UNDIP, Semarang (7/8) – Tim mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia, Fezicrops, berhasil mengembangkan beras alternatif dari bahan tepung Mocaf (modified cassava flour) dan sagu. Inovasi ini memberi mereka Gold Medal dalam helatan World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2025 yang digelar di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia pada 29 – 31 Mei 2025.
Kompetisi WYIE 2025 merupakan ajang pameran inovasi yang digelar oleh Malaysian Invention and Design Society (MINDS). Dalam kompetisi ini, para peserta dari 15 negara saling bertukar ide dan inovasi terbaru yang mereka kembangkan. Selain itu, mereka juga bisa bertemu dengan calon investor dan mitra bisnis potensial.
Tim Fezicrops yang terdiri atas Azidane Adipramana Widyadhana, Intan Wahyu Arintika, Muhammad Sheehan Zhafir Alyasha, Rufaidah Nilam Zahra, Syalaisa Nanda Syabila, dan Talisha Bintang Amanai Syafira Effendy ini membuat beras alternatif dengan kandungan zat besi dan seng yang lebih tinggi daripada beras biasanya.
“Selain dari bahan bakunya (tepung Mocaf dan sagu), beras ini mengandung zat besi dan seng yang lebih tinggi dari beras komersil karena difortifikasi dengan senyawa FeSO4 dan ZnSO4,” ujar Azidane Adipramana Widyadhana.
Azidane menambahkan, penggunaan tepung Mocaf dan sagu sebagai bahan dasar membuat beras yang mereka kembangkan lebih kokoh, lebih cepat matang, serta lebih terjangkau dibandingkan beras komersil lainnya. Hal ini menurutnya bisa mengurangi defisiensi gizi dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras murah.
“Berdasarkan dari hasil uji, keunggulan, dan yang lainnya dari Fezicrops ini adalah berasnya tidak mudah patah dan waktu memasaknya lebih singkat daripada beras komersil lainnya,” tambahnya.
Azidane mengaku, keberhasilan tim Fezicrops dalam kompetisi ini merupakan capaian yang cukup membanggakan. Ia berharap, inovasi ini tidak hanya berhenti di kompetisi saja, tapi dapat diaplikasikan dalam masyarakat. “Semoga Fezicrops ini nantinya dapat diaplikasikan menjadi alternatif makanan pokok dan sebuah inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk terus berinovasi” (Komunikasi Publik/UNDIP/M Rusmul Khandiq)