Rektor UNDIP Bertemu Sekretaris Kabinet, Bahas Komitmen Program “Nol Sampah” (Zero Waste) Berbasis Riset

UNDIP, Semarang (13/2)  — Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., melakukan pertemuan dengan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, Teddy Indra Wijaya, pada Selasa sore, 10 Februari 2026, di Kantor Sekretariat Kabinet. Pertemuan tersebut membahas penguatan program UNDIP Zero Waste sebagai bagian dari transformasi tata kelola kampus berkelanjutan.

Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai program UNDIP yang kembali menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dengan memperkuat program nol sampah di seluruh area kampus. Salah satu kampus terbesar di Indonesia ini menerapkan sistem pengelolaan sampah inovatif yang mengolah limbah menjadi solar, sehingga limbah organik dan non-organik diubah menjadi energi yang bermanfaat.

Pada kesempatan ini, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa gerakan UNDIP Zero Waste telah dicanangkan sejak Dies Natalis ke-68 pada 17 Oktober di TPST Kampus UNDIP Tembalang sebagai komitmen jangka panjang kampus dalam membangun tata kelola lingkungan berkelanjutan. “Zero Waste di UNDIP bertujuan mengurangi sampah, memastikan pengolahan optimal, serta membangun kesadaran kolektif sivitas akademika terhadap permasalahan sampah. Dalam program ini kami juga melibatkan pakar-pakar UNDIP dalam membuat inovasi pengolahan sampah di UNDIP”, ujarnya.

Dengan program nol sampah ini, UNDIP berhasil memastikan tidak ada sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di luar kampus, sekaligus memberi contoh nyata pengelolaan lingkungan yang modern dan berkelanjutan.

Implementasi Program Zero Waste di UNDIP

Program UNDIP Zero Waste di UNDIP sendiri dilaksanakan berdasarkan Peraturan Rektor Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah dengan prinsip 5R (Refuse, Reduce, Reuse/Repair, Recycle, dan Rot). Sejak 2022, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dikembangkan sebagai pusat inovasi dan pembelajaran pengelolaan sampah berbasis sains.

Sampah organik diolah menjadi kompos, limbah ranting diproses menjadi asap cair melalui teknologi pirolisis, dan sisa makanan dikelola menggunakan maggot untuk mendukung sistem ekonomi sirkular di lingkungan kampus. Sampah anorganik diproses melalui alat pirolisis plastik hasil riset dosen UNDIP yang mampu menghasilkan bahan bakar gasolin. Selain itu, UNDIP menghadirkan vending machine plastik berbasis poin digital untuk mendorong partisipasi aktif warga kampus dalam pengurangan sampah. Teknologi pengolahan sampah ini sendiri dihasilkan oleh pada peneliti dan inovator UNDIP yang meneliti di bidang ini.

Limbah B3 juga dikelola melalui sistem penyimpanan dan transportasi sesuai standar, sehingga pengelolaan dilakukan secara aman dan bertanggung jawab. Model ini tidak hanya memperkuat kemandirian pengelolaan sampah kampus, tetapi juga menjadi rujukan bagi institusi pendidikan dan pemerintah daerah dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Melalui langkah strategis ini, UNDIP menegaskan komitmennya sebagai kampus yang unggul secara akademik sekaligus berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. (Komunikasi Publik/ UNDIP/ Nurul)

Share this :