaya serat, vitamin, dan mineral yang membantu tubuh beradaptasi kembali setelah berpuasa.
Hal senada juga disampaikan oleh dr. Etisa Adi Murbawani, M.Si., Sp.GK (K), Dosen dan Dokter Spesialis Gizi Klinik FK UNDIP sekaligus Ketua Bagian Ilmu Gizi. Ia menekankan bahwa sumber gula alami jauh lebih baik dibandingkan minuman manis dengan kadar gula tinggi.
“Kurma dan buah itu mengandung serat yang banyak dan gulanya pun gula yang baik, oleh karena itu sangat disarankan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Jangan langsung dengan es teh manis atau kolak ya, karena itu gulanya tinggi sekali,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi gula yang terlalu tinggi dapat membuat kadar gula darah naik dengan cepat, namun juga turun dengan cepat. “Kalau gulanya tinggi, nanti gula darahnya akan naik cepat kemudian akan turun cepat. Nah pada saat itulah kita merasa lemas,” tambahnya.
Selain memilih jenis makanan yang tepat, cara makan saat berbuka juga penting. dr. Etisa menyarankan agar makanan dikonsumsi secara perlahan. “Konsumsilah dengan perlahan, mengunyah itu pelan-pelan. Tujuannya supaya gula darahnya tidak terlalu cepat naik dan tidak terlalu cepat turun. Akhirnya kita bisa menikmati makanan dan perut juga tidak terlalu kenyang atau penuh,” jelasnya.
Ramadan menjadi momentum untuk menjaga pola makan yang lebih baik. Dengan memahami jenis makanan yang tepat, berbuka puasa tidak hanya sekadar menghilangkan rasa lapar, tetapi juga membantu tubuh kembali berenergi secara sehat. Memilih sumber manis alami seperti kurma dan buah serta mengonsumsinya secara perlahan dapat membantu menjaga keseimbangan gula darah setelah seharian berpuasa. (Komunikasi Publik/UNDIP/Tim FK)







