UNDIP, Semarang (10/6) – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menggelar presentasi makalah ilmiah 2 (dua) calon Guru Besar UNDIP yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor Universitas Diponegoro pada Rabu, 10 Juni 2026 pukul 09.00 WIB di Ruang Sidang Senat Akademik lantai 3 Gedung SA-MWA kampus UNDIP Tembalang.
Kedua calon Guru Besar yang berkesempatan mempresentasikan makalah ilmiahnya yaitu Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol. Admin dari Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan dr. Muflihatul Muniroh, M.Si.Med., Ph.D. dari Fakultas Kedokteran
Pada presentasi makalah ilmiah yang pertama, Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol. Admin mempresentasikan makalah ilmiah dengan judul “Membangun Relational Governance Melalui Integrasi Politik dan Administasi Menuju Kesejahteraan Sosial di Indonesia”. Ia menyoroti bahwa perubahan institusional pasca-reformasi dan desentralisasi di Indonesia belum otomatis menghasilkan tata kelola yang efektif karena masih diwarnai distorsi politik lokal, politisasi birokrasi, ego sektoral, serta keterbatasan pendekatan good governance konvensional yang terlalu administratif dan kaku.
Dr. Teguh Yuwono dalam presentasinya menawarkan gagasan Relational Governance berbasis riset dua dekadenya, yaitu sebuah pendekatan baru yang menempatkan kualitas hubungan dan tingkat kepercayaan (trust) antar-aktor sebagai fondasi utama tata kelola pemerintahan yang inklusif. Agar model ini berhasil, diperlukan prasyarat utama mulai dari penguatan modal sosial, keterlibatan aktif masyarakat (people-centered development), pemanfaatan digital governance, hingga kapasitas kelembagaan yang adaptif terhadap krisis.
Dr. Teguh Yuwono menekankan bahwa integrasi politik-administrasi ini wajib bermuara pada tujuan akhir yang substantif, yaitu mewujudkan kesejahteraan sosial yang nyata melalui peningkatan kualitas hidup manusia, pengentasan kemiskinan, penurunan stunting, serta perlindungan terhadap kelompok rentan di Indonesia.
Presentasi kedua oleh dr. Muflihatul Muniroh, M.Si.Med., Ph.D. memaparkan makalah ilmiah berjudul “Pengaturan Sistem Reproduksi Pada Paparan Merkuri Prenatal Terhadap Kesehatan Ibu dan Tumbuh Kembang Anak: Pendekatan Melalui Mekanisme Inflamasi, Stres Oksidatif dan Variasi Genetik Pada Studi Invitro, Invivo, dan Manusia”. Melalui makalah ilmiahnya, dr. Muflihatul Muniroh, Ph.D. berfokus pada dampak paparan merkuri prenatal terhadap sistem reproduksi, kesehatan ibu, dan tumbuh kembang anak.
Masalah ganda malnutrisi dan stunting di Indonesia tidak hanya bersumber dari kurangnya asupan gizi, melainkan juga dipicu oleh ancaman kontaminasi logam berat, khususnya merkuri (Hg). dr. Muflihatul Muniroh, M.Si.Med., Ph.D. mengungkapkan bahwa konsumsi ikan di lingkungan tercemar melepaskan metilmerkuri (MeHg) yang dengan cepat berikatan dengan sistein di dalam tubuh. Karena strukturnya menyerupai asam amino esensial metionin, senyawa berbahaya ini dengan mudah menembus sawar darah-otak serta plasenta untuk berakumulasi pada janin. Berdasarkan uji in vitro dan in vivo, paparan merkuri dosis sub-letal terbukti memicu peningkatan sitokin inflamasi (seperti IL-6, MIP-2, IL-8) dan stres oksidatif yang mengakibatkan neuroinflamasi, penurunan sel Purkinje pada otak, hingga gejala klinis seperti ataksia.
Pada studi populasi manusia di kawasan pesisir Semarang, Jepara, dan Mamuju, dr. Muflihatul Muniroh, Ph.D. menjelaskan bahwa tingginya asupan harian merkuri (DIM) dari makanan laut ditemukan berkorelasi negatif dengan kadar hemoglobin (Hb), sehingga secara signifikan meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil. Selain itu, tingginya kadar merkuri pada rambut maternal yang disertai riwayat gangguan kardiovaskular terbukti melipatgandakan risiko hipertensi gestasional dan preeklamsia. Bagi janin dan anak, dampak toksik prenatal ini memicu berbagai komplikasi obstetri seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, gangguan antropometri berupa pengecilan lingkar kepala pada usia 18 bulan, serta peningkatan risiko stunting. Respons tubuh terhadap toksisitas ini juga sangat dipengaruhi oleh variasi genetik individu (seperti polimorfisme gen GSTT1, GSTM1, GSTP1, dan GPX1) yang mengatur efektivitas metabolisme dan ekskresi merkuri.
Dengan demikian, presentasi kedua calon Guru Besar tersebut menunjukkan kontribusi UNDIP melalui hilirisasi pemikiran dan kontribusi saintifik yang solutif serta berbasis riset mendalam. Universitas Diponegoro menegaskan peran strategisnya sebagai episentrum pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung pada akselerasi pembangunan nasional. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi panduan akademis yang implementatif bagi pembuat kebijakan di sektor pemerintahan dan kesehatan publik, demi mewujudkan visi UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat. (Komunikasi Publik/UNDIP/Riri)










